Kalau dilihat dari kinerja terakhir, sebenarnya Mayora masih cukup solid. Penjualannya naik, produk-produknya tetap laku di pasar, baik dalam negeri maupun ekspor. Tapi masalahnya ada di margin. Harga komoditas seperti kakao, kopi, dan gula sempat melonjak tinggi dalam beberapa waktu terakhir. Nah, ini langsung “menggerus” keuntungan mereka. Jadi meskipun revenue naik, laba bersihnya justru sedikit turun dibanding tahun sebelumnya.
Ini yang bikin investor agak was-was. Bukan karena bisnisnya jelek, tapi karena faktor eksternal—khususnya harga bahan baku—yang sulit dikontrol. Di industri consumer goods seperti Mayora, hal ini memang krusial banget. Sedikit saja harga bahan naik, dampaknya bisa langsung terasa ke margin.
Di sisi lain, manajemen sebenarnya nggak tinggal diam. Mereka mencoba mengatasi tekanan ini lewat strategi penyesuaian harga jual dan efisiensi operasional. Tapi ya, ini juga nggak bisa agresif-agresif banget. Kalau harga dinaikkan terlalu tinggi, bisa berisiko ke daya beli konsumen. Jadi harus benar-benar seimbang.
Menariknya, meskipun ada tekanan ini, banyak analis masih cukup optimistis dengan prospek MYOR. Rata-rata masih kasih rekomendasi “buy” dengan target harga di kisaran Rp2.700-an. Artinya, pasar masih melihat ada potensi kenaikan, terutama kalau harga bahan baku mulai stabil atau turun.
Harapannya memang ke sana. Beberapa sinyal menunjukkan harga komoditas mulai lebih terkendali dibanding sebelumnya. Kalau tren ini berlanjut, margin Mayora bisa pelan-pelan pulih. Ditambah lagi, momen musiman seperti Ramadan dan Lebaran biasanya jadi booster buat penjualan produk makanan dan minuman—yang merupakan core business Mayora.
Di luar faktor internal, kondisi pasar juga ikut mempengaruhi. Belakangan ini, pasar saham Indonesia cukup fluktuatif karena sentimen global—mulai dari pergerakan suku bunga sampai harga komoditas dunia. Saham-saham consumer seperti MYOR biasanya cukup sensitif terhadap isu daya beli dan inflasi.
Jadi ke depan, yang perlu diperhatikan sebenarnya cukup jelas. Pertama, bagaimana perkembangan harga bahan baku, terutama kakao dan kopi. Kedua, apakah strategi pricing Mayora berhasil tanpa mengorbankan volume penjualan. Ketiga, bagaimana kondisi konsumsi masyarakat setelah periode Lebaran.
Kalau semua faktor ini bergerak ke arah yang positif, bukan nggak mungkin MYOR bisa kembali mencatat pertumbuhan laba yang lebih kuat di 2026. Tapi kalau harga bahan baku kembali naik atau daya beli melemah, tekanan terhadap margin bisa saja berlanjut.
Sumber:
Laporan keuangan dan publikasi resmi PT Mayora Indah Tbk, laporan analis dari UOB Kay Hian dan konsensus pasar (Investing.com), serta artikel riset dan berita dari Kontan dan KabarBursa.