- RAJA mengakuisisi 5% saham PT Layar Nusantara Gas senilai sekitar Rp670 miliar untuk memperkuat bisnis LNG dan infrastruktur gas nasional.
- Langkah ini dinilai strategis karena membuka peluang ekspansi ke proyek FLNG dan mendukung pengembangan proyek gas terintegrasi Blok Kasuri.
- Investor kini menunggu katalis berikutnya seperti finalisasi akuisisi, progres proyek LNG, serta dampaknya terhadap pertumbuhan pendapatan RAJA ke depan.
Kalau selama ini PT Rukun Raharja Tbk (RAJA) dikenal sebagai salah satu pemain infrastruktur gas nasional, kini langkah mereka mulai terlihat makin serius untuk naik kelas di bisnis LNG. Baru-baru ini, RAJA resmi mengumumkan rencana akuisisi 5% saham PT Layar Nusantara Gas (LNG), sebuah langkah yang langsung menarik perhatian pasar karena dinilai bisa memperkuat posisi perseroan di rantai bisnis gas alam cair Indonesia.
Nilai transaksinya juga tidak kecil. RAJA disebut menyiapkan dana sekitar US$38,575 juta atau setara kurang lebih Rp670 miliar untuk mengakuisisi saham tersebut dari Genting LNG Pte. Ltd. Menariknya lagi, perusahaan bahkan sudah membayarkan deposit transaksi pada 8 Mei 2026. Ini menunjukkan bahwa ekspansi tersebut bukan sekadar wacana, melainkan sudah masuk tahap realisasi.
Kenapa pasar cukup tertarik dengan langkah ini? Jawabannya ada pada potensi bisnis LNG itu sendiri. Saat dunia mulai bergerak menuju transisi energi, gas alam dianggap sebagai energi “jembatan” sebelum energi terbarukan benar-benar dominan. Nah, Indonesia sendiri punya potensi besar di sektor gas, termasuk pengembangan proyek Floating Liquefied Natural Gas (FLNG) atau kilang LNG terapung yang saat ini mulai banyak dilirik investor energi.
PT Layar Nusantara Gas diketahui terlibat dalam pengembangan proyek FLNG dan infrastruktur midstream gas. Artinya, lewat akuisisi ini RAJA bukan cuma membeli saham biasa, tetapi juga membuka akses terhadap proyek energi jangka panjang yang potensial menghasilkan recurring income lebih stabil.
Pasar juga mengaitkan langkah ini dengan strategi besar RAJA dan anak usahanya, Raharja Energi Cepu (RATU), dalam proyek Blok Kasuri di Papua Barat. Proyek tersebut cukup penting karena menjadi salah satu proyek gas terintegrasi yang dikembangkan bersama Genting Group. Jadi, akuisisi saham LNG ini bisa dibilang bagian dari puzzle besar pengembangan bisnis gas RAJA ke depan.
Meski begitu, respons pasar masih cukup hati-hati. Kondisi IHSG belakangan memang sedang fluktuatif akibat tekanan global, mulai dari kekhawatiran suku bunga Amerika Serikat sampai aksi profit taking investor asing. Saham-saham sektor energi juga bergerak campuran mengikuti sentimen harga komoditas dan arah pasar global.
Namun untuk RAJA, banyak pelaku pasar melihat prospeknya masih cukup menarik. Apalagi bisnis gas cenderung dianggap lebih defensif dibanding sektor energi berbasis komoditas lain yang sangat sensitif terhadap siklus harga. Selain itu, jika proyek LNG dan FLNG yang sedang dikembangkan benar-benar berjalan lancar, kontribusi pendapatan RAJA beberapa tahun ke depan bisa jauh lebih besar dibanding saat ini.
Di sisi lain, investor tetap akan mencermati beberapa risiko penting. Salah satunya adalah kebutuhan belanja modal yang besar untuk proyek infrastruktur energi. Pasar juga akan melihat bagaimana strategi pendanaan perusahaan agar ekspansi agresif ini tidak terlalu membebani neraca keuangan.
Sekarang perhatian trader mulai tertuju pada tahapan selanjutnya. Mulai dari finalisasi akuisisi, perkembangan proyek FLNG, persetujuan regulator seperti SKK Migas, hingga potensi monetisasi proyek Blok Kasuri bakal jadi katalis penting buat saham RAJA dalam beberapa kuartal ke depan.
Kalau semua berjalan sesuai rencana, bukan tidak mungkin RAJA akan semakin diperhitungkan sebagai salah satu pemain utama di bisnis infrastruktur gas dan LNG nasional.
Sumber: Keterbukaan Informasi BEI, Kontan, IPOT News, Investor Daily, Detik Finance.