- DYAN masih bergerak fluktuatif karena investor mencermati pemulihan bisnis event organizer dan industri MICE sepanjang 2026.
- Kinerja kuartal I-2026 DYAN menunjukkan perbaikan dengan laba bersih naik lebih dari 50% YoY, didorong meningkatnya aktivitas pameran dan convention.
- Pasar kini menunggu katalis berikutnya seperti agenda pameran besar semester II-2026, kontrak baru, serta konsistensi pertumbuhan laba perusahaan.

Belakangan ini saham DYAN mulai kembali masuk radar investor. Meski pergerakannya belum terlalu agresif, banyak pelaku pasar mulai memperhatikan potensi pemulihan bisnis perusahaan yang dikenal sebagai pemain besar di industri event organizer dan pameran di Indonesia.
Pada perdagangan Selasa, 12 Mei 2026, saham DYAN sempat bergerak melemah tipis di tengah kondisi IHSG yang juga masih fluktuatif. Karena pasar saat itu belum ditutup, investor masih memantau apakah tekanan jual akan berlanjut atau justru muncul aksi beli menjelang akhir sesi perdagangan.
Kalau dilihat lebih dalam, perhatian pasar terhadap DYAN sebenarnya bukan tanpa alasan. Perusahaan baru saja menggelar RUPST sekaligus mengumumkan perubahan jajaran direksi dan komisaris. Biasanya, perubahan manajemen seperti ini cukup menarik perhatian investor karena bisa menjadi sinyal adanya strategi baru untuk mendorong pertumbuhan bisnis ke depan.
Selain itu, kinerja kuartal pertama 2026 DYAN juga cukup menarik. Laba bersih perusahaan tercatat naik lebih dari 50% secara tahunan menjadi sekitar Rp30 miliar. Pendapatannya pun ikut tumbuh, terutama ditopang bisnis event organizer dan convention yang mulai kembali ramai setelah beberapa tahun industri MICE bergerak lebih lambat.
Banyak investor melihat pemulihan industri pameran dan acara korporasi sebagai peluang besar buat DYAN. Apalagi, sepanjang 2026 agenda event nasional mulai kembali padat. Dari pameran otomotif, konser, hingga expo bisnis mulai rutin digelar lagi. Kondisi ini tentu bisa jadi angin segar buat perusahaan seperti DYAN yang bisnis utamanya memang ada di sektor tersebut.
Menariknya lagi, beberapa waktu lalu pasar juga memperhatikan aksi PT Yulie Sekuritas Indonesia Tbk yang menambah kepemilikan saham di DYAN. Langkah ini sempat memicu spekulasi bahwa ada keyakinan terhadap valuasi saham perusahaan yang dianggap masih murah dibanding aset dan potensi bisnisnya.
Kalau bicara valuasi, memang ada investor yang menilai DYAN saat ini masih cukup undervalued. Price to book value perusahaan masih di bawah 1 kali, yang artinya harga sahamnya dinilai belum mencerminkan penuh nilai aset perusahaan. Buat investor value investing, kondisi seperti ini biasanya cukup menarik untuk dipantau.
Meski begitu, pasar tetap belum sepenuhnya optimistis. Investor masih ingin melihat apakah pertumbuhan laba DYAN bisa konsisten sampai akhir tahun. Soalnya, industri event organizer juga cukup sensitif terhadap kondisi ekonomi dan daya beli masyarakat. Kalau aktivitas bisnis melambat atau perusahaan mulai mengurangi budget event, dampaknya bisa langsung terasa ke pendapatan perusahaan.
Selain faktor internal, sentimen pasar global juga masih cukup mempengaruhi pergerakan saham-saham lapis kedua seperti DYAN. Arah suku bunga Amerika Serikat, pergerakan rupiah, dan arus dana asing masih jadi perhatian utama investor domestik.
Ke depan, pelaku pasar akan fokus memantau beberapa katalis penting. Mulai dari realisasi agenda pameran besar semester kedua 2026, pertumbuhan kontrak baru, sampai strategi ekspansi bisnis event dan convention yang sedang disiapkan manajemen. Kalau momentum pemulihan industri MICE terus berlanjut, bukan tidak mungkin saham DYAN bisa kembali mendapatkan perhatian lebih besar dari investor.
Sumber:
Kontan
IndoPremier IPOT News
Pasardana
Investing Indonesia
Kabar Bursa