Skip to content
  • Hubungi Kami
  • Tentang Kami

Bursa Terkini

Kabar Bursa Saham Terkini

  • Home
  • Berita Emiten
  • Toggle search form

PT MNC Asia Holding Tbk Lepas Saham PT MNC Energy Investments Tbk (IATA) , Raup Dana Rp22,9 Miliar di Tengah Tekanan Saham Batu Bara

Posted on May 21, 2026 By V. Theresia No Comments on PT MNC Asia Holding Tbk Lepas Saham PT MNC Energy Investments Tbk (IATA) , Raup Dana Rp22,9 Miliar di Tengah Tekanan Saham Batu Bara
  • BHIT milik Hary Tanoe menjual 306 juta saham IATA dan meraup dana sekitar Rp22,9 miliar sebagai bagian dari strategi perusahaan.
  • Saham IATA masih tertekan akibat pelemahan sektor batu bara dan kinerja kuartal I-2026 yang belum solid.
  • Investor kini menunggu realisasi rights issue, perkembangan bisnis batu bara, dan potensi masuknya investor strategis baru ke IATA.

Pergerakan saham PT MNC Energy Investments Tbk (IATA) kembali jadi sorotan pasar setelah emiten milik grup Hary Tanoesoedibjo ini diumumkan mengalami aksi penjualan saham oleh pemegang saham utamanya, PT MNC Asia Holding Tbk (BHIT). Di tengah kondisi saham batu bara yang masih fluktuatif dan sentimen pasar yang belum stabil, BHIT tercatat melepas sekitar 306 juta saham IATA dengan nilai transaksi mencapai Rp22,9 miliar. Langkah ini langsung memancing perhatian investor karena dilakukan saat harga saham IATA masih berada dalam tekanan cukup dalam sepanjang tahun 2026.

Berdasarkan keterbukaan informasi ke Bursa Efek Indonesia dan OJK, transaksi dilakukan dalam dua tahap pada 12 dan 13 Mei 2026. Sebagian besar saham dijual di harga Rp75 per saham, sementara sisanya dilepas di harga Rp74. Setelah transaksi selesai, kepemilikan BHIT di IATA turun menjadi sekitar 8,93%. Meski secara resmi disebut sebagai bagian dari “rencana strategis perseroan”, pasar tetap membaca aksi ini sebagai sinyal penting terkait arah bisnis grup MNC di sektor energi.

Kalau melihat ke belakang, ini sebenarnya bukan pertama kalinya BHIT mengurangi kepemilikan di IATA. Pada akhir 2025 lalu, grup MNC juga sempat melepas lebih dari 1,6 miliar saham IATA untuk kebutuhan pengembangan usaha dan kerja sama strategis. Artinya, ada indikasi bahwa grup sedang melakukan penataan ulang portofolio bisnis energi mereka, terutama di tengah kondisi industri batu bara yang sedang tidak mudah.

Saham IATA sendiri memang lagi berat. Sepanjang tahun berjalan, harga sahamnya sudah turun lebih dari 50%. Pada perdagangan terbaru, saham ini bahkan sempat melemah lagi ke area Rp65 per saham. Tekanan datang dari banyak arah, mulai dari penurunan harga batu bara global, perlambatan permintaan dari China, sampai kondisi keuangan perusahaan yang belum terlalu solid di kuartal pertama 2026.

Laporan keuangan terbaru menunjukkan pendapatan IATA turun dibanding tahun sebelumnya. Laba bersih perusahaan juga masih tipis. Buat investor, kombinasi kinerja yang melemah ditambah aksi jual pemegang saham besar biasanya jadi sentimen yang kurang nyaman. Tidak heran kalau pasar langsung bereaksi cukup negatif.

Meski begitu, bukan berarti prospek IATA langsung habis. Perseroan sebelumnya masih cukup agresif mencari pendanaan untuk ekspansi bisnis. Salah satu langkah besarnya adalah rights issue senilai Rp1,27 triliun yang sudah mendapat restu regulator. Dana tersebut rencananya dipakai untuk memperkuat modal kerja dan pengembangan bisnis perdagangan batu bara. Kalau strategi ini berjalan lancar, bukan tidak mungkin IATA bisa kembali menarik perhatian investor, terutama jika harga batu bara global mulai stabil.

Di sisi lain, kondisi pasar saham Indonesia juga sedang cukup dinamis. IHSG bergerak fluktuatif karena investor global masih menunggu arah suku bunga Amerika Serikat dan perkembangan ekonomi China. Saham-saham energi dan komoditas jadi salah satu sektor yang paling sensitif terhadap perubahan sentimen tersebut. Jadi, apa yang terjadi di IATA sebenarnya juga bagian dari gambaran besar kondisi sektor energi saat ini.

Ke depan, investor kemungkinan bakal fokus ke beberapa hal penting. Mulai dari realisasi penggunaan dana rights issue, perkembangan proyek batu bara perseroan, sampai kemungkinan masuknya investor strategis baru setelah BHIT mengurangi kepemilikan. Selain itu, arah harga batu bara dunia pada semester kedua 2026 juga bakal sangat menentukan nasib saham-saham sektor energi, termasuk IATA.

Sumber: keterbukaan informasi BEI dan OJK, IDNFinancials, SWA, Lotus Sekuritas.

Berita Emiten, IDX:IATA

Post navigation

Previous Post: BFIN Tambah Dua Komisaris Baru, Pasar Mulai Tebak Arah Baru Perseroan
Next Post: Harimas Tunggal Perkasa Naikkan Kepemilikan di IMPC, Pasar Mulai Berspekulasi

Related Posts

Pendapatan Naik, GoTo Pangkas Rugi Bersih 77% di Tengah Transformasi Bisnis Digital Berita Emiten
ARCI Lagi On Fire, Dari Tambang Emas ke Lonjakan Profit 8 Kali Lipat Berita Emiten
MEJA Siapkan Rights Issue untuk Danai Ekspansi Batubara, Transformasi ke Holding Energi Kian Nyata Berita Emiten
Pajak Naik Tajam, Laba Jasa Marga (JSMR) Turun 19% di 2025, Masih Layak Koleksi? Berita Emiten
GMFI Mau Hapus Defisit US$513 Juta, Tanda Emiten MRO Garuda Mulai Bangkit? Berita Emiten
Efek Mudik Melemah, Saham JSMR Tertekan Sentimen Suku Bunga Berita Emiten

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright © 2026 Bursa Terkini.

Add as a preferred source on Google
Add as preferred source on Google

Powered by
►
Necessary cookies enable essential site features like secure log-ins and consent preference adjustments. They do not store personal data.
None
►
Functional cookies support features like content sharing on social media, collecting feedback, and enabling third-party tools.
None
►
Analytical cookies track visitor interactions, providing insights on metrics like visitor count, bounce rate, and traffic sources.
None
►
Advertisement cookies deliver personalized ads based on your previous visits and analyze the effectiveness of ad campaigns.
None
►
Unclassified cookies are cookies that we are in the process of classifying, together with the providers of individual cookies.
None
Powered by