- Pemerintah resmi memangkas komisi ojol jadi maksimal 8%, membuat GOTO harus menghitung ulang strategi bisnis ride-hailing.
- Pasar khawatir margin keuntungan GOTO tertekan, tetapi analis masih optimistis karena kekuatan ekosistem digital dan bisnis fintech perusahaan.
- Investor kini menunggu dampak aturan baru terhadap profitabilitas, tarif layanan, dan langkah efisiensi GOTO ke depan.
Potongan komisi ojek online akhirnya resmi dipangkas jadi maksimal 8%, dan keputusan ini langsung bikin pasar ramai membahas dampaknya ke PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk atau GOTO. Wajar saja, sebab bisnis ride-hailing selama ini jadi salah satu mesin utama pendapatan perusahaan. Ketika pemerintah mengubah aturan pembagian komisi menjadi 92% untuk driver dan hanya 8% untuk aplikator, otomatis model bisnis platform seperti Gojek harus dihitung ulang.
Di pasar saham, sentimen ini langsung terasa. Investor mulai mempertanyakan apakah profitabilitas GOTO yang mulai membaik sepanjang 2026 bisa tetap terjaga. Apalagi sebelumnya perusahaan baru saja menikmati momentum positif setelah berhasil mencatat laba bersih perdana dan memperlihatkan efisiensi yang mulai stabil. Tapi begitu isu pemangkasan komisi muncul, saham GOTO sempat terkena tekanan karena pasar khawatir margin bisnis transportasi online bakal menyusut lagi.
Meski begitu, manajemen GOTO mencoba menenangkan pasar. Mereka memastikan perusahaan tetap akan mengikuti regulasi pemerintah sambil menyesuaikan strategi bisnis ke depan. Fokusnya sekarang bukan hanya mengandalkan layanan ride-hailing, tetapi memperkuat ekosistem digital lain seperti fintech, pembayaran digital, logistik, dan layanan merchant. Ini penting karena bisnis teknologi saat ini memang tidak bisa hanya bergantung pada satu sumber pendapatan saja.
Menariknya, beberapa analis masih cukup optimistis terhadap prospek saham GOTO. Ada yang masih mempertahankan rating buy dengan target harga di atas level pasar saat ini. Alasannya, GOTO dianggap punya kekuatan besar dari sisi ekosistem pengguna yang luas, mulai dari transportasi, makanan, pembayaran digital, hingga layanan UMKM. Jadi walaupun komisi ojol dipangkas, perusahaan masih punya banyak ruang monetisasi lain.
Di sisi lain, kebijakan ini sebenarnya juga bisa membawa dampak positif dalam jangka panjang. Dengan penghasilan driver yang lebih besar, loyalitas mitra berpotensi meningkat dan konflik soal potongan komisi bisa mereda. Pemerintah juga terlihat ingin menjaga keseimbangan antara keberlangsungan platform digital dan kesejahteraan pengemudi yang selama ini sering menjadi isu sensitif.
Pasar sekarang tinggal menunggu bagaimana implementasi aturan ini berjalan di lapangan. Investor juga akan memantau apakah GOTO nantinya menaikkan tarif layanan, melakukan efisiensi baru, atau mempercepat ekspansi bisnis lain untuk menutup potensi penurunan pendapatan dari sektor transportasi online.
Yang jelas, perubahan aturan komisi ojol ini menjadi ujian penting bagi GOTO. Setelah bertahun-tahun fokus mengejar pertumbuhan dan akhirnya mulai masuk fase profitabilitas, kini perusahaan harus membuktikan bahwa model bisnisnya tetap kuat meski regulasi berubah cukup drastis.
Sumber:
IDX Channel
Kontan
Media Indonesia
OCBC Sekuritas Indonesia
TradingView
Warta Ekonomi