- EXCL mulai menunjukkan tanda pemulihan seiring beban biaya integrasi merger XL Axiata dan Smartfren perlahan menurun.
- Analis masih optimistis terhadap prospek EXCL karena potensi sinergi jaringan, efisiensi operasional, dan ekspansi layanan 5G.
- Investor kini menunggu katalis berikutnya berupa stabilisasi pelanggan, kenaikan ARPU, dan realisasi efisiensi hingga akhir 2026.
Merger besar di industri telekomunikasi Indonesia memang selalu menarik buat diikuti. Apalagi kalau yang bergabung adalah dua pemain besar seperti XL Axiata dan Smartfren. Setelah resmi merger dan berubah menjadi XLSmart Telecom Sejahtera dengan kode saham EXCL, banyak investor awalnya berharap proses ini langsung bikin perusahaan makin kuat dan sahamnya melesat. Tapi kenyataannya, perjalanan pemulihan EXCL ternyata masih butuh waktu.
Sepanjang 2025 sampai awal 2026, EXCL masih harus menanggung berbagai biaya integrasi merger. Mulai dari penyatuan jaringan, penyesuaian operasional, restrukturisasi organisasi, sampai harmonisasi sistem pelanggan. Beban-beban ini bikin laba perusahaan sempat tertekan cukup dalam walaupun secara pendapatan sebenarnya bisnis mereka tetap tumbuh.
Ini sebenarnya kondisi yang cukup normal buat perusahaan hasil merger besar. Di awal memang berat karena perusahaan harus “berbenah rumah” dulu sebelum akhirnya bisa menikmati hasil sinerginya. Nah, sekarang pasar mulai melihat tanda-tanda kalau fase terberat itu perlahan mulai lewat.
Beberapa analis mulai lebih optimistis terhadap prospek EXCL hingga akhir 2026. Salah satu alasannya karena biaya integrasi diperkirakan mulai turun secara bertahap. Selain itu, perusahaan juga mulai menikmati keuntungan dari skala bisnis yang jauh lebih besar dibanding sebelum merger.
Sekarang EXCL punya basis pelanggan yang jauh lebih besar, spektrum frekuensi lebih kuat, dan cakupan jaringan yang makin luas. Kombinasi ini bikin posisi mereka di industri telekomunikasi nasional jadi lebih kompetitif, terutama menghadapi persaingan ketat dengan Telkomsel dan Indosat.
BCA Sekuritas bahkan masih mempertahankan rekomendasi buy untuk saham EXCL dengan target harga sekitar Rp3.300 per saham. Mereka melihat potensi sinergi merger masih sangat besar dalam beberapa tahun ke depan. Efisiensi biaya jaringan dan optimalisasi spektrum dianggap bisa menjadi mesin pertumbuhan baru perusahaan.
Meski begitu, pasar tetap belum sepenuhnya tenang. Salah satu yang sempat bikin investor khawatir adalah penurunan jumlah pelanggan setelah merger. Tapi banyak analis menilai itu lebih karena proses pembersihan data dan konsolidasi sistem, bukan karena pelanggan benar-benar kabur besar-besaran.
Di tengah situasi pasar saham yang juga lagi cukup fluktuatif akibat sentimen global dan pelemahan rupiah, saham sektor telekomunikasi seperti EXCL justru dianggap relatif defensif. Konsumsi data masyarakat masih terus naik, kebutuhan internet makin besar, dan layanan digital semakin penting dalam kehidupan sehari-hari.
Karena itu, fokus investor sekarang bukan lagi soal “apakah merger ini berhasil atau tidak”, tapi lebih ke seberapa cepat EXCL bisa mengubah merger besar ini menjadi pertumbuhan laba yang nyata.
Pasar akan terus memantau beberapa hal penting sampai akhir tahun nanti. Mulai dari perkembangan integrasi jaringan, pertumbuhan pelanggan, kenaikan ARPU, ekspansi layanan 5G, sampai kemampuan perusahaan menekan biaya operasional setelah merger selesai sepenuhnya.
Kalau semua proses itu berjalan lancar, bukan tidak mungkin EXCL mulai masuk fase pemulihan yang lebih solid pada semester II 2026. Dan di situlah pasar biasanya mulai kembali melirik sahamnya lebih serius.
Sumber:
BCA Sekuritas
KONTAN
Investortrust
Keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia