- TBIG mencatat laba bersih 2025 tumbuh sekitar 4–5% meski pendapatan cenderung stagnan, ditopang efisiensi operasional.
- Konsolidasi industri telekomunikasi menekan pertumbuhan penyewaan menara, sehingga ekspansi bisnis jadi lebih terbatas.
- Analis masih netral (hold), pasar menunggu katalis baru seperti pertumbuhan data, ekspansi infrastruktur, dan strategi pengelolaan utang.
Kalau ngomongin saham menara telekomunikasi di Indonesia, nama PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG) hampir selalu masuk radar investor. Di tahun 2025 ini, kinerja TBIG bisa dibilang cukup “tenang tapi tetap tumbuh”. Nggak spektakuler, tapi solid—dan di kondisi industri yang lagi banyak perubahan, itu justru menarik.
Berdasarkan laporan keuangan resmi yang dirilis perusahaan, TBIG berhasil mencatatkan laba bersih sekitar Rp1,43 triliun di 2025. Angka ini naik sekitar 4–5% dibanding tahun sebelumnya. Pertumbuhannya memang nggak besar, tapi yang perlu dicatat adalah: ini terjadi di tengah tekanan industri dan pertumbuhan pendapatan yang cenderung datar.
Pendapatan TBIG sendiri hanya naik tipis ke kisaran Rp6,9 triliun. Artinya, kenaikan laba lebih banyak ditopang oleh efisiensi operasional. Ini menunjukkan bahwa model bisnis TBIG—yang berbasis penyewaan menara dengan kontrak jangka panjang—masih sangat defensif. Dalam bahasa simpel: walaupun kondisi industri lagi nggak ideal, “uang sewa” tetap jalan.
Salah satu indikator penting di bisnis menara adalah tenancy ratio, alias berapa banyak penyewa dalam satu menara. TBIG masih cukup kuat di sini, dengan rasio sekitar 1,7x. Ini berarti satu menara rata-rata disewa lebih dari satu operator, yang bikin profitabilitas lebih efisien.
Tapi bukan berarti tanpa tantangan. Industri telekomunikasi Indonesia lagi mengalami konsolidasi besar, termasuk merger operator yang bikin beberapa kontrak sewa menara nggak diperpanjang. Ini jadi salah satu alasan kenapa pertumbuhan pendapatan TBIG melambat. Jadi walaupun bisnisnya stabil, ruang ekspansi ke depan jadi lebih terbatas.
Dari sisi pasar saham, pergerakan TBIG juga cukup dipengaruhi kondisi global, terutama soal suku bunga. Saham seperti TBIG biasanya sensitif terhadap kenaikan bunga karena punya utang yang cukup besar dan karakteristiknya mirip aset yield. Jadi ketika suku bunga tinggi, investor cenderung lebih hati-hati.
Soal pandangan analis, mayoritas masih ada di posisi “hold”. Target harga rata-rata ada di kisaran Rp1.900-an, yang berarti masih ada potensi kenaikan, tapi nggak terlalu agresif. Investor sepertinya masih menunggu kejelasan arah pertumbuhan berikutnya.
Nah, ke depan ada beberapa hal yang bakal jadi perhatian pasar. Pertama, apakah kebutuhan data yang terus naik bisa mendorong permintaan menara baru. Kedua, dampak lanjutan dari konsolidasi operator—apakah akan makin banyak kontrak yang hilang atau justru stabil. Ketiga, bagaimana strategi TBIG dalam mengelola utang dan mencari sumber pertumbuhan baru, misalnya dari fiber optic atau infrastruktur digital lain.
Kesimpulannya, TBIG saat ini ada di fase “stabil tapi menunggu momentum”. Buat investor yang suka saham defensif dengan arus kas relatif pasti, TBIG masih menarik. Tapi buat yang cari growth cepat, mungkin masih perlu sabar nunggu katalis berikutnya.
Sumber:
Laporan keuangan resmi PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (2025), publikasi perusahaan di situs resmi Tower Bersama, riset analis dan data konsensus pasar dari Investing.com, serta pemberitaan industri dari Kontan Insight dan Indo Premier.