Saham PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) kembali menjadi sorotan investor di Bursa Efek Indonesia setelah pergerakan harganya sedikit terkoreksi pada perdagangan terakhir. Meski mengalami pelemahan tipis, banyak analis masih melihat prospek jangka panjang perusahaan ini tetap menarik, terutama karena posisinya yang kuat di rantai pasok nikel untuk industri baterai kendaraan listrik.
Pada penutupan perdagangan Senin, 16 Maret 2026, saham MBMA ditutup di level Rp695 per saham, turun sekitar 1,42% dibandingkan penutupan sebelumnya di Rp705. Sepanjang sesi perdagangan, saham ini bergerak cukup aktif dengan kisaran harga sekitar Rp650 hingga Rp700. Aktivitas transaksi juga tergolong tinggi karena investor masih aktif memperdagangkan saham yang terkait dengan komoditas strategis seperti nikel.
Jika melihat lebih dalam, pelemahan tipis ini sebenarnya terjadi di tengah optimisme terhadap masa depan bisnis MBMA. Perusahaan ini dikenal sebagai salah satu pemain penting dalam ekosistem hilirisasi nikel di Indonesia. Fokus utamanya adalah memproduksi material yang dibutuhkan untuk baterai kendaraan listrik, sektor yang diperkirakan akan terus tumbuh pesat dalam beberapa tahun ke depan.
Salah satu proyek yang paling dinantikan adalah fasilitas High Pressure Acid Leaching (HPAL) yang sedang dikembangkan oleh perusahaan. Teknologi ini digunakan untuk mengolah bijih nikel kadar rendah menjadi bahan baku yang bisa digunakan untuk baterai kendaraan listrik. Jika proyek ini berjalan sesuai rencana, produksi komersialnya diperkirakan mulai terlihat pada 2026, yang berpotensi menjadi katalis besar bagi kinerja keuangan perusahaan.
Selain HPAL, MBMA juga terus meningkatkan produksi Nickel Pig Iron (NPI). Dalam laporan kegiatan perusahaan, manajemen menargetkan produksi nikel mencapai sekitar 70.000–80.000 ton pada 2026. Target ini menunjukkan ambisi perusahaan untuk memperluas kapasitas produksi sekaligus memperkuat posisinya dalam industri logam baterai.
Menariknya, sejumlah analis masih memberikan pandangan positif terhadap saham ini. Konsensus analis menunjukkan mayoritas rekomendasi masih berada di level “buy”. Bahkan, target harga rata-rata untuk 12 bulan ke depan diperkirakan berada di sekitar Rp790-an per saham, yang berarti masih ada potensi kenaikan dari harga saat ini.
Beberapa rumah sekuritas bahkan menaikkan target harga mereka. Salah satunya adalah BRI Danareksa Sekuritas, yang sebelumnya merevisi target harga MBMA menjadi sekitar Rp940 per saham setelah mempertimbangkan potensi pertumbuhan laba perusahaan yang cukup agresif dalam beberapa tahun mendatang. Proyeksi tersebut didasarkan pada peningkatan produksi nikel serta kontribusi proyek hilirisasi yang mulai beroperasi.
Di sisi lain, kondisi pasar secara keseluruhan juga ikut mempengaruhi pergerakan saham seperti MBMA. Sentimen global terhadap harga komoditas, permintaan kendaraan listrik, hingga arus dana investor asing di Bursa Efek Indonesia sering kali menjadi faktor yang memicu volatilitas jangka pendek. Karena itu, meskipun sahamnya sempat melemah dalam satu sesi perdagangan, banyak investor masih melihat MBMA sebagai saham bertema EV supply chain yang potensial.
Ke depan, ada beberapa hal yang kemungkinan akan terus dipantau oleh investor. Perkembangan proyek HPAL tentu menjadi fokus utama karena proyek ini bisa mengubah struktur bisnis perusahaan menjadi lebih terintegrasi dalam industri baterai. Selain itu, laporan kinerja keuangan berikutnya juga akan menjadi indikator apakah ekspansi yang dilakukan perusahaan benar-benar mulai memberikan dampak terhadap pertumbuhan pendapatan dan laba.
Bagi investor yang mengikuti sektor komoditas dan energi baru, MBMA mungkin akan tetap menjadi salah satu saham yang menarik untuk dipantau. Fluktuasi harga jangka pendek memang bisa terjadi, tetapi cerita besar tentang hilirisasi nikel Indonesia dan pertumbuhan industri kendaraan listrik masih menjadi alasan utama mengapa saham ini terus berada di radar pasar.
Sumber:
Laporan kegiatan perusahaan PT Merdeka Battery Materials Tbk, laporan riset analis BRI Danareksa Sekuritas, data perdagangan Bursa Efek Indonesia, Investing.com, IDN Financials, serta laporan analisis pasar Simply Wall St.
