Skip to content
  • Hubungi Kami
  • Tentang Kami

Bursa Terkini

Kabar Bursa Saham Terkini

  • Home
  • Berita Emiten
  • Toggle search form

Laba APLN Anjlok 82% di 2025, Target 2026 Dipangkas Moderat di Tengah Tekanan Sektor Properti

Posted on March 21, 2026March 20, 2026 By V. Theresia No Comments on Laba APLN Anjlok 82% di 2025, Target 2026 Dipangkas Moderat di Tengah Tekanan Sektor Properti
  • Laba bersih PT Agung Podomoro Land Tbk (APLN) anjlok 82,2% di 2025 akibat tidak adanya lagi kontribusi penjualan aset besar seperti tahun sebelumnya.
  • Pendapatan turun dan target 2026 dibuat lebih konservatif, mencerminkan kondisi pasar properti yang masih menantang.
  • Analis cenderung netral (hold), dengan fokus ke katalis seperti marketing sales, proyek baru, dan arah suku bunga KPR.

Kalau kamu ngikutin saham properti di Bursa Efek Indonesia, kabar terbaru dari APLN ini cukup menarik—dan jujur saja, agak bikin kaget.

PT Agung Podomoro Land Tbk (APLN) baru saja merilis kinerja keuangan 2025, dan hasilnya menunjukkan penurunan laba yang cukup dalam. Laba bersihnya anjlok sampai 82,2% secara tahunan. Angkanya turun ke sekitar Rp112 miliar, jauh dibandingkan tahun sebelumnya yang masih ratusan miliar lebih tinggi. Buat ukuran emiten properti besar, ini jelas bukan penurunan kecil.

Kalau ditelusuri, penyebabnya sebenarnya bukan karena bisnis utamanya tiba-tiba “jatuh bebas”, tapi lebih ke faktor yang tidak berulang. Di tahun 2024, APLN sempat mencatat pemasukan besar dari penjualan aset hotel, yang menyumbang sekitar Rp1,7 triliun. Nah, di 2025, kontribusi seperti itu sudah tidak ada lagi. Jadi secara sederhana, basis pembandingnya memang tinggi.

Pendapatan perusahaan juga ikut turun, sekitar 36% menjadi Rp3,57 triliun. Ini di bawah target awal manajemen yang sempat berharap bisa menyentuh Rp4 triliun. Hampir semua segmen terdampak, termasuk penjualan hunian yang biasanya jadi tulang punggung. Tapi di sisi lain, margin laba kotor masih bisa dijaga di kisaran 41%, sedikit di atas target internal. Artinya, secara operasional mereka masih cukup efisien—masalahnya lebih ke sisi penjualan.

Masuk ke 2026, manajemen APLN tampaknya tidak ingin terlalu agresif. Mereka memilih pendekatan yang lebih realistis, bahkan cenderung konservatif. Target pendapatan dipasang di sekitar Rp3,7 triliun, dengan marketing sales Rp1,5 triliun. Ini menunjukkan bahwa perusahaan sadar kondisi pasar belum sepenuhnya pulih, dan strategi “kejar pertumbuhan tinggi” mungkin belum waktunya.

Dari sisi analis, pandangan yang muncul juga cukup hati-hati. Beberapa masih mempertahankan rating “hold”, sambil menyesuaikan target harga ke level yang lebih konservatif. Alasannya jelas: visibilitas pendapatan masih terbatas, dan recovery sektor properti belum merata. Suku bunga KPR yang masih relatif tinggi juga jadi faktor penahan permintaan, terutama dari kelas menengah.

Kalau kita tarik sedikit lebih luas, kondisi ini juga mencerminkan situasi sektor properti secara umum. IHSG memang masih bergerak fluktuatif, dan saham-saham properti belum benar-benar menunjukkan tren bullish yang kuat. Sentimen global seperti kebijakan suku bunga, ditambah faktor domestik seperti daya beli masyarakat, masih jadi penentu utama.

Ke depan, ada beberapa hal yang layak diperhatikan kalau kamu mengamati APLN. Salah satunya adalah realisasi marketing sales di paruh pertama 2026—ini biasanya jadi indikator awal apakah target tahunan realistis atau tidak. Selain itu, peluncuran proyek baru dan kemungkinan divestasi aset juga bisa jadi game changer. Dan tentu saja, arah suku bunga KPR serta kebijakan insentif properti dari pemerintah bakal sangat berpengaruh.

Jadi, meskipun kinerja 2025 terlihat “merah”, ceritanya belum selesai. APLN sekarang seperti sedang reset strategi—lebih hati-hati, lebih selektif, dan mungkin menunggu timing yang tepat untuk kembali agresif.

Sumber:

Laporan keuangan dan keterbukaan informasi PT Agung Podomoro Land Tbk (2025)

IDN Financials

Indo Premier Sekuritas (IPOT News)

Ringkasan laporan analis pasar properti Indonesia

Berita Emiten, IDX:APLN

Post navigation

Previous Post: BBCA Siap Tebar Dividen Tiga Kali pada 2026, Saatnya Koleksi atau Tunggu Dulu?
Next Post: Di Balik Lahirnya BRIS, Apa Strategi, Pertumbuhan dan Harapan Investor

Related Posts

Rukun Raharja (RAJA) Caplok Saham Layar Nusantara Gas, Perkuat Posisi di Infrastruktur LNG Nasional Berita Emiten
Laba Petrosea Melonjak 197% di Tahun 2025, Strategi Ekspansi Energi Mulai Terlihat Hasilnya Berita Emiten
ESIP Tancap Gas Ekspansi Rp200 Miliar, Diversifikasi ke Kemasan Kertas Jadi Kunci Re-rating Saham Berita Emiten
Kinerja SAMF Melambat, Efek Konflik Timur Tengah Mulai Membayangi Berita Emiten
Emiten Poultry Mulai Tancap Gas, MAIN Siapkan Rp1 Triliun di Tengah Tekanan Bahan Baku Berita Emiten
Dividen Jumbo TGKA Capai Yield 6,4%, Investor Mulai Bidik Potensi Re-rating Saham Konsumer Berita Emiten

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright © 2026 Bursa Terkini.

Add as a preferred source on Google
Add as preferred source on Google

Powered by
►
Necessary cookies enable essential site features like secure log-ins and consent preference adjustments. They do not store personal data.
None
►
Functional cookies support features like content sharing on social media, collecting feedback, and enabling third-party tools.
None
►
Analytical cookies track visitor interactions, providing insights on metrics like visitor count, bounce rate, and traffic sources.
None
►
Advertisement cookies deliver personalized ads based on your previous visits and analyze the effectiveness of ad campaigns.
None
►
Unclassified cookies are cookies that we are in the process of classifying, together with the providers of individual cookies.
None
Powered by