- Komisaris Utama SCMA, Adi Wardhana Sariaatmadja, membeli 241,8 juta saham SCMA di harga Rp276 per saham dengan total nilai transaksi sekitar Rp66,7 miliar.
- Aksi insider buying ini dipandang sebagai sinyal kepercayaan manajemen terhadap prospek bisnis SCMA, terutama di tengah transformasi industri media ke platform digital.
- Investor kini menunggu katalis berikutnya, seperti laporan kinerja keuangan, pertumbuhan belanja iklan, dan perkembangan ekosistem digital Grup Emtek.
Pergerakan saham PT Surya Citra Media Tbk (SCMA) belakangan kembali menarik perhatian pelaku pasar. Bukan hanya karena dinamika industri media yang terus berubah, tetapi juga karena aksi besar dari salah satu orang dalam perusahaan. Komisaris Utama SCMA, Adi Wardhana Sariaatmadja, dilaporkan memborong ratusan juta saham perseroan di pasar.
Berdasarkan keterbukaan informasi yang disampaikan ke Bursa Efek Indonesia (BEI), Adi Wardhana membeli sekitar 241,8 juta saham SCMA pada harga Rp276 per saham. Jika dihitung, nilai transaksi ini mencapai sekitar Rp66 miliar lebih. Transaksi tersebut dilakukan pada akhir Februari 2026 dan disebutkan bertujuan untuk investasi.
Yang menarik, sebelum transaksi ini dilakukan, kepemilikan saham Adi Wardhana di SCMA sebenarnya sangat kecil. Namun setelah pembelian tersebut, kepemilikannya melonjak menjadi sekitar 241,81 juta saham atau sekitar 0,33% dari total saham yang beredar. Lonjakan kepemilikan ini langsung menjadi perhatian investor karena biasanya aksi beli dari manajemen atau komisaris sering dianggap sebagai sinyal kepercayaan terhadap prospek perusahaan.
Fenomena “insider buying” seperti ini memang sering dibaca positif oleh pasar. Logikanya sederhana: jika orang dalam perusahaan berani membeli saham dalam jumlah besar menggunakan dana pribadi, berarti mereka cukup percaya terhadap potensi bisnis perusahaan ke depan.
Aksi ini juga tidak berdiri sendiri. Sebelumnya, pemegang saham pengendali SCMA, yaitu PT Elang Mahkota Teknologi Tbk (EMTK), juga sempat melakukan akumulasi saham SCMA dalam beberapa transaksi. Harga pembelian yang dilakukan EMTK berada di kisaran Rp258 hingga Rp320 per saham. Artinya, aksi pembelian oleh komisaris di Rp276 masih berada di tengah kisaran harga yang sebelumnya juga diborong oleh induk usaha.
Bagi investor, kondisi ini sering dianggap sebagai bentuk konsolidasi kepemilikan oleh pihak internal. Biasanya langkah seperti ini dilakukan ketika manajemen menilai valuasi saham perusahaan sedang menarik atau undervalued di pasar.
Di sisi bisnis, SCMA sendiri dikenal sebagai salah satu pemain besar di industri media Indonesia. Perusahaan ini mengoperasikan stasiun televisi populer seperti SCTV dan Indosiar. Selain televisi, SCMA juga menjadi bagian dari ekosistem digital Emtek yang mencakup berbagai platform streaming dan teknologi.
Perubahan perilaku penonton dari televisi konvensional ke platform digital memang menjadi tantangan besar bagi industri media. Namun di sisi lain, perusahaan seperti SCMA juga memiliki peluang besar jika mampu memanfaatkan ekosistem digital tersebut dengan baik. Monetisasi konten digital, integrasi dengan platform streaming, hingga potensi peningkatan belanja iklan menjadi beberapa faktor yang bisa mendukung kinerja perusahaan ke depan.
Sementara itu, dari sisi pergerakan saham, SCMA masih bergerak cukup fluktuatif mengikuti sentimen pasar. Sahamnya sempat diperdagangkan di kisaran Rp240-an dalam beberapa waktu terakhir. Kondisi ini juga terjadi di tengah pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang cenderung naik turun akibat berbagai faktor global dan domestik.
Bagi para trader dan investor, aksi pembelian besar dari komisaris tentu menjadi sinyal yang menarik untuk dicermati. Namun seperti biasa di pasar saham, satu faktor saja tidak cukup untuk menentukan arah harga. Investor tetap akan menunggu katalis lain seperti laporan keuangan terbaru SCMA, perkembangan industri iklan televisi, serta strategi ekspansi digital dari Grup Emtek.
Jika kinerja bisnis mulai menunjukkan perbaikan dan ekosistem digitalnya semakin kuat, bukan tidak mungkin aksi borong saham oleh orang dalam ini nantinya akan dianggap sebagai langkah yang sangat tepat.
Sumber:
Keterbukaan Informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), IDNFinancials, IndoPremier News, HaloIndonesia.