- BFIN menunjuk Djemi Suhenda dan Abdul Haris Muhammad Rum sebagai komisaris baru untuk memperkuat transformasi digital dan tata kelola perusahaan.
- Perseroan juga membagikan dividen jumbo Rp70 per saham, tetapi saham BFIN tetap bergerak fluktuatif di tengah sentimen suku bunga tinggi.
- Investor kini menunggu dampak perubahan manajemen terhadap strategi bisnis, kualitas pembiayaan, dan pertumbuhan kinerja BFIN di semester II-2026.
Ada yang menarik dari pergerakan PT BFI Finance Indonesia Tbk (BFIN) pekan ini. Di tengah kondisi pasar yang masih cukup fluktuatif, perusahaan multifinance ini justru membuat langkah strategis dengan menunjuk dua nama baru ke jajaran komisaris. Bukan nama sembarangan, karena yang masuk adalah Djemi Suhenda dan Abdul Haris Muhammad Rum.
Buat investor, perubahan susunan komisaris memang kadang terdengar “formalitas”. Tapi di pasar modal, masuknya figur tertentu sering dianggap sebagai sinyal arah baru perusahaan. Apalagi kalau yang datang punya pengalaman besar di dunia perbankan, teknologi finansial, sampai hukum korporasi.
Djemi Suhenda sendiri dikenal sebagai mantan petinggi Bank BTPN yang sekarang menjadi Bank SMBC Indonesia. Ia juga terlibat dalam pengembangan startup teknologi finansial DKATALIS. Artinya, pasar mulai membaca bahwa BFIN mungkin sedang serius memperkuat transformasi digital mereka.
Masuk akal juga sih. Industri multifinance sekarang sudah jauh berbeda dibanding beberapa tahun lalu. Persaingan makin ketat, konsumen makin digital, sementara biaya dana dan tekanan bunga masih tinggi. Jadi perusahaan pembiayaan tidak cukup hanya mengandalkan model bisnis lama.
Sementara itu, Abdul Haris Muhammad Rum dikenal sebagai sosok berpengalaman di bidang hukum korporasi dan tata kelola perusahaan. Kehadirannya bisa jadi memperkuat sisi compliance dan governance BFIN, terutama di tengah pengawasan industri keuangan yang makin ketat.
Menariknya, kabar perubahan komisaris ini datang bersamaan dengan pembagian dividen jumbo BFIN. Perusahaan membagikan total dividen sekitar Rp1,03 triliun atau Rp70 per saham untuk tahun buku 2025. Buat investor pemburu dividen, angka ini jelas cukup menarik karena BFIN memang dikenal rajin membagikan laba ke pemegang saham.
Tapi pasar tetap pasar. Meski ada sentimen positif dari dividen dan perubahan manajemen, saham BFIN sempat bergerak turun setelah pengumuman RUPS. Kemungkinan besar investor sedang melakukan profit taking, apalagi sektor multifinance memang lagi cukup sensitif terhadap isu suku bunga dan perlambatan konsumsi.
Di sisi lain, fundamental BFIN sebenarnya masih cukup stabil. Pertumbuhan pembiayaan baru mereka masih naik sepanjang 2025, sementara kualitas aset relatif terjaga dibanding beberapa pemain lain di industri pembiayaan.
Yang sekarang mulai diperhatikan investor adalah langkah selanjutnya. Apakah masuknya Djemi Suhenda akan benar-benar mempercepat digitalisasi BFIN? Apakah perusahaan bisa menjaga profitabilitas kalau suku bunga tetap tinggi? Dan apakah sektor pembiayaan kendaraan masih bisa tumbuh kuat di semester kedua tahun ini?
Pertanyaan-pertanyaan itu yang sekarang jadi bahan diskusi pasar.
Kalau melihat tren industri, perusahaan multifinance yang bisa menekan risiko kredit sambil tetap efisien secara digital kemungkinan akan lebih unggul dalam beberapa tahun ke depan. Dan tampaknya BFIN ingin masuk ke jalur itu.
Untuk jangka pendek, investor juga masih akan memantau pembayaran dividen final pada Juni nanti, perkembangan pembiayaan baru kuartal berikutnya, sampai arah kebijakan Bank Indonesia soal suku bunga. Karena seperti biasa, sektor multifinance sangat sensitif terhadap biaya dana dan daya beli masyarakat.
Jadi walaupun perubahan komisaris terlihat seperti agenda rutin perusahaan publik, pasar tampaknya membaca langkah BFIN kali ini sebagai sesuatu yang lebih strategis dari sekadar pergantian nama di struktur organisasi.
Sumber:
IDN Financials
Keterbukaan Informasi Bursa Efek Indonesia
Laporan RUPS BFI Finance 2026
Babel Insight