- Kredit AMAR tumbuh 30,62% yoy pada kuartal I-2026, ditopang ekspansi pembiayaan digital dan UMKM.
- Meski membaik, rasio loan to deposit ratio (LDR) AMAR masih tinggi di level 142,56% sehingga likuiditas tetap jadi perhatian investor.
- Pasar kini menunggu kemampuan AMAR menjaga kualitas kredit, meningkatkan dana pihak ketiga, dan memperbaiki profitabilitas bank digitalnya.
PT Bank Amar Indonesia Tbk (AMAR) kembali menarik perhatian investor setelah merilis kinerja kuartal I-2026 yang menunjukkan pertumbuhan kredit sangat agresif. Di tengah kondisi industri perbankan yang masih menghadapi tantangan likuiditas dan kompetisi ketat antar bank digital, AMAR justru berhasil mencatatkan pertumbuhan kredit sebesar 30,62% secara tahunan.
Angka ini tentu bukan pertumbuhan biasa. Ketika banyak bank mulai lebih hati-hati menyalurkan kredit akibat ketidakpastian ekonomi global dan tingginya biaya dana, Amar Bank malah terus ekspansif. Total kredit yang disalurkan perseroan kini mencapai sekitar Rp4,16 triliun.
Pertumbuhan kredit yang tinggi ini ikut mendorong kenaikan pendapatan bunga bersih alias net interest income (NII). Laba bersih perusahaan juga masih tumbuh positif menjadi sekitar Rp71 miliar pada kuartal pertama tahun ini. Buat investor saham bank digital, angka ini cukup penting karena menunjukkan AMAR masih mampu menjaga profitabilitas di tengah fase ekspansi.
Tapi seperti biasa, pasar tidak hanya melihat pertumbuhan. Ada satu angka yang langsung jadi perhatian analis dan investor, yaitu loan to deposit ratio (LDR).
LDR AMAR masih berada di level 142,56%. Artinya, kredit yang disalurkan bank masih jauh lebih besar dibanding dana pihak ketiga (DPK) yang berhasil dihimpun. Secara sederhana, bank masih sangat agresif memutar dana untuk pembiayaan.
Memang, dibanding tahun sebelumnya posisi ini sebenarnya sudah jauh membaik. Dulu LDR AMAR bahkan sempat berada di atas 200%. Jadi penurunannya cukup signifikan. Namun tetap saja, level di atas 100% biasanya membuat investor lebih berhati-hati karena berkaitan dengan risiko likuiditas.
Di sisi lain, manajemen Amar Bank cukup percaya diri kondisi likuiditas mulai lebih sehat. DPK perseroan tercatat melonjak lebih dari 115% secara tahunan. Ini menunjukkan basis nasabah dan penghimpunan dana mulai berkembang lebih cepat seiring pertumbuhan layanan digital mereka.
Yang juga cukup menarik, kualitas aset AMAR justru membaik saat kredit tumbuh tinggi. Rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) gross turun menjadi hanya 0,86%. Ini angka yang relatif rendah untuk bank dengan pertumbuhan agresif.
Pasar melihat strategi underwriting berbasis teknologi dan artificial intelligence yang dipakai Amar Bank mulai menunjukkan hasil. Dengan model digital dan analisis data yang lebih dalam, bank bisa lebih selektif menentukan profil nasabah yang layak mendapat pembiayaan.
Meski begitu, investor masih menunggu apakah pertumbuhan ini benar-benar bisa berkelanjutan dalam jangka panjang. Industri bank digital Indonesia saat ini semakin kompetitif. Banyak pemain mulai fokus mengejar profitabilitas dan efisiensi setelah sebelumnya terlalu agresif membakar modal demi ekspansi pengguna.
Pergerakan saham-saham teknologi dan bank digital di Bursa Efek Indonesia sendiri belakangan cukup fluktuatif. Sentimen global soal suku bunga The Fed, arus modal asing, dan kondisi likuiditas domestik masih sangat mempengaruhi sektor ini.
Untuk AMAR, katalis berikutnya yang akan dipantau pasar kemungkinan adalah kemampuan perusahaan terus menurunkan LDR, menjaga kualitas kredit tetap rendah, serta mempertahankan pertumbuhan dana pihak ketiga. Investor juga akan melihat apakah strategi digital dan pemanfaatan AI benar-benar mampu menjadi pembeda dibanding bank digital lainnya.
Kalau perseroan berhasil menjaga keseimbangan antara pertumbuhan dan kesehatan likuiditas, bukan tidak mungkin AMAR kembali menjadi salah satu saham bank digital yang menarik diperhatikan pasar tahun ini.
Sumber:
Laporan keuangan PT Bank Amar Indonesia Tbk kuartal I-2026
Infobanknews
Kontan
Indo Premier Sekuritas
Infobrand