- PT Harimas Tunggal Perkasa kembali menambah kepemilikan saham IMPC menjadi 35,75% setelah membeli 5,63 juta saham pada 19–21 Mei 2026.
- Aksi akumulasi dari pemegang saham utama dinilai sebagai sinyal kepercayaan terhadap prospek bisnis IMPC di tengah pasar saham yang masih fluktuatif.
- Investor kini menunggu katalis berikutnya, mulai dari kinerja semester I/2026, stabilisasi harga bahan baku, hingga potensi lanjutan aksi beli saham oleh pengendali.
Belakangan ini saham-saham sektor bahan bangunan memang lagi tidak terlalu ramai dibicarakan dibanding sektor teknologi atau perbankan. Tapi justru di tengah kondisi pasar yang agak naik-turun seperti sekarang, ada satu aksi korporasi yang cukup menarik perhatian pelaku pasar, yaitu langkah PT Harimas Tunggal Perkasa yang kembali menambah kepemilikan saham di PT Impack Pratama Industri Tbk (IMPC).
Kalau dilihat sekilas, kenaikannya memang kecil. Tapi di pasar modal, aksi beli yang dilakukan pemegang saham pengendali sering kali punya arti lebih besar dibanding angka persentasenya sendiri. Dalam keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia, Harimas Tunggal Perkasa membeli sekitar 5,63 juta saham IMPC dalam periode 19–21 Mei 2026. Setelah transaksi itu selesai, kepemilikan mereka naik menjadi 35,75%.
Yang menarik, ini bukan pertama kalinya mereka menambah porsi kepemilikan tahun ini. Sebelumnya pada Februari lalu, Harimas juga sempat memborong puluhan juta saham IMPC. Artinya, ada pola akumulasi yang cukup konsisten sepanjang 2026.
Buat investor, aksi seperti ini biasanya langsung diterjemahkan sebagai sinyal kepercayaan dari internal perusahaan terhadap prospek bisnis ke depan. Logikanya sederhana: kalau pihak yang paling tahu kondisi perusahaan justru terus membeli sahamnya sendiri, berarti mereka melihat valuasinya masih menarik atau ada potensi pertumbuhan yang belum sepenuhnya dihargai pasar.
IMPC sendiri bukan nama baru di industri bahan bangunan Indonesia. Perusahaan ini dikenal lewat berbagai produk berbasis plastik dan polycarbonate untuk kebutuhan konstruksi, atap, interior, sampai material industri. Bisnis mereka cukup unik karena bermain di segmen yang relatif defensif. Saat pasar properti melambat sekalipun, kebutuhan renovasi rumah dan pembangunan skala menengah biasanya tetap berjalan.
Selain itu, IMPC juga selama beberapa tahun terakhir cukup agresif melakukan diversifikasi produk dan memperluas pasar ekspor. Ini yang membuat sejumlah analis masih mempertahankan pandangan positif terhadap sahamnya meskipun sektor properti sedang belum terlalu kuat.
Sentimen pasar memang masih cukup campur aduk saat ini. IHSG bergerak fluktuatif karena investor global masih menunggu arah suku bunga Amerika Serikat dan perkembangan ekonomi dunia. Dana asing juga masih keluar masuk pasar Indonesia dengan ritme yang cepat. Di tengah kondisi seperti itu, saham-saham second liner seperti IMPC jadi lebih sensitif terhadap sentimen.
Namun justru di fase seperti ini biasanya aksi insider buying mulai diperhatikan pasar. Karena ketika banyak investor ragu, pemegang saham utama malah terlihat percaya diri menambah posisi.
Dari sisi fundamental, investor juga masih menunggu beberapa katalis penting untuk IMPC tahun ini. Mulai dari laporan kinerja semester pertama 2026, perkembangan ekspansi regional, hingga stabilisasi harga bahan baku resin yang selama ini cukup mempengaruhi margin perusahaan. Kalau harga bahan baku bisa lebih stabil dan permintaan konstruksi mulai pulih, margin laba IMPC berpotensi ikut membaik.
Selain itu, pasar juga akan melihat apakah Harimas Tunggal Perkasa masih akan melanjutkan aksi akumulasi sahamnya dalam beberapa bulan ke depan. Kalau iya, sentimen positif terhadap saham IMPC kemungkinan bisa semakin kuat.
Pada akhirnya, langkah Harimas ini mungkin terlihat sederhana di atas kertas. Tapi di pasar saham, aksi kecil dari pemegang saham pengendali sering kali menjadi petunjuk awal tentang bagaimana mereka melihat masa depan perusahaan sendiri.
Sumber:
Keterbukaan Informasi Bursa Efek Indonesia (BEI)
Pasardana.id
Laporan dan profil perusahaan PT Impack Pratama Industri Tbk
Data perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI)