Kalau ditarik lebih dalam, total pendapatan Jasa Marga sepanjang 2025 memang turun menjadi sekitar Rp29,89 triliun dari Rp31,75 triliun pada 2024. Penurunan ini sebagian besar disebabkan oleh merosotnya pendapatan konstruksi. Namun yang paling mencolok adalah lonjakan beban pajak penghasilan yang melonjak drastis menjadi sekitar Rp1,54 triliun, dari hanya sekitar Rp157,7 miliar pada tahun sebelumnya. Kenaikan pajak inilah yang secara signifikan “menggerus” laba bersih, meskipun EBITDA dan pendapatan tol masih menunjukkan daya tahan.
Artinya, secara bisnis inti—yakni pengelolaan jalan tol—Jasa Marga sebenarnya masih mampu menghasilkan arus kas yang stabil. Segmen tol tetap menjadi kontributor utama pendapatan, didukung volume lalu lintas dan penyesuaian tarif di sejumlah ruas. Namun ketika beban pajak naik tajam, hasil akhirnya tetap terasa di laba bersih.
Dari sisi pasar saham, sentimen terhadap JSMR sempat tertekan, apalagi di tengah volatilitas Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang bergerak fluktuatif mengikuti sentimen global dan arus dana asing. Sektor infrastruktur sendiri cenderung bergerak hati-hati, seiring investor lebih selektif memilih emiten dengan pertumbuhan laba yang konsisten.
Meski begitu, pandangan analis terhadap JSMR belum sepenuhnya suram. Sejumlah riset masih mempertahankan rekomendasi beli, dengan asumsi bahwa tekanan laba 2025 lebih bersifat temporer akibat faktor pajak dan bukan karena penurunan fundamental bisnis tol. Salah satu laporan riset dari CLSA Sekuritas Indonesia bahkan menempatkan target harga di kisaran Rp5.100 per saham, mencerminkan potensi kenaikan yang cukup menarik dibanding level perdagangan terakhir. Konsensus analis di berbagai platform keuangan internasional juga menunjukkan rata-rata target harga di atas harga pasar saat ini, dengan estimasi tertinggi menyentuh Rp6.200.
Ke depan, investor kemungkinan akan fokus pada beberapa hal penting. Pertama, bagaimana strategi manajemen mengelola struktur pajak dan efisiensi biaya agar tekanan serupa tidak kembali berulang. Kedua, perkembangan proyek ruas tol baru dan potensi divestasi atau kerja sama strategis yang bisa memperkuat neraca. Ketiga, performa kuartal I-2026 yang akan menjadi indikator awal apakah penurunan laba 2025 hanya anomali satu tahun atau awal dari tren baru.
Dengan karakter bisnis yang defensif dan berbasis aset jangka panjang, Jasa Marga tetap berada di radar investor yang mencari eksposur sektor infrastruktur. Tantangannya kini adalah membuktikan bahwa penurunan laba 2025 hanyalah fase penyesuaian, bukan sinyal pelemahan struktural.
Sumber: Laporan keuangan tahunan 2025 PT Jasa Marga Tbk, keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia, laporan riset CLSA Sekuritas Indonesia, serta data konsensus analis dari Investing.com.