- BHIT milik Hary Tanoe menjual 306 juta saham IATA dan meraup dana sekitar Rp22,9 miliar sebagai bagian dari strategi perusahaan.
- Saham IATA masih tertekan akibat pelemahan sektor batu bara dan kinerja kuartal I-2026 yang belum solid.
- Investor kini menunggu realisasi rights issue, perkembangan bisnis batu bara, dan potensi masuknya investor strategis baru ke IATA.
Pergerakan saham PT MNC Energy Investments Tbk (IATA) kembali jadi sorotan pasar setelah emiten milik grup Hary Tanoesoedibjo ini diumumkan mengalami aksi penjualan saham oleh pemegang saham utamanya, PT MNC Asia Holding Tbk (BHIT). Di tengah kondisi saham batu bara yang masih fluktuatif dan sentimen pasar yang belum stabil, BHIT tercatat melepas sekitar 306 juta saham IATA dengan nilai transaksi mencapai Rp22,9 miliar. Langkah ini langsung memancing perhatian investor karena dilakukan saat harga saham IATA masih berada dalam tekanan cukup dalam sepanjang tahun 2026.
Berdasarkan keterbukaan informasi ke Bursa Efek Indonesia dan OJK, transaksi dilakukan dalam dua tahap pada 12 dan 13 Mei 2026. Sebagian besar saham dijual di harga Rp75 per saham, sementara sisanya dilepas di harga Rp74. Setelah transaksi selesai, kepemilikan BHIT di IATA turun menjadi sekitar 8,93%. Meski secara resmi disebut sebagai bagian dari “rencana strategis perseroan”, pasar tetap membaca aksi ini sebagai sinyal penting terkait arah bisnis grup MNC di sektor energi.
Kalau melihat ke belakang, ini sebenarnya bukan pertama kalinya BHIT mengurangi kepemilikan di IATA. Pada akhir 2025 lalu, grup MNC juga sempat melepas lebih dari 1,6 miliar saham IATA untuk kebutuhan pengembangan usaha dan kerja sama strategis. Artinya, ada indikasi bahwa grup sedang melakukan penataan ulang portofolio bisnis energi mereka, terutama di tengah kondisi industri batu bara yang sedang tidak mudah.
Saham IATA sendiri memang lagi berat. Sepanjang tahun berjalan, harga sahamnya sudah turun lebih dari 50%. Pada perdagangan terbaru, saham ini bahkan sempat melemah lagi ke area Rp65 per saham. Tekanan datang dari banyak arah, mulai dari penurunan harga batu bara global, perlambatan permintaan dari China, sampai kondisi keuangan perusahaan yang belum terlalu solid di kuartal pertama 2026.
Laporan keuangan terbaru menunjukkan pendapatan IATA turun dibanding tahun sebelumnya. Laba bersih perusahaan juga masih tipis. Buat investor, kombinasi kinerja yang melemah ditambah aksi jual pemegang saham besar biasanya jadi sentimen yang kurang nyaman. Tidak heran kalau pasar langsung bereaksi cukup negatif.
Meski begitu, bukan berarti prospek IATA langsung habis. Perseroan sebelumnya masih cukup agresif mencari pendanaan untuk ekspansi bisnis. Salah satu langkah besarnya adalah rights issue senilai Rp1,27 triliun yang sudah mendapat restu regulator. Dana tersebut rencananya dipakai untuk memperkuat modal kerja dan pengembangan bisnis perdagangan batu bara. Kalau strategi ini berjalan lancar, bukan tidak mungkin IATA bisa kembali menarik perhatian investor, terutama jika harga batu bara global mulai stabil.
Di sisi lain, kondisi pasar saham Indonesia juga sedang cukup dinamis. IHSG bergerak fluktuatif karena investor global masih menunggu arah suku bunga Amerika Serikat dan perkembangan ekonomi China. Saham-saham energi dan komoditas jadi salah satu sektor yang paling sensitif terhadap perubahan sentimen tersebut. Jadi, apa yang terjadi di IATA sebenarnya juga bagian dari gambaran besar kondisi sektor energi saat ini.
Ke depan, investor kemungkinan bakal fokus ke beberapa hal penting. Mulai dari realisasi penggunaan dana rights issue, perkembangan proyek batu bara perseroan, sampai kemungkinan masuknya investor strategis baru setelah BHIT mengurangi kepemilikan. Selain itu, arah harga batu bara dunia pada semester kedua 2026 juga bakal sangat menentukan nasib saham-saham sektor energi, termasuk IATA.
Sumber: keterbukaan informasi BEI dan OJK, IDNFinancials, SWA, Lotus Sekuritas.