- Kinerja kuartal I-2026 MORA solid, dengan laba bersih dan pendapatan yang sama-sama tumbuh, menunjukkan fundamental bisnis tetap kuat.
- Rencana merger dengan MyRepublic jadi katalis utama, berpotensi menciptakan sinergi besar di bisnis jaringan fiber dan layanan broadband.
- Analis cenderung positif namun hati-hati, dengan fokus pada keberhasilan integrasi merger sebagai penentu arah saham ke depan.
Kalau kamu lagi ngikutin saham sektor telekomunikasi di Indonesia, nama MORA alias PT Mora Telematika Indonesia Tbk belakangan ini memang lagi susah buat diabaikan. Gimana nggak, kombinasi antara aksi merger besar dan kinerja keuangan yang solid bikin prospeknya terlihat makin menarik di 2026.
Di kuartal I-2026 saja, MORA sudah nunjukin performa yang cukup meyakinkan. Laba bersihnya tumbuh sekitar 23% secara tahunan jadi kurang lebih Rp128,8 miliar, sementara pendapatan juga naik jadi sekitar Rp962 miliar. Artinya, bahkan sebelum efek merger benar-benar terasa penuh, bisnis intinya sudah cukup sehat dan berkembang. Ini biasanya jadi sinyal awal yang disukai investor, karena menunjukkan fundamentalnya memang kuat, bukan sekadar “cerita” merger saja.
Nah, yang bikin hype makin tinggi tentu saja rencana merger dengan MyRepublic Indonesia. Kalau semua berjalan sesuai rencana, penggabungan ini bakal melahirkan entitas baru yang menggabungkan kekuatan backbone milik MORA dengan jaringan last-mile FTTH dari MyRepublic. Secara sederhana, ini seperti menggabungkan “jalan tol data” dengan akses langsung ke rumah pelanggan. Kombinasi seperti ini punya potensi besar untuk meningkatkan efisiensi sekaligus memperluas jangkauan layanan internet di Indonesia.
Pasar sendiri kelihatan cukup antusias dengan cerita ini. Dalam beberapa waktu terakhir, saham MORA sempat melonjak sangat signifikan sejak kabar merger mencuat. Lonjakan ini mencerminkan ekspektasi tinggi investor terhadap sinergi yang bisa tercipta, mulai dari peningkatan jumlah pelanggan, peluang cross-selling, sampai efisiensi biaya operasional.
Meski begitu, bukan berarti semuanya tanpa risiko. Biasanya, proses merger itu nggak selalu mulus. Ada potensi tantangan seperti biaya integrasi yang besar, penyesuaian operasional, sampai kemungkinan gangguan sementara pada kinerja. Ditambah lagi, industri internet service provider (ISP) di Indonesia sekarang makin kompetitif, jadi MORA tetap harus pintar menjaga keunggulan.
Dari sisi analis, pandangannya cenderung positif tapi tetap hati-hati. Beberapa mulai memberikan rekomendasi buy atau speculative buy, dengan catatan bahwa keberhasilan integrasi bisnis bakal jadi faktor kunci. Kalau merger ini berhasil dieksekusi dengan baik, potensi pertumbuhan MORA ke depan bisa cukup signifikan, terutama dari sisi ekspansi jaringan dan peningkatan pendapatan per pelanggan.
Selain faktor internal, kondisi pasar juga ikut berpengaruh. Pergerakan IHSG yang masih fluktuatif dan tekanan eksternal seperti nilai tukar rupiah bisa jadi sentimen tambahan yang mempengaruhi harga saham, termasuk MORA. Jadi, investor tetap perlu melihat gambaran besar, bukan hanya cerita perusahaannya saja.
Ke depan, ada beberapa hal yang layak dipantau. Mulai dari realisasi merger itu sendiri, laporan keuangan berikutnya yang bakal mencerminkan dampak awal integrasi, sampai strategi ekspansi jaringan fiber mereka. Kalau semua katalis ini berjalan positif, bukan nggak mungkin MORA bisa jadi salah satu pemain yang makin dominan di sektor infrastruktur digital Indonesia.
Sumber:
Kontan Insight, Indo Premier Sekuritas (riset & berita pasar), Investing.com Indonesia, Ajaib (analisis saham & market insight), serta keterbukaan informasi dan laporan kinerja PT Mora Telematika Indonesia Tbk.