- Saham BEST naik tipis sekitar 0,91% di tengah perdagangan setelah perusahaan mencatat laba bersih pada kuartal I 2026.
- Pemulihan kinerja didorong kenaikan pendapatan dan arus kas operasi yang kembali positif dibanding tahun lalu.
- Investor kini menunggu realisasi target marketing sales Rp600 miliar serta potensi masuknya tenant industri baru sepanjang 2026.

Saham PT Bekasi Fajar Industrial Estate Tbk (BEST) mulai kembali dilirik pasar pada perdagangan Selasa, 12 Mei 2026. Di tengah kondisi IHSG yang masih bergerak campur aduk karena sentimen global, saham emiten kawasan industri ini justru mampu bertahan di zona hijau. Hingga sesi siang ketika pasar masih berlangsung, saham BEST naik tipis sekitar 0,91% ke level Rp111.
Kenaikan ini memang belum tergolong besar, tapi cukup menarik perhatian karena datang setelah perusahaan merilis laporan keuangan kuartal pertama 2026 yang menunjukkan tanda-tanda pemulihan. Setelah sempat mencatat rugi pada periode yang sama tahun lalu, kini BEST berhasil membukukan laba bersih sekitar Rp9,3 miliar. Pendapatannya juga melonjak cukup signifikan menjadi sekitar Rp89,5 miliar.
Buat investor kawasan industri, angka ini penting. Pasalnya, beberapa tahun terakhir sektor ini memang sempat menghadapi tekanan akibat perlambatan ekonomi global, tingginya suku bunga, hingga ketidakpastian investasi manufaktur. Tapi sekarang pasar mulai melihat ada peluang pemulihan, terutama karena permintaan lahan industri di Indonesia perlahan kembali tumbuh.
Salah satu hal yang ikut bikin pasar lebih optimistis adalah membaiknya arus kas perusahaan. Arus kas operasi BEST pada kuartal I 2026 tercatat positif sekitar Rp71,85 miliar, berbalik dari posisi negatif tahun lalu. Posisi kas perusahaan juga ikut naik. Artinya, kondisi keuangan perusahaan terlihat lebih sehat dibanding sebelumnya.
Di sisi lain, manajemen juga cukup percaya diri menghadapi tahun ini. BEST menargetkan marketing sales sekitar Rp600 miliar pada 2026. Target tersebut didukung oleh potensi permintaan dari sektor manufaktur, logistik, sampai data center yang belakangan makin aktif mencari kawasan industri di Indonesia.
Pasar tampaknya juga mulai melihat bahwa saham BEST relatif masih tertinggal dibanding beberapa emiten kawasan industri lainnya. Karena itu, ketika kinerja mulai membaik, ada peluang investor kembali melakukan akumulasi secara bertahap. Walaupun sejauh ini belum ada revisi target harga besar dari analis, sejumlah broker mulai melihat potensi re-rating valuasi apabila tren pemulihan laba terus berlanjut sampai semester kedua nanti.
Menariknya lagi, momentum kawasan industri saat ini memang sedang cukup diperhatikan pasar. Indonesia masih dianggap punya peluang besar mendapatkan aliran investasi relokasi pabrik dari berbagai negara Asia. Kalau tren ini benar-benar berlanjut, emiten seperti BEST bisa ikut menikmati efek positifnya lewat kenaikan penjualan lahan industri.
Meski begitu, tantangannya tetap ada. Investor masih harus memperhatikan kondisi global, arah suku bunga Amerika Serikat, nilai tukar rupiah, hingga realisasi investasi asing yang kadang bergerak fluktuatif. Karena itu, pasar sekarang tampaknya memilih lebih selektif dan fokus pada perusahaan yang benar-benar menunjukkan perbaikan fundamental.
Untuk sementara, pergerakan saham BEST mungkin belum terlalu agresif. Tapi setidaknya, laporan keuangan terbaru memberi sinyal bahwa perusahaan mulai bergerak ke arah yang lebih baik. Kalau penjualan lahan industri terus meningkat dan target marketing sales tercapai, bukan tidak mungkin saham ini bakal lebih sering masuk radar investor ke depan.
Sumber: Laporan Keuangan PT Bekasi Fajar Industrial Estate Tbk Kuartal I 2026, data perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI), Investing Indonesia, riset broker domestik, dan publikasi pasar modal terkait kawasan industri Indonesia.