- OASA membentuk joint venture dengan China Tianying untuk menggarap proyek PSEL Tangsel senilai Rp 2,6 triliun dengan kapasitas olah sampah 1.100 ton per hari.
- Proyek waste-to-energy ini dinilai punya prospek besar setelah pemerintah memperkuat dukungan regulasi energi hijau lewat Perpres Nomor 109 Tahun 2025.
- Investor kini menunggu perkembangan pendanaan, groundbreaking proyek, dan peluang OASA mendapatkan proyek PSEL baru di kota lain.
Saham PT Maharaksa Biru Energi Tbk atau OASA belakangan mulai ramai diperbincangkan pelaku pasar. Bukan tanpa alasan, emiten yang bergerak di sektor energi hijau ini sedang agresif mengembangkan bisnis pengolahan sampah menjadi energi listrik atau waste-to-energy. Proyek terbarunya bahkan punya nilai jumbo mencapai Rp 2,6 triliun dan berlokasi di Tangerang Selatan.
Lewat anak usahanya, PT Indoplas Energy Hijau, OASA resmi membentuk perusahaan patungan bersama China Tianying Inc., perusahaan teknologi pengolahan sampah asal China yang cukup besar di sektor ini. Nama joint venture tersebut adalah PT Indoplas Tianying Energy dan nantinya bakal menjadi pengelola proyek Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL) Cipeucang, Tangsel.
Proyek ini bukan proyek kecil. Kapasitas pengolahan sampahnya diperkirakan mencapai 1.100 ton per hari dengan teknologi incinerator modern Moving Grate Incinerator (MGI). Dari sampah tersebut nantinya bisa dihasilkan listrik sekitar 23,5 MW. Kalau proyek ini berjalan mulus, OASA berpotensi punya sumber pendapatan jangka panjang yang cukup stabil karena skemanya BOT atau build-operate-transfer selama 30 tahun.
Yang menarik, momentum proyek ini datang ketika pemerintah juga sedang serius mendorong pengembangan waste-to-energy di Indonesia. Setelah terbitnya Perpres Nomor 109 Tahun 2025, proyek PSEL dinilai menjadi lebih menarik secara bisnis karena ada dukungan tarif listrik, skema pembelian listrik PLN, dan kepastian regulasi yang lebih jelas dibanding beberapa tahun lalu.
Tidak heran kalau pasar mulai melirik OASA sebagai salah satu emiten energi hijau yang punya cerita pertumbuhan menarik. Bahkan dalam beberapa laporan pasar disebutkan saham OASA sempat melesat cukup tinggi sepanjang tahun ini karena sentimen proyek hijau dan ekspansi bisnisnya.
Meski begitu, investor juga tetap harus sadar kalau bisnis seperti ini membutuhkan modal besar. Nilai investasi proyek waste-to-energy memang tidak murah. OASA diperkirakan masih membutuhkan pendanaan tambahan untuk mempercepat ekspansi proyek-proyek berikutnya. Artinya, peluang aksi korporasi seperti rights issue, private placement, atau tambahan utang masih cukup terbuka ke depan.
Di sisi lain, tren energi hijau memang sedang jadi perhatian global. Ketika sektor komoditas mulai fluktuatif dan IHSG bergerak cukup volatile akibat tekanan asing, saham-saham bertema renewable energy mulai kembali masuk radar investor yang mencari cerita pertumbuhan jangka panjang.
Selain OASA, nama BIPI juga ikut terseret dalam ekosistem proyek ini. Astrindo Nusantara Infrastruktur disebut menjadi bagian dari pengembangan kerja sama waste-to-energy bersama China Tianying. Hal ini membuat sebagian investor mulai menghubungkan potensi pertumbuhan kedua emiten tersebut dalam sektor energi berbasis lingkungan.
Namun tetap saja, saham seperti OASA punya karakter high risk high return. Pergerakannya bisa sangat cepat, baik naik maupun turun. Jadi investor tetap perlu memperhatikan progres proyek di lapangan, kepastian pendanaan, financial closing, hingga realisasi pembangunan fisik proyek PSEL Tangsel.
Ke depan, pasar kemungkinan akan fokus memantau kapan groundbreaking proyek dimulai, bagaimana perkembangan kerja sama dengan PLN, dan apakah OASA bisa mendapatkan proyek PSEL tambahan dari pemerintah daerah lainnya. Kalau semua berjalan sesuai rencana, bukan tidak mungkin OASA bisa berubah dari saham yang dulu kurang diperhatikan menjadi salah satu pemain penting di sektor energi hijau Indonesia.
Sumber: Kontan, Investor.id, IDX Channel, Investortrust, keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI).