- Saham PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) turun sekitar 1,23% ke kisaran Rp805 pada perdagangan Jumat (13 Maret 2026) setelah investor melakukan aksi ambil untung.
- Sejumlah analis masih optimistis terhadap prospek BRMS, dengan rekomendasi buy dan target harga hingga sekitar Rp1.300 per saham seiring potensi kenaikan produksi emas.
- Investor kini menunggu laporan kinerja keuangan berikutnya serta perkembangan proyek tambang, yang bisa menjadi katalis baru bagi pergerakan saham BRMS di Bursa Efek Indonesia.

Pergerakan saham emiten tambang emas PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) kembali menjadi perhatian pelaku pasar di Bursa Efek Indonesia pada perdagangan Jumat, 13 Maret 2026. Di tengah optimisme terhadap prospek produksi emas perusahaan, saham BRMS justru bergerak cukup fluktuatif sepanjang sesi perdagangan.
Pada sesi reguler hari itu, saham BRMS sempat diperdagangkan di kisaran Rp800–Rp820 per saham. Namun hingga pertengahan perdagangan, harga berada di sekitar Rp805, atau turun sekitar 1,23% dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp815.
Penurunan tipis ini sebenarnya bukan sesuatu yang terlalu mengejutkan. Setelah mengalami kenaikan dalam beberapa periode terakhir, sebagian investor terlihat melakukan aksi ambil untung (profit taking). Fenomena seperti ini cukup umum terjadi pada saham sektor komoditas, terutama ketika harga sudah naik cukup signifikan dalam waktu relatif singkat.
Meski begitu, sentimen terhadap BRMS secara keseluruhan masih cukup positif. Banyak investor masih menaruh harapan pada pertumbuhan produksi emas perusahaan yang diproyeksikan meningkat dalam beberapa tahun ke depan. Perseroan diketahui terus mengembangkan proyek tambang serta memperluas fasilitas pengolahan emas untuk meningkatkan kapasitas produksi.
Harapan tersebut juga tercermin dari berbagai laporan riset analis. Salah satu yang cukup menonjol datang dari OCBC Sekuritas Indonesia yang memberikan rekomendasi “buy” untuk saham BRMS dengan target harga Rp1.300 per saham. Target tersebut mencerminkan potensi kenaikan yang cukup besar dibandingkan harga perdagangan saat ini.
Jika melihat konsensus analis yang lebih luas, pandangan terhadap BRMS juga masih relatif optimistis. Beberapa laporan riset menunjukkan target harga rata-rata di sekitar Rp1.129 per saham, bahkan dengan target tertinggi yang bisa mencapai Rp1.350. Artinya, masih ada ruang kenaikan yang cukup menarik jika perusahaan mampu mengeksekusi rencana ekspansi produksinya dengan baik.
Selain faktor internal perusahaan, saham BRMS juga sangat dipengaruhi oleh pergerakan harga emas global. Sebagai perusahaan tambang emas, kenaikan harga emas biasanya menjadi katalis positif bagi kinerja keuangan perusahaan. Dalam beberapa waktu terakhir, harga emas global memang cenderung stabil di level tinggi, sehingga memberikan sentimen positif bagi emiten-emiten di sektor ini.
Di sisi lain, pergerakan saham BRMS juga terjadi di tengah kondisi pasar saham Indonesia yang relatif stabil. Indeks Harga Saham Gabungan masih bergerak cukup solid, dengan sejumlah saham sektor komoditas dan perbankan memberikan dukungan bagi pasar.
Walau prospeknya menarik, investor tetap perlu memperhatikan volatilitas saham ini. Dalam rentang 52 minggu terakhir, saham BRMS tercatat bergerak cukup lebar, mulai dari sekitar Rp274 hingga Rp1.385 per saham. Rentang ini menunjukkan bahwa saham BRMS bisa sangat menarik bagi trader jangka pendek, namun juga membutuhkan manajemen risiko yang baik.
Ke depan, pelaku pasar kemungkinan akan fokus pada beberapa katalis penting. Salah satu yang paling ditunggu adalah laporan kinerja keuangan berikutnya, yang diharapkan bisa memberikan gambaran lebih jelas mengenai perkembangan produksi emas perusahaan. Selain itu, perkembangan proyek tambang baru serta peningkatan kapasitas fasilitas pengolahan emas juga akan menjadi faktor yang sangat diperhatikan oleh investor.
Jika ekspansi tersebut berjalan sesuai rencana, bukan tidak mungkin saham BRMS kembali menarik minat investor dalam jangka menengah hingga panjang. Untuk saat ini, pasar tampaknya masih berada dalam fase menunggu katalis berikutnya.
Sumber:
Investing.com, Kontan, MarketScreener, HaloIndonesia, laporan riset analis sekuritas, serta data perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI).