- Saham CMRY turun sekitar 1,45% ke Rp5.100 di sesi 3 Maret 2026 meski laba 2025 melonjak 33% menjadi Rp2,03 triliun.
- Tekanan harga lebih dipengaruhi sentimen pasar dan pelemahan IHSG, bukan perubahan fundamental perusahaan.
- Analis masih pasang target harga di kisaran Rp7.100-an, pasar menunggu kinerja kuartal I 2026 dan arah ekspansi lanjutan.

Saham PT Cisarua Mountain Dairy Tbk (CMRY) lagi-lagi jadi perhatian pasar. Di sesi perdagangan reguler BEI pada Selasa, 3 Maret 2026, saham produsen susu dan makanan olahan ini ditutup melemah tipis sekitar 1,45% ke level Rp5.100 dari penutupan sebelumnya di Rp5.175. Sepanjang hari, pergerakannya cukup dinamis, sempat menyentuh area Rp4.990 sebelum kembali naik tipis lalu akhirnya ditutup di zona merah. Buat ukuran emiten consumer yang fundamentalnya lagi bagus, koreksi ini tentu bikin investor bertanya-tanya: ada apa?
Padahal kalau melihat laporan keuangan tahun buku 2025 yang sudah dipublikasikan melalui keterbukaan informasi ke Bursa Efek Indonesia, kinerja CMRY sebenarnya solid. Perseroan membukukan laba bersih sekitar Rp2,03 triliun, naik kurang lebih 33% dibanding tahun sebelumnya. Kenaikan ini ditopang pertumbuhan penjualan yang menembus Rp10,7 triliun, terutama dari lini produk susu dan makanan olahan yang makin agresif ekspansinya. Secara fundamental, angka ini menunjukkan bisnis inti mereka masih tumbuh sehat, bahkan di tengah persaingan industri makanan dan minuman yang makin ketat.
Selain kinerja keuangan, CMRY juga sempat mengumumkan langkah strategis dengan mendirikan anak usaha baru, PT Artha Rasa Cimory (ARC). Langkah ini disampaikan melalui keterbukaan informasi dan disebut sebagai bagian dari strategi ekspansi jangka panjang. Manajemen menegaskan pendirian entitas baru tersebut tidak berdampak material terhadap kondisi keuangan perusahaan, namun diharapkan memperkuat struktur bisnis dan fleksibilitas pengembangan usaha ke depan. Buat investor jangka panjang, ini biasanya dibaca sebagai sinyal keseriusan memperluas pasar.
Lalu kenapa harga sahamnya justru turun? Kalau melihat konteks yang lebih luas, pergerakan CMRY tidak bisa dilepaskan dari sentimen pasar secara keseluruhan. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sebelumnya juga sempat tertekan akibat sentimen global dan aksi ambil untung di sejumlah sektor. Ketika pasar dalam mode hati-hati, bahkan saham dengan fundamental kuat pun bisa ikut terkoreksi karena investor cenderung mengurangi risiko.
Dari sisi analis, beberapa laporan riset terbaru masih mempertahankan pandangan positif terhadap CMRY. Rata-rata target harga 12 bulan berada di kisaran Rp7.100-an, yang berarti masih ada potensi upside signifikan dari harga saat ini. Rekomendasi yang muncul umumnya masih di level beli atau strong buy, dengan catatan bahwa pertumbuhan margin dan ekspansi distribusi tetap terjaga. Artinya, koreksi kemarin lebih terlihat sebagai tekanan jangka pendek ketimbang perubahan fundamental.
Ke depan, pasar akan mencermati rilis kinerja kuartal pertama 2026 serta perkembangan strategi ekspansi perusahaan. Investor juga menunggu detail lebih lanjut dalam RUPS mendatang, terutama terkait arah belanja modal dan proyeksi pertumbuhan. Kalau realisasi kinerja tetap konsisten, bukan tidak mungkin tekanan harga ini hanya jadi jeda sebelum tren berikutnya terbentuk.
Sumber: Keterbukaan Informasi Bursa Efek Indonesia, laporan keuangan tahunan CMRY, pemberitaan ANTARA News terkait pergerakan IHSG, serta rangkuman data dan konsensus analis dari Investing.com dan IDN Financials.