- MDLA resmi membagikan dividen tunai Rp176,56 miliar atau sekitar Rp12,6 per saham dengan payout ratio naik menjadi 45%.
- Kinerja bisnis masih solid ditopang pertumbuhan penjualan farmasi dan alat kesehatan sepanjang kuartal I 2026.
- Investor kini menanti strategi ekspansi manajemen baru serta potensi pertumbuhan laba MDLA di semester II 2026.
Di tengah kondisi pasar yang masih naik turun dan investor mulai selektif memilih saham, kabar dari PT Medela Potentia Tbk (MDLA) cukup menarik perhatian. Emiten sektor kesehatan ini resmi membagikan dividen tunai sebesar Rp176,56 miliar dari laba tahun buku 2025. Nilainya memang tidak kecil, bahkan jadi salah satu pembagian dividen yang cukup menarik di sektor healthcare tahun ini.
Keputusan tersebut disahkan dalam RUPST yang digelar pada Mei 2026. Jika dihitung, investor akan menerima sekitar Rp12,6 per saham. Yang menarik, payout ratio MDLA juga naik menjadi 45% dari laba bersih. Artinya, perusahaan makin royal membagikan keuntungan kepada pemegang saham.
Di tengah pasar yang belakangan cukup volatile, saham dengan karakter “dividend play” memang mulai kembali dilirik. Banyak investor sekarang mencari emiten yang punya cash flow stabil dan rutin membagikan dividen, terutama ketika sektor-sektor cyclical seperti komoditas atau teknologi mulai bergerak tidak menentu. Nah, MDLA tampaknya mulai masuk radar kategori tersebut.
Kalau melihat kinerja bisnisnya, sebenarnya langkah MDLA membagi dividen besar bukan tanpa alasan. Sepanjang kuartal I 2026, perusahaan mencatat penjualan neto lebih dari Rp4 triliun. Laba bersihnya juga masih tumbuh dibanding tahun sebelumnya. Ini menunjukkan bisnis distribusi kesehatan mereka masih cukup kuat meskipun rupiah sempat melemah dan biaya impor alat kesehatan mulai naik.
Bisnis farmasi masih jadi tulang punggung utama perusahaan. Selain itu, lini alat kesehatan dan produk kesehatan lainnya juga terus bertumbuh. Kombinasi bisnis seperti ini biasanya membuat emiten healthcare lebih tahan banting saat kondisi ekonomi belum sepenuhnya stabil.
Namun bukan cuma soal dividen yang jadi perhatian pasar. Ada perubahan penting di jajaran manajemen MDLA. Dalam RUPS yang sama, perusahaan menunjuk Juliwaty sebagai Direktur Utama baru menggantikan Krestijanto Pandji. Pergantian pimpinan ini cukup menarik karena Juliwaty dikenal punya pengalaman panjang di industri distribusi kesehatan nasional.
Pasar sekarang mulai berspekulasi arah MDLA ke depan. Ada kemungkinan perusahaan bakal lebih agresif memperkuat jaringan distribusi, memperluas kerja sama dengan prinsipal global, atau bahkan masuk lebih dalam ke bisnis alat kesehatan bernilai tambah tinggi. Apalagi sektor healthcare Indonesia masih punya ruang pertumbuhan besar, terutama setelah tren peningkatan kebutuhan layanan kesehatan beberapa tahun terakhir.
Dari sisi saham, coverage analis terhadap MDLA memang belum sebanyak emiten healthcare besar lain. Tapi justru itu yang kadang membuat investor mulai penasaran. Emiten dengan pertumbuhan stabil dan dividen konsisten biasanya perlahan mulai dilirik institusi ketika pasar mencari aset defensif.
Untuk jangka pendek, pelaku pasar sekarang menunggu beberapa katalis berikutnya. Mulai dari jadwal cum dividen, realisasi ekspansi bisnis baru, perkembangan kerja sama strategis, sampai laporan kinerja semester I 2026. Kalau pertumbuhan laba masih konsisten, bukan tidak mungkin MDLA bakal makin sering masuk watchlist investor healthcare tahun ini.
Sumber: Antara News, Kontan, IDX, Investing Indonesia, hasil RUPST PT Medela Potentia Tbk 2026.