- GOTO akhirnya mencetak laba bersih Rp171 miliar di Q1 2026, menandai titik balik menuju profitabilitas setelah bertahun-tahun rugi.
- Strategi utama meliputi efisiensi biaya, optimalisasi insentif, dan monetisasi ekosistem terutama dari segmen fintech.
- Analis mulai optimistis dengan target harga hingga Rp110, namun pasar masih menunggu konsistensi laba ke depan sebagai kunci re-rating saham.
Kalau kamu sempat ngikutin saham teknologi di Bursa Efek Indonesia, kabar dari GOTO ini bisa dibilang cukup “game changer”. Setelah sekian lama identik dengan bakar uang dan rugi bertahun-tahun, akhirnya PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk berhasil mencatatkan laba bersih. Bukan cuma sekadar angka hijau biasa, tapi ini jadi sinyal kuat bahwa strategi mereka mulai masuk fase matang.
Di kuartal I-2026, GOTO berhasil membalikkan kondisi dari rugi menjadi laba sekitar Rp171 miliar. Ini bukan kejadian kebetulan. Kalau ditarik ke belakang, manajemen memang sudah cukup agresif melakukan pembenahan sejak 2023—mulai dari efisiensi biaya, pengurangan insentif yang tidak produktif, sampai fokus ke unit bisnis yang punya margin lebih sehat.
Yang menarik, pertumbuhan bisnisnya juga masih jalan. Pendapatan naik sekitar 26% secara tahunan ke kisaran Rp5,3 triliun. Artinya, ini bukan cerita “hemat-hemat doang”, tapi ada kombinasi antara growth dan efisiensi. Ini penting, karena banyak perusahaan teknologi gagal di salah satu sisi—entah tumbuh tapi rugi, atau untung tapi stagnan.
Salah satu kunci GOTO ada di monetisasi ekosistemnya. Mereka sekarang jauh lebih disiplin dalam menghasilkan uang dari layanan yang sudah ada, bukan sekadar ekspansi pengguna. Segmen fintech jadi bintang di sini, terutama lewat GoPay dan layanan pinjaman yang margin-nya lebih tebal. Di sisi lain, layanan on-demand seperti transportasi dan delivery tetap jadi tulang punggung, tapi dengan struktur biaya yang lebih ramping.
Dari perspektif pasar, perubahan ini langsung kebaca. Sentimen terhadap saham GOTO mulai membaik, apalagi setelah beberapa analis mulai pasang target harga yang lebih optimistis. Ada yang melihat potensi ke Rp110 per saham, dengan rekomendasi buy tetap dipertahankan. Ini menunjukkan bahwa pasar mulai percaya bahwa GOTO bukan cuma cerita “future potential”, tapi sudah masuk fase eksekusi nyata.
Meski begitu, belum semua risiko hilang. Investor masih akan sangat sensitif terhadap konsistensi laba ini. Satu-dua kuartal positif belum cukup untuk benar-benar mengubah persepsi jangka panjang. Selain itu, faktor eksternal seperti suku bunga global dan kondisi likuiditas juga masih bisa mempengaruhi pergerakan saham, apalagi untuk sektor teknologi yang cenderung lebih volatile.
Kalau dilihat lebih luas, pencapaian GOTO ini juga datang di momen yang cukup menarik. Pasar saham Asia relatif stabil, dan minat terhadap saham teknologi mulai pulih setelah sempat tertekan. Jadi ada kombinasi antara faktor internal perusahaan dan kondisi eksternal yang mendukung.
Ke depan, ada beberapa hal yang layak dipantau. Konsistensi laba jelas jadi yang utama. Selain itu, ekspansi bisnis fintech bisa jadi penentu arah pertumbuhan berikutnya. Kalau mereka bisa terus meningkatkan monetisasi tanpa kehilangan pengguna, ini bisa jadi sweet spot yang selama ini dicari.
Intinya, GOTO sekarang sudah masuk babak baru. Dari yang sebelumnya fokus “tumbuh dulu, untung belakangan”, sekarang mulai menunjukkan bahwa keduanya bisa jalan bareng. Tinggal dibuktikan saja, apakah ini bisa dijaga dalam jangka panjang atau hanya euforia sesaat.
Sumber:
Laporan keuangan GOTO kuartal I-2026, Reuters, Kontan, Katadata, Indo Premier Sekuritas.