- Saham SSIA menguat dalam perdagangan 21 Mei 2026 setelah perusahaan berhasil balik untung pada kuartal I-2026.
- Kawasan industri Subang Smartpolitan jadi fokus utama investor karena dinilai berpotensi menarik investasi manufaktur dan kendaraan listrik.
- Analis masih cukup positif terhadap SSIA dengan target harga di atas level saat ini, sambil menunggu katalis tenant baru dan penjualan lahan industri.

Pergerakan saham PT Surya Semesta Internusa Tbk atau SSIA lagi jadi perhatian investor di perdagangan Bursa Efek Indonesia hari Kamis, 21 Mei 2026. Sampai sesi perdagangan siang berlangsung, saham SSIA masih bergerak positif dan sempat naik sekitar 1,4% ke area Rp1.800 per saham. Walaupun pasar belum tutup, sentimen terhadap emiten properti dan kawasan industri ini terlihat mulai membaik setelah laporan keuangan kuartal pertama 2026 menunjukkan hasil yang jauh lebih solid dibanding tahun lalu.
Yang bikin pasar cukup optimistis adalah keberhasilan SSIA membalikkan kondisi rugi menjadi laba. Pada kuartal I-2026, perusahaan berhasil mencatat laba bersih sekitar Rp89 miliar setelah tahun sebelumnya masih rugi. Pendapatan perusahaan juga naik cukup signifikan menjadi Rp1,44 triliun. Kenaikan ini datang dari beberapa lini bisnis sekaligus, mulai dari konstruksi, hotel, sampai kawasan industri. Buat investor, ini jadi sinyal kalau fase tekanan yang sempat dialami SSIA perlahan mulai lewat.
Fokus utama pasar sekarang tetap ada di kawasan industri Subang Smartpolitan. Kawasan ini dianggap punya prospek besar karena lokasinya strategis dan berpotensi menjadi pusat manufaktur baru, terutama untuk industri kendaraan listrik dan rantai pasok otomotif. Dalam beberapa tahun terakhir, investor asing memang terus mencari lokasi industri baru di Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Nah, SSIA dinilai punya peluang besar menikmati tren tersebut lewat pengembangan kawasan industrinya di Subang.
Makanya, walaupun pergerakan IHSG hari ini cenderung mixed dan investor masih berhati-hati terhadap kondisi global, saham SSIA tetap mampu menarik perhatian. Banyak pelaku pasar mulai melihat saham kawasan industri sebagai salah satu sektor yang bisa diuntungkan dari arus investasi manufaktur dan hilirisasi industri nasional.
Dari sisi analis, pandangan terhadap SSIA juga masih cukup positif. Beberapa sekuritas masih mempertahankan rekomendasi buy dengan target harga yang jauh di atas posisi sekarang. Ada yang memasang target di kisaran Rp2.200 per saham, bahkan ada juga yang optimistis SSIA bisa menuju Rp3.000 jika penjualan lahan industri terus meningkat. Meski begitu, ada juga analis yang memilih lebih konservatif karena mempertimbangkan kondisi ekonomi global dan tantangan suku bunga yang masih tinggi.
Selain kinerja keuangan, investor sekarang juga menunggu perkembangan tenant baru di kawasan Subang Smartpolitan. Pasar berharap ada tambahan perusahaan otomotif, baterai, atau manufaktur besar yang masuk ke kawasan tersebut dalam waktu dekat. Kalau itu terjadi, sentimen terhadap saham SSIA bisa semakin positif karena artinya recurring income dan penjualan lahan punya potensi tumbuh lebih cepat.
Di sisi lain, bisnis hotel milik SSIA juga mulai menunjukkan pemulihan seiring meningkatnya aktivitas bisnis dan perjalanan domestik. Walaupun kontribusinya belum sebesar kawasan industri, perbaikan okupansi hotel tetap membantu memperkuat kinerja perusahaan secara keseluruhan.
Untuk sementara, pelaku pasar tampaknya masih akan terus memantau arah pergerakan saham SSIA sampai penutupan perdagangan hari ini. Selain itu, laporan keuangan semester pertama 2026 dan update marketing sales kemungkinan bakal jadi katalis penting berikutnya untuk menentukan apakah momentum penguatan saham ini bisa berlanjut atau tidak.
Sumber: Bareksa, Investing Indonesia, Maybank Sekuritas Indonesia, laporan keuangan PT Surya Semesta Internusa Tbk, dan berbagai riset analis pasar modal.