- DMAS menargetkan marketing sales Rp2,08 triliun untuk 2026, namun sahamnya tetap ditutup melemah 0,73% di Rp136 pada 26 Februari 2026.
- Sentimen pasar yang masih lemah dan IHSG yang terkoreksi ikut menekan pergerakan saham kawasan industri, termasuk DMAS.
- Investor kini menunggu realisasi penjualan lahan dan laporan keuangan berikutnya sebagai katalis utama arah saham selanjutnya.

Kalau kamu lagi mantengin saham kawasan industri, nama PT Puradelta Lestari Tbk (DMAS) pasti nggak asing. Menjelang perdagangan Jumat, 27 Februari 2026, saham ini jadi bahan obrolan setelah manajemen resmi memasang target prapenjualan alias marketing sales sebesar Rp2,08 triliun untuk tahun 2026.
Target ini disampaikan lewat keterbukaan informasi dan siaran pers perusahaan. Manajemen menyebutkan bahwa penjualan lahan industri masih akan jadi kontributor utama, terutama dari permintaan sektor data center yang dalam beberapa tahun terakhir memang lagi naik daun. Secara narasi, ini terdengar positif. Tapi pasar ternyata merespons dengan cukup hati-hati.
Pada penutupan perdagangan Kamis, 26 Februari 2026, saham DMAS ditutup di level Rp136 per saham, turun tipis 0,73% dari posisi sebelumnya Rp137. Penurunan ini memang tidak dalam, tapi cukup menggambarkan bahwa investor belum sepenuhnya yakin target tersebut bisa langsung diterjemahkan menjadi katalis jangka pendek. Di sesi after-hours, tekanan masih terasa meski dengan volume terbatas.
Kalau kita tarik sedikit lebih lebar, kondisi ini juga nggak bisa dilepaskan dari sentimen pasar secara keseluruhan. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada hari yang sama juga ditutup melemah lebih dari 1%. Tekanan eksternal, mulai dari kekhawatiran kebijakan global sampai arus dana asing yang fluktuatif, bikin pelaku pasar cenderung defensif. Saham-saham sektor properti dan kawasan industri, termasuk DMAS, ikut terkena imbasnya.
Dari sisi analis, pandangan terhadap DMAS cenderung netral. Beberapa riset masih mempertahankan rekomendasi “hold” dengan target harga yang tidak terlalu jauh dari harga pasar saat ini. Artinya, upside jangka pendek dinilai terbatas kecuali ada katalis tambahan yang lebih kuat. Namun ada juga proyeksi jangka menengah yang melihat potensi lebih tinggi jika realisasi penjualan lahan, khususnya ke tenant data center dan manufaktur, bisa melampaui ekspektasi.
Yang menarik, DMAS sebenarnya punya cerita fundamental yang cukup solid. Kawasan industri mereka di Cikarang masih menjadi salah satu yang paling aktif dalam menarik investor, termasuk perusahaan teknologi dan logistik. Tantangannya sekarang lebih ke timing realisasi penjualan dan bagaimana kondisi makro mempengaruhi keputusan ekspansi para tenant.
Buat trader jangka pendek, pergerakan DMAS besok kemungkinan besar masih akan dipengaruhi sentimen pasar secara umum dan respons lanjutan terhadap target marketing sales tadi. Sementara untuk investor jangka menengah, fokusnya mungkin bergeser ke laporan keuangan kuartal berikutnya dan update realisasi penjualan lahan sepanjang awal tahun 2026.
Jadi, apakah ini sinyal akumulasi atau justru fase konsolidasi lebih panjang? Jawabannya kembali ke profil risiko masing-masing. Yang jelas, dengan target Rp2,08 triliun sudah diletakkan di meja, manajemen DMAS kini punya ekspektasi yang harus dijaga. Pasar akan menagih realisasinya.
Sumber: Keterbukaan Informasi PT Puradelta Lestari Tbk, siaran pers perusahaan 26 Februari 2026, data harga saham Bursa Efek Indonesia, serta ringkasan laporan dan konsensus analis yang dipublikasikan melalui IDN Financials dan Investing.com.