- Rumor divestasi saham BFIN ramai di pasar, tetapi manajemen menegaskan tidak ada informasi material terkait aktivitas pemegang saham.
- Sentimen positif tetap muncul setelah BFIN membagikan dividen Rp1 triliun dan menjalankan buyback saham Rp100 miliar.
- Investor kini menunggu katalis berikutnya seperti pembayaran dividen, kinerja semester I 2026, dan kepastian arah rumor divestasi.
Saham PT BFI Finance Indonesia Tbk (BFIN) lagi jadi bahan obrolan di pasar modal. Penyebabnya bukan karena laporan keuangan atau aksi korporasi resmi, melainkan rumor soal potensi divestasi saham oleh pemegang saham besar perseroan. Rumor ini langsung bikin investor dan trader ramai berspekulasi, apalagi saham BFIN sebelumnya juga sempat bergerak cukup agresif di pasar.
Di tengah kabar yang beredar, manajemen BFI Finance akhirnya buka suara. Dalam keterbukaan informasi kepada Bursa Efek Indonesia (BEI), perusahaan menegaskan bahwa mereka tidak mengetahui adanya aktivitas pemegang saham yang bersifat material ataupun informasi penting lain yang perlu diumumkan ke publik. Dengan kata lain, sampai sekarang belum ada konfirmasi resmi terkait isu divestasi tersebut.
Meski begitu, rumor ini tetap menarik perhatian pasar. BFIN memang termasuk salah satu saham multifinance yang cukup diperhatikan investor karena fundamentalnya relatif stabil. Perusahaan punya bisnis pembiayaan kendaraan, alat berat, hingga pembiayaan produktif yang selama ini jadi penopang kinerja mereka.
Yang menarik, di saat rumor divestasi ramai beredar, Direktur Utama BFIN Sutadi justru tercatat membeli saham perseroan. Buat sebagian investor, aksi insider buying seperti ini sering dianggap sebagai sinyal bahwa manajemen masih percaya terhadap prospek perusahaan ke depan.
Sebelumnya, saham BFIN juga sempat melonjak cukup tajam. Dalam beberapa hari perdagangan pada April 2026, harga sahamnya naik sekitar 17%. Kenaikan cepat itu bahkan membuat BEI meminta klarifikasi resmi dari perusahaan. Namun jawaban manajemen saat itu juga kurang lebih sama: tidak ada informasi material baru yang bisa menjelaskan lonjakan harga saham.
Di luar rumor yang berkembang, sebenarnya BFI Finance masih punya sentimen positif dari sisi shareholder return. Perusahaan baru saja mengumumkan pembagian dividen sekitar Rp1 triliun atau Rp35 per saham dari laba tahun buku 2025. Jadwal pembayaran dividen direncanakan berlangsung pada Juni 2026.
Selain rajin bagi dividen, BFIN sebelumnya juga menjalankan program buyback saham senilai Rp100 miliar. Buyback ini dilakukan saat kondisi pasar sedang fluktuatif dan biasanya dipandang sebagai bentuk kepercayaan perusahaan terhadap valuasi saham mereka sendiri.
Perseroan juga sedang menyiapkan program MESOP atau pembagian saham untuk manajemen dan karyawan dengan memanfaatkan saham treasury. Langkah ini umumnya dilakukan perusahaan untuk meningkatkan loyalitas sekaligus menyelaraskan kepentingan manajemen dengan pemegang saham.
Kalau melihat sentimen analis, sebagian besar masih menganggap rumor divestasi ini lebih banyak didorong spekulasi pasar ketimbang fakta konkret. Sampai ada pengumuman resmi, investor kemungkinan masih akan bersikap wait and see.
Di sisi lain, kondisi pasar global juga ikut mempengaruhi pergerakan saham multifinance. IHSG belakangan bergerak cukup volatile karena investor asing masih selektif masuk ke pasar Indonesia, sementara pelaku pasar juga terus memantau arah suku bunga global dan kondisi ekonomi regional.
Ke depan, trader dan investor kemungkinan akan fokus pada beberapa katalis penting BFIN. Mulai dari realisasi pembayaran dividen, perkembangan program MESOP, kinerja semester pertama 2026, hingga tentu saja apakah rumor divestasi ini benar-benar akan terbukti atau hanya sekadar spekulasi pasar sesaat.
Sumber: Keterbukaan informasi BEI, Kontan, Bareksa, FAC Sekuritas, BCA Sekuritas, Pasardana.