- Mega Perintis (ZONE) mulai lebih selektif membuka gerai baru dan mengalihkan fokus ke penguatan penjualan online.
- Strategi efisiensi dilakukan lewat konsep toko gabungan serta penggunaan bahan baku lokal untuk menjaga margin laba.
- Investor kini menyoroti pertumbuhan kanal digital, kinerja laba 2026, dan efektivitas strategi omnichannel perseroan.
PT Mega Perintis Tbk (ZONE) tampaknya mulai mengubah strategi bisnisnya di tengah perubahan tren belanja masyarakat. Kalau sebelumnya emiten ritel fashion ini cukup agresif membuka gerai baru, kini manajemen memilih langkah yang lebih hati-hati alias selektif dalam ekspansi toko fisik.
Perusahaan yang menaungi brand seperti Manzone dan Minimal ini melihat pola konsumsi masyarakat mulai berubah. Belanja online makin dominan, sementara biaya operasional toko offline juga terus naik. Karena itu, sebagian anggaran belanja modal yang sebelumnya fokus untuk pembukaan gerai baru kini mulai diarahkan ke penguatan kanal digital dan online sales.
Manajemen ZONE menyebut pembukaan toko baru tetap berjalan, tetapi mereka akan lebih ketat memilih lokasi yang benar-benar potensial menghasilkan penjualan tinggi. Jadi bukan lagi sekadar mengejar jumlah gerai, melainkan lebih fokus pada kualitas lokasi dan produktivitas toko.
Strategi ini sebenarnya cukup masuk akal. Industri ritel fashion sekarang memang sedang menghadapi tantangan besar. Konsumen makin nyaman belanja lewat marketplace dan aplikasi online, sementara persaingan antar brand juga makin ketat. Kalau salah ekspansi, biaya sewa dan operasional toko bisa langsung menekan margin keuntungan.
Menariknya lagi, ZONE juga mulai mengembangkan konsep toko gabungan untuk beberapa brand mereka. Jadi dalam satu lokasi, konsumen bisa menemukan produk Manzone dan Minimal sekaligus. Cara ini dianggap lebih efisien karena perusahaan bisa menekan biaya operasional sambil tetap menjaga exposure brand di pusat perbelanjaan.
Selain soal ekspansi, perusahaan juga mulai fokus menjaga efisiensi. Salah satunya lewat optimalisasi penggunaan bahan baku lokal agar ketergantungan terhadap impor bisa dikurangi. Langkah ini penting, apalagi nilai tukar rupiah masih cukup fluktuatif dan bisa mempengaruhi biaya produksi produk fashion.
Di sisi lain, pasar saham sendiri masih cukup berhati-hati melihat saham-saham sektor ritel. Investor sekarang bukan cuma melihat pertumbuhan penjualan, tapi juga kemampuan perusahaan menjaga margin laba dan adaptasi terhadap era digital. Saham ZONE pun bergerak cukup fluktuatif mengikuti sentimen sektor konsumsi dan kondisi IHSG secara keseluruhan.
Meski belum banyak pembaruan target harga terbaru dari analis untuk saham ZONE, pelaku pasar mulai memperhatikan bagaimana strategi omnichannel perusahaan bisa berdampak ke kinerja ke depan. Kalau penjualan online berhasil tumbuh signifikan, bukan tidak mungkin margin perusahaan bisa ikut membaik karena biaya operasional lebih efisien dibanding ekspansi toko fisik besar-besaran.
Ke depan, investor kemungkinan akan fokus melihat laporan kinerja semester pertama 2026, perkembangan kontribusi penjualan online, serta seberapa efektif strategi efisiensi yang dijalankan manajemen. Selain itu, realisasi pembukaan gerai baru dan performa konsumsi masyarakat domestik juga masih akan jadi faktor penting untuk menentukan arah saham ZONE berikutnya.
Sumber:
Kontan, Mega Perintis Investor Relations, IDN Financials.