- Saham ESSA naik 2,42% ke Rp845 pada perdagangan 8 Mei 2026 didorong sentimen positif harga amonia dan prospek energi hijau.
- Indo Premier menaikkan target harga ESSA menjadi Rp1.200 dengan rekomendasi buy karena proyeksi laba dinilai semakin kuat.
- Investor kini menunggu perkembangan proyek blue ammonia, SAF, dan laporan keuangan berikutnya sebagai katalis utama saham ESSA.

Saham ESSA kembali jadi perhatian pelaku pasar setelah bergerak menguat di tengah kondisi IHSG yang masih cukup fluktuatif. Pada perdagangan Jumat, 8 Mei 2026, saham PT ESSA Industries Indonesia Tbk ditutup naik sekitar 2,4% ke level Rp845 per saham. Kenaikan ini bukan datang tanpa alasan. Pasar mulai melihat adanya kombinasi menarik antara perbaikan fundamental perusahaan, kenaikan harga amonia global, sampai prospek bisnis energi hijau yang makin relevan dalam beberapa tahun ke depan.
Kalau melihat pergerakannya beberapa bulan terakhir, ESSA sebenarnya sempat bergerak cukup berat ketika sektor energi dan kimia mengalami tekanan akibat ketidakpastian ekonomi global. Namun belakangan sentimen mulai berubah. Investor mulai masuk lagi setelah sejumlah analis memperkirakan laba perusahaan bisa tumbuh lebih baik pada 2026 dan 2027.
Salah satu yang cukup menarik perhatian datang dari revisi target harga oleh Indo Premier Sekuritas. Dalam riset terbarunya, mereka menaikkan target harga ESSA menjadi Rp1.200 per saham dengan rekomendasi buy. Artinya, kalau dibandingkan harga sekarang, masih ada potensi kenaikan yang cukup besar menurut analis. Optimisme itu muncul karena harga amonia dunia kembali naik, sementara ESSA punya eksposur kuat di bisnis tersebut melalui anak usahanya.
Buat yang belum terlalu familiar, ESSA memang dikenal sebagai perusahaan yang bergerak di sektor energi dan kimia, khususnya amonia dan LPG. Tapi sekarang cerita perusahaan ini mulai berkembang ke arah transisi energi. Pasar mulai menaruh perhatian pada rencana pengembangan blue ammonia dan sustainable aviation fuel (SAF) yang dianggap bisa menjadi sumber pertumbuhan baru dalam jangka panjang.
Tema energi hijau sendiri sekarang memang sedang jadi perhatian global. Banyak investor mulai mencari perusahaan yang punya peluang ikut dalam tren dekarbonisasi dan energi rendah emisi. Nah, ESSA mulai masuk dalam radar karena dinilai punya posisi yang cukup strategis di area tersebut.
Selain faktor fundamental, dari sisi teknikal saham ESSA juga mulai menunjukkan momentum yang menarik. Setelah sempat turun cukup dalam beberapa waktu lalu, sekarang pergerakannya mulai membentuk tren rebound. Volume transaksi juga mulai meningkat, yang biasanya menandakan minat investor mulai kembali masuk.
Meski begitu, investor tetap perlu mencermati beberapa risiko. Harga gas global masih cukup volatile dan kondisi geopolitik dunia juga bisa mempengaruhi harga energi. Selain itu, realisasi proyek-proyek energi hijau ESSA juga masih membutuhkan waktu dan investasi besar sebelum benar-benar bisa memberikan kontribusi signifikan terhadap laba perusahaan.
Untuk jangka pendek, pasar kemungkinan akan fokus pada laporan keuangan berikutnya dan perkembangan harga amonia global. Kalau tren harga komoditas tetap kuat dan proyek ekspansi berjalan sesuai rencana, bukan tidak mungkin saham ESSA masih punya ruang untuk melanjutkan penguatannya.
Sumber:
Laporan perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI)
Riset Indo Premier Sekuritas
Data pasar Investing Indonesia
IDN Financials
Bareksa