- MEJA siap masuk bisnis batubara melalui akuisisi 45% saham PT Trimitra Coal Perkasa (TCP) senilai sekitar US$100 juta untuk mendiversifikasi sumber pendapatan.
- TCP memiliki potensi besar dengan konsesi tambang sekitar 11.640 hektare di Sumatera Selatan dan estimasi sumber daya batubara mencapai 693,7 juta ton.
- Investor menanti katalis berikutnya, termasuk rights issue, penyelesaian akuisisi, serta dampak bisnis tambang terhadap kinerja keuangan MEJA mulai 2027.
PT Harta Djaya Karya Tbk (MEJA) sedang menyiapkan perubahan besar yang bisa mengubah wajah perusahaan secara total. Jika selama ini MEJA lebih dikenal sebagai emiten yang bergerak di bidang furnitur dan konstruksi interior, kini perusahaan mulai membidik peluang baru di sektor yang jauh berbeda, yakni pertambangan batubara.
Langkah ini muncul setelah MEJA mengumumkan rencana akuisisi 45% saham PT Trimitra Coal Perkasa (TCP), perusahaan tambang batubara yang memiliki konsesi seluas lebih dari 11.000 hektare di Sumatera Selatan. Nilai transaksi yang disiapkan pun tidak kecil, mencapai sekitar US$100 juta atau setara lebih dari Rp1,6 triliun.
Bagi investor pasar modal, kabar ini langsung menarik perhatian. Pasalnya, aksi korporasi tersebut berpotensi mengubah model bisnis dan sumber pendapatan perusahaan secara signifikan. Dari perusahaan yang sebelumnya mengandalkan bisnis furnitur dan jasa konstruksi, MEJA berpeluang mendapatkan eksposur langsung ke sektor komoditas yang selama beberapa tahun terakhir menjadi salah satu motor penggerak ekonomi Indonesia.
Manajemen MEJA menyebut bahwa akuisisi ini merupakan bagian dari strategi diversifikasi usaha. Tujuannya sederhana, yaitu menciptakan sumber pendapatan baru yang lebih besar dan lebih berkelanjutan. Apalagi industri batubara masih menjadi salah satu sektor yang memiliki kontribusi besar terhadap ekspor Indonesia, meskipun menghadapi berbagai tantangan terkait transisi energi global.
Yang membuat pasar semakin tertarik adalah potensi cadangan yang dimiliki TCP. Berdasarkan laporan yang dipublikasikan perusahaan, area tambang tersebut memiliki estimasi sumber daya batubara sekitar 693,7 juta ton. Angka itu tentu memberikan gambaran bahwa aset yang diincar MEJA bukanlah tambang berukuran kecil.
Namun tentu saja jalan menuju transformasi ini masih panjang. Akuisisi belum selesai dan masih memerlukan berbagai proses, termasuk persetujuan pemegang saham, due diligence, serta penyelesaian struktur pendanaan. Salah satu opsi yang sedang dipertimbangkan perusahaan adalah menggelar rights issue dengan kisaran harga pelaksanaan Rp450 hingga Rp550 per saham.
Di sisi lain, pasar juga masih menunggu kejelasan mengenai bagaimana transaksi tersebut akan memberikan dampak terhadap kinerja keuangan perusahaan. Manajemen memperkirakan kontribusi penuh dari bisnis tambang baru bisa mulai terlihat pada laporan keuangan 2027. Artinya, investor yang masuk saat ini lebih banyak bertaruh pada potensi pertumbuhan jangka menengah dan panjang.
Menariknya, hingga saat ini belum banyak rumah riset atau sekuritas yang menerbitkan rekomendasi maupun target harga resmi untuk saham MEJA pasca pengumuman ekspansi tersebut. Kondisi ini membuat pergerakan saham MEJA masih sangat dipengaruhi sentimen pasar dan perkembangan terbaru terkait proses akuisisi.
Langkah MEJA juga terjadi pada saat sektor komoditas masih menjadi perhatian investor. Di tengah ketidakpastian ekonomi global, fluktuasi suku bunga, dan volatilitas pasar saham, emiten yang memiliki eksposur terhadap sumber daya alam sering kali mendapatkan perhatian lebih karena dianggap memiliki potensi menghasilkan arus kas yang kuat ketika harga komoditas berada di level yang menguntungkan.
Karena itu, beberapa bulan ke depan akan menjadi periode yang sangat penting bagi MEJA. Investor akan mencermati perkembangan rights issue, finalisasi akuisisi TCP, hasil valuasi aset, hingga rencana produksi tambang setelah transaksi selesai. Jika seluruh proses berjalan sesuai rencana, MEJA berpotensi berubah dari emiten berkapitalisasi kecil di sektor furnitur menjadi pemain baru yang memiliki pijakan di industri batubara nasional.
Apakah transformasi ini akan menjadi kisah sukses berikutnya di Bursa Efek Indonesia atau justru menghadapi tantangan besar di tengah dinamika industri tambang? Jawabannya masih harus ditunggu. Namun satu hal yang pasti, langkah MEJA saat ini telah berhasil membuat pasar kembali melirik saham yang sebelumnya jarang menjadi sorotan.
Sumber:
Keterbukaan Informasi PT Harta Djaya Karya Tbk (MEJA)
Kontan
TradingView Indonesia
UGEMS
Bursa Efek Indonesia (BEI)