- INET agresif melakukan ekspansi lewat akuisisi dan pengembangan bisnis kabel laut, data center, serta FTTH untuk memperkuat bisnis infrastruktur digital.
- Meski prospek industri dinilai menarik, saham INET masih tertekan karena pasar khawatir terhadap tingginya kebutuhan pendanaan dan risiko eksekusi proyek.
- Investor kini menunggu realisasi proyek strategis dan pertumbuhan laba perusahaan untuk melihat apakah ekspansi besar INET benar-benar bisa menghasilkan kinerja yang solid.
Di tengah tren digitalisasi dan kebutuhan internet yang terus naik di Indonesia, sebenarnya nama PT Sinergi Inti Andalan Prima Tbk atau INET punya cerita yang cukup menarik. Emiten ini belakangan terlihat sangat agresif memperluas bisnis lewat berbagai aksi korporasi. Mulai dari akuisisi perusahaan, ekspansi kabel bawah laut, sampai masuk ke bisnis data center dan FTTH (fiber to the home). Secara strategi, langkah ini terlihat ambisius dan bahkan cukup menjanjikan.
Tapi anehnya, pasar justru belum terlalu antusias.
Harga saham INET masih bergerak tertekan dalam beberapa waktu terakhir. Investor tampaknya belum benar-benar yakin bahwa ekspansi besar-besaran ini bakal langsung menghasilkan pertumbuhan laba yang signifikan dalam waktu dekat. Banyak yang mulai bertanya, apakah INET memang sedang membangun pondasi bisnis besar untuk masa depan, atau justru terlalu agresif sehingga berisiko membebani keuangan perusahaan?
Salah satu aksi terbaru INET adalah rencana akuisisi 60% saham PT Sarana Global Indonesia (SGI) senilai sekitar Rp280 miliar. Akuisisi ini cukup penting karena membuat INET semakin serius masuk ke bisnis kabel bawah laut dan infrastruktur digital berskala besar. SGI sendiri bergerak di bidang EPC kabel laut dan memiliki armada kapal instalasi fiber optik bawah laut.
Kalau dilihat secara jangka panjang, langkah ini sebenarnya cukup strategis. Trafik data di Asia Tenggara terus meningkat, sementara kebutuhan konektivitas internasional makin besar. Artinya, bisnis kabel laut punya potensi pertumbuhan yang besar dalam beberapa tahun ke depan.
Masalahnya, pasar tidak hanya melihat peluang, tapi juga risiko.
Untuk mendanai akuisisi tersebut, INET menggunakan fasilitas pinjaman perbankan dengan nilai yang cukup besar. Nah, di sinilah investor mulai khawatir. Ketika perusahaan terlalu cepat melakukan ekspansi menggunakan utang, risiko beban bunga dan tekanan cash flow juga ikut meningkat. Belum lagi tantangan integrasi bisnis hasil akuisisi yang biasanya tidak mudah.
Selain itu, kondisi pasar saham juga sedang kurang bersahabat untuk saham-saham teknologi dan digital infrastructure. Sentimen global masih dipengaruhi suku bunga tinggi Amerika Serikat, pelemahan rupiah, dan aksi profit taking di saham second liner. Jadi walaupun secara cerita bisnis INET menarik, sentimen pasar saat ini belum mendukung penuh.
Meski begitu, beberapa analis masih cukup optimistis terhadap prospek INET. Ada yang melihat ekspansi kabel laut Jakarta–Batam–Singapura dan pengembangan FTTH di Bali-Lombok bisa menjadi mesin pertumbuhan baru perusahaan. Kalau proyek-proyek ini berhasil berjalan sesuai target, recurring income INET berpotensi naik cukup signifikan dalam beberapa tahun mendatang.
Apalagi kebutuhan internet rumah dan data center di Indonesia memang masih terus tumbuh. Secara industri, sektor ini memang punya potensi besar. Tantangannya tinggal satu: apakah INET mampu mengeksekusi semua ekspansi ini dengan baik tanpa membebani kondisi keuangan perusahaan terlalu dalam.
Untuk sekarang, pasar tampaknya masih memilih wait and see.
Investor kemungkinan akan menunggu perkembangan realisasi proyek kabel laut, hasil integrasi akuisisi SGI, serta laporan keuangan beberapa kuartal ke depan sebelum kembali agresif masuk ke saham INET. Kalau pendapatan dan laba mulai menunjukkan pertumbuhan yang konsisten, bukan tidak mungkin sentimen pasar bisa berubah lebih positif.
Namun kalau ekspansi justru membuat utang membengkak tanpa pertumbuhan profit yang sepadan, tekanan terhadap saham INET bisa saja masih berlanjut.
Sumber:
Kontan Insight
Bareksa
IndoPremier / IPOT News
Keterbukaan Informasi Bursa Efek Indonesia (BEI)
Laporan dan presentasi perusahaan PT Sinergi Inti Andalan Prima Tbk (INET)