- COCO berencana mengakuisisi produsen Momogi untuk memperluas bisnis ke sektor FMCG dan pasar regional Asia Tenggara.
- Akuisisi ini dinilai bisa memperkuat distribusi, meningkatkan sinergi bisnis, dan membuka peluang ekspansi ke Vietnam.
- Investor kini menunggu detail pendanaan, persetujuan regulator, dan dampak akuisisi terhadap kinerja keuangan COCO ke depan.
Saham PT Wahana Interfood Nusantara Tbk (COCO) lagi jadi perhatian pasar setelah perusahaan mengumumkan rencana akuisisi terhadap PT Sari Murni Abadi, produsen snack legendaris Momogi. Buat investor maupun pelaku pasar modal, kabar ini cukup menarik karena menandakan COCO mulai bergerak lebih agresif keluar dari bisnis inti kakao dan makanan berbasis cokelat menuju industri FMCG yang pasarnya jauh lebih besar dan kompetitif.
Kalau selama ini nama COCO identik dengan produk cokelat dan bahan baku makanan lewat Win&Co Group, sekarang arah bisnisnya mulai berubah. Lewat penandatanganan Conditional Share Purchase Agreement (CSPA) pada 6 Mei 2026, COCO berencana mengambil alih hampir seluruh saham PT Sari Murni Abadi. Artinya, kalau transaksi ini berjalan mulus, Momogi bakal resmi masuk ke dalam ekosistem bisnis COCO.
Banyak pelaku pasar melihat langkah ini bukan sekadar akuisisi biasa. Momogi punya posisi yang cukup kuat di pasar makanan ringan Indonesia. Produk mereka sudah lama dikenal masyarakat dan distribusinya juga luas. Menariknya lagi, jaringan bisnis Momogi ternyata sudah terhubung ke pasar Vietnam lewat Bibica Corporation. Jadi buat COCO, akuisisi ini bisa jadi jalan pintas buat memperbesar pasar regional tanpa harus membangun semuanya dari nol.
Dari sisi strategi bisnis, langkah ini sebenarnya cukup masuk akal. Industri FMCG punya demand yang relatif stabil karena konsumsi masyarakat terus berjalan. Di tengah kondisi ekonomi global yang masih penuh ketidakpastian, emiten dengan exposure konsumsi domestik biasanya lebih menarik buat investor. Apalagi Indonesia dan Vietnam sama-sama punya populasi besar dengan pertumbuhan kelas menengah yang terus meningkat.
Manajemen Win&Co sendiri bilang kalau akuisisi ini merupakan bagian dari strategi jangka panjang perusahaan untuk memperkuat pertumbuhan usaha. Selain memperluas pasar, mereka juga membidik efisiensi operasional mulai dari pengadaan bahan baku sampai distribusi produk. Kalau sinerginya berhasil, bukan tidak mungkin margin bisnis COCO bisa ikut terdongkrak dalam beberapa tahun ke depan.
Pasar saham juga langsung merespons kabar ini dengan cukup positif. Dalam beberapa sesi terakhir, sektor consumer goods memang sedang mendapat perhatian investor seiring penguatan IHSG. Sentimen ekspansi bisnis dan aksi korporasi masih jadi tema yang cukup disukai pasar, terutama untuk emiten yang dianggap punya potensi pertumbuhan baru.
Meski begitu, investor masih menunggu detail lebih lanjut soal transaksi ini. Salah satu yang paling jadi perhatian adalah soal skema pendanaan akuisisi. Pasar ingin tahu apakah COCO bakal memakai kas internal, pinjaman, atau bahkan membuka peluang rights issue baru. Ini penting karena struktur pembiayaan bakal memengaruhi kesehatan neraca perusahaan ke depan.
Selain itu, analis juga mulai memperhatikan bagaimana dampak integrasi Momogi terhadap kinerja keuangan COCO nanti. Kalau proses konsolidasi berjalan lancar, pendapatan perusahaan berpotensi naik cukup signifikan. Tapi seperti biasa, akuisisi besar juga punya tantangan tersendiri, terutama soal integrasi operasional dan efisiensi bisnis pasca-merger.
Yang jelas, langkah COCO ini menunjukkan bahwa persaingan industri makanan dan consumer goods di Indonesia makin menarik. Emiten yang dulu fokus di niche market sekarang mulai berani ekspansi ke pasar yang lebih luas demi mengejar pertumbuhan jangka panjang.
Ke depan, pasar bakal mencermati beberapa hal penting mulai dari finalisasi transaksi, persetujuan regulator, detail valuasi akuisisi, sampai potensi dampaknya terhadap laba perusahaan dalam beberapa kuartal mendatang. Kalau semua berjalan sesuai rencana, COCO bisa saja berubah dari sekadar emiten cokelat menjadi pemain FMCG regional yang jauh lebih besar.
Sumber: CNBC Indonesia, Investor.id, Kontan, Warta Ekonomi, keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI).