Kalau ngomongin saham sektor perkebunan, nama PT Triputra Agro Persada Tbk atau TAPG lagi cukup menarik perhatian belakangan ini. Gimana nggak, di tengah kondisi pasar yang naik-turun dan ketidakpastian global, perusahaan ini justru berhasil mencatatkan kinerja yang solid sepanjang 2025.
Bayangin aja, TAPG berhasil mengantongi laba bersih sebesar Rp3,84 triliun. Angka ini naik sekitar 19% dibandingkan tahun sebelumnya. Buat ukuran perusahaan agribisnis, ini bukan cuma bagus—tapi juga nunjukin kalau strategi mereka jalan dengan cukup efektif. Pendapatannya sendiri juga ikut naik jadi sekitar Rp11,4 triliun, yang berarti ada pertumbuhan sekitar 18% secara tahunan.
Kalau ditelusuri lebih dalam, sumber utama cuan TAPG masih datang dari bisnis inti mereka, yaitu crude palm oil (CPO). Kontribusinya bahkan mencapai lebih dari 80% total pendapatan. Jadi jelas banget kalau performa TAPG ini sangat dipengaruhi oleh harga CPO global. Nah, sepanjang 2025 kemarin, harga CPO memang cukup kuat, ditambah lagi produksi mereka juga naik. Kombinasi ini yang bikin kinerja keuangan TAPG terdorong naik.
Nggak cuma dari sisi laba, kondisi keuangan mereka juga kelihatan sehat. Total aset sudah tembus sekitar Rp14,7 triliun, dengan utang yang masih terjaga di kisaran Rp3 triliun. Artinya, struktur keuangan mereka cukup solid dan nggak terlalu terbebani liabilitas. Arus kas operasional yang mencapai Rp3,4 triliun juga jadi sinyal positif kalau bisnisnya memang menghasilkan cash yang kuat, bukan sekadar “bagus di atas kertas”.
Tapi menariknya, meskipun kinerjanya kinclong, pergerakan saham TAPG di pasar nggak selalu ikut euforia. Di sesi perdagangan terakhir, sahamnya justru sempat melemah tipis. Ini biasanya terjadi karena investor melakukan aksi ambil untung setelah harga naik sebelumnya. Selain itu, kondisi pasar yang lebih luas juga lagi agak volatile, terutama karena faktor global seperti harga minyak dan tensi geopolitik.
Dari sisi analis, sentimen terhadap TAPG masih cenderung positif. Beberapa rumah riset bahkan masih kasih rekomendasi “buy” atau “overweight”. Target harga juga ada yang direvisi naik, seiring dengan ekspektasi bahwa kinerja perusahaan ini masih bisa tumbuh ke depan. Faktor seperti efisiensi operasional dan potensi dividen juga jadi daya tarik tersendiri buat investor.
Meski begitu, tetap ada hal yang perlu diperhatikan. Salah satunya adalah ketergantungan pada beberapa pelanggan besar yang menyumbang porsi signifikan dari total penjualan. Ini bisa jadi risiko kalau suatu saat terjadi perubahan dalam hubungan bisnis atau permintaan.
Ke depan, ada beberapa hal yang bakal jadi fokus pasar. Mulai dari pergerakan harga CPO global, kebijakan biodiesel seperti B45 atau bahkan B50, sampai rencana ekspansi pabrik baru yang lagi disiapkan TAPG. Semua ini bisa jadi katalis yang mendorong kinerja dan harga saham mereka ke level berikutnya.
Jadi, buat kamu yang lagi mantau saham sektor komoditas, TAPG ini termasuk salah satu yang layak masuk radar. Tapi tetap ya, karena ini sektor berbasis komoditas, pergerakannya pasti nggak lepas dari dinamika global yang kadang sulit diprediksi.
Sumber:
Laporan keuangan & keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia
Data kinerja perusahaan dari IDN Financials
Riset analis dari Mirae Asset Sekuritas Indonesia