Skip to content
  • Hubungi Kami
  • Tentang Kami

Bursa Terkini

Kabar Bursa Saham Terkini

  • Home
  • Berita Emiten
  • Toggle search form

Tidak Bisa Penuhi Free Float, Solusi Tunas Pratama (SUPR) Berencana Delisting dari BEI

Posted on April 8, 2026April 7, 2026 By V. Theresia No Comments on Tidak Bisa Penuhi Free Float, Solusi Tunas Pratama (SUPR) Berencana Delisting dari BEI
  • SUPR berencana delisting dari BEI karena gagal memenuhi ketentuan minimum free float yang dipersyaratkan regulator.
  • Pemegang saham pengendali akan melakukan tender offer sekitar Rp45.000 per saham sebagai jalan keluar bagi investor publik.
  • Kasus ini mencerminkan semakin ketatnya regulasi BEI dan jadi pelajaran penting soal pentingnya likuiditas saham.
Kalau kamu mengikuti pergerakan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI), kabar dari PT Solusi Tunas Pratama Tbk (SUPR) ini cukup menarik dan bisa dibilang jadi “wake-up call” buat emiten lain. Perusahaan yang bergerak di bisnis menara telekomunikasi ini memutuskan untuk cabut dari bursa alias delisting, bukan karena kinerja buruk, tapi karena satu hal yang sering dianggap sepele: free float.

Jadi ceritanya, SUPR ini sudah lama punya struktur kepemilikan yang sangat terkonsentrasi. Mayoritas sahamnya dikuasai oleh Protelindo, yang merupakan bagian dari Grup Djarum. Masalahnya, aturan BEI sekarang mengharuskan perusahaan terbuka punya porsi saham publik minimal di kisaran 7,5%–15%. Nah, SUPR? Jauh banget dari angka itu. Free float-nya bahkan cuma sekitar 0,1%. Bisa dibilang hampir nggak ada saham yang benar-benar beredar di publik.

SUPR sebenarnya bukan nggak usaha. Mereka sudah mencoba berbagai cara buat nambah porsi publik, termasuk melepas saham ke investor. Tapi hasilnya tetap belum cukup untuk memenuhi aturan. Pada akhirnya, daripada terus berada dalam tekanan regulasi dan kondisi saham yang tidak likuid, manajemen memilih jalan yang lebih “bersih”: go private.

Langkah ini dilakukan lewat skema voluntary tender offer (VTO), di mana pemegang saham pengendali akan membeli kembali saham dari investor publik. Harga yang ditawarkan sekitar Rp45.000 per saham. Buat investor ritel, ini jadi semacam pintu keluar terakhir sebelum sahamnya benar-benar hilang dari papan perdagangan.

Kalau dilihat dari sudut pandang investor, situasi ini agak tricky. Di satu sisi, harga tender offer tersebut dinilai cukup fair karena mengacu pada harga historis sebelum sahamnya disuspensi. Tapi di sisi lain, karena saham SUPR sudah lama nggak likuid dan bahkan sempat disuspensi, banyak investor juga tidak punya banyak pilihan selain menerima penawaran tersebut.

Menariknya lagi, kasus SUPR ini juga menunjukkan bagaimana regulasi pasar modal Indonesia sekarang semakin serius ditegakkan. BEI nggak lagi sekadar memberi peringatan, tapi benar-benar mendorong emiten untuk patuh. Kalau tidak? Ya risikonya seperti ini—delisting. Ini jadi sinyal kuat buat perusahaan lain yang free float-nya masih tipis untuk segera berbenah.

Di tengah cerita SUPR ini, kondisi pasar saham Indonesia juga lagi nggak terlalu bersahabat. IHSG sempat bergerak fluktuatif akibat sentimen global dan aliran dana asing yang naik turun. Dalam situasi seperti ini, saham dengan likuiditas rendah memang jadi makin kurang menarik di mata investor. Jadi, keputusan SUPR untuk keluar dari bursa bisa dibilang juga realistis, bukan cuma soal regulasi tapi juga soal dinamika pasar.

Ke depan, ada beberapa hal yang masih perlu diperhatikan. Salah satunya adalah RUPSLB yang akan menentukan apakah rencana delisting ini disetujui oleh pemegang saham independen. Selain itu, respons investor terhadap tender offer juga bakal jadi penentu apakah proses ini berjalan mulus atau tidak.

Kalau dipikir-pikir, cerita SUPR ini bukan sekadar tentang satu perusahaan yang keluar dari bursa. Ini lebih ke gambaran besar tentang bagaimana pasar modal Indonesia sedang “naik level”. Regulasi makin ketat, transparansi makin dituntut, dan perusahaan dituntut untuk benar-benar terbuka—not just in name, tapi juga dalam struktur kepemilikannya.

Buat investor, pelajaran pentingnya jelas: jangan cuma lihat fundamental bisnis, tapi juga perhatikan struktur saham dan likuiditasnya. Karena pada akhirnya, hal-hal seperti free float ini bisa jadi faktor penentu nasib sebuah saham di bursa.

Berita Emiten, IDX:SUPR

Post navigation

Previous Post: Ditopang Ekspansi dan Efisiensi, Laba Bersih Siloam (SILO) Melejit Tinggi, Analis Tetap Optimistis
Next Post: ANTM Menguat Tajam 7,78% Ditopang Lonjakan Harga Komoditas, Analis Tetap Waspadai Tekanan Asing

Related Posts

GPSO Lagi Panas, Saham Naik 50%, Siap Private Placement dan Masuk Bisnis Komponen Otomotif Berita Emiten
Harta Djaya Karya (MEJA) Tebar Saham Bonus 6:1, Aksi Korporasi Dongkrak Likuiditas di Tengah Dinamika Pasar Berita Emiten
RMKE Resmi Terbitkan Obligasi Rp 600 Miliar, Strategi Ekspansi atau Sinyal Kepercayaan Diri? Berita Emiten
Ditopang Ekspansi dan Efisiensi, Laba Bersih Siloam (SILO) Melejit Tinggi, Analis Tetap Optimistis Berita Emiten
MEDC Makin Serius Garap Oman, Setelah 20 Tahun Kini Jadi Andalan Ekspansi Migas Berita Emiten
Efek Mudik Melemah, Saham JSMR Tertekan Sentimen Suku Bunga Berita Emiten

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright © 2026 Bursa Terkini.

Add as a preferred source on Google
Add as preferred source on Google

Powered by
►
Necessary cookies enable essential site features like secure log-ins and consent preference adjustments. They do not store personal data.
None
►
Functional cookies support features like content sharing on social media, collecting feedback, and enabling third-party tools.
None
►
Analytical cookies track visitor interactions, providing insights on metrics like visitor count, bounce rate, and traffic sources.
None
►
Advertisement cookies deliver personalized ads based on your previous visits and analyze the effectiveness of ad campaigns.
None
►
Unclassified cookies are cookies that we are in the process of classifying, together with the providers of individual cookies.
None
Powered by