- AVIA menaikkan harga jual produk hingga 10% untuk menjaga margin di tengah kenaikan biaya bahan baku, namun penjualan dan laba tetap tumbuh kuat pada kuartal I-2026.
- Penguatan jaringan distribusi menjadi strategi utama AVIA, dengan target ekspansi hingga 140 pusat distribusi untuk memperbesar penetrasi pasar nasional.
- Analis masih optimistis terhadap prospek saham AVIA karena dinilai memiliki fundamental kuat, brand solid, dan kemampuan menjaga profitabilitas di tengah kondisi pasar yang fluktuatif.
Di tengah kondisi ekonomi yang masih penuh tantangan, ada satu emiten cat nasional yang justru terlihat cukup percaya diri menghadapi tahun 2026. PT Avia Avian Tbk (AVIA), produsen cat Avian dan beberapa merek ternama lainnya, memilih strategi yang cukup berani: menaikkan harga jual produk sambil terus memperkuat jaringan distribusi di seluruh Indonesia.
Biasanya, ketika harga produk naik, pasar akan khawatir penjualan turun karena daya beli masyarakat sedang tidak terlalu kuat. Tapi menariknya, AVIA justru berhasil mencatat pertumbuhan penjualan dan laba yang cukup solid pada kuartal pertama tahun ini.
Manajemen perusahaan mengungkapkan bahwa kenaikan harga dilakukan untuk mengimbangi biaya bahan baku yang makin mahal. Harga resin, solvent, dan berbagai bahan berbasis minyak mengalami kenaikan cukup tinggi akibat fluktuasi harga minyak dunia dan pelemahan rupiah. Karena itu, perusahaan melakukan penyesuaian harga jual sekitar 7% hingga 10% pada beberapa produk mereka.
Meski begitu, permintaan pasar ternyata masih cukup kuat. Bahkan sebelum kenaikan harga berlaku, banyak distributor dan toko bangunan meningkatkan pembelian stok. Efeknya, penjualan AVIA pada kuartal I-2026 naik sekitar 16,8% secara tahunan menjadi Rp2,3 triliun. Laba bersih perusahaan juga ikut naik menjadi sekitar Rp503 miliar.
Salah satu kekuatan utama AVIA memang ada di distribusinya. Perusahaan ini dikenal punya jaringan distribusi yang sangat luas hingga ke berbagai kota kecil di Indonesia. Strategi ini penting karena bisnis cat sangat bergantung pada ketersediaan produk di toko bangunan dan retail tradisional.
AVIA juga terus memperluas pusat distribusi baru. Targetnya, perusahaan ingin memiliki sekitar 140 pusat distribusi pada 2026. Dengan distribusi yang makin dekat ke konsumen, biaya logistik bisa ditekan dan pengiriman produk jadi lebih cepat. Ini yang membuat AVIA punya keunggulan dibanding banyak pemain lain di industri cat nasional.
Analis pasar juga masih cukup optimistis terhadap prospek saham AVIA. NH Korindo Sekuritas misalnya masih memberikan rekomendasi buy dengan target harga Rp560 per saham. Mereka melihat strategi kenaikan harga jual dan efisiensi distribusi dapat membantu perusahaan menjaga margin keuntungan di tengah tekanan biaya produksi.
Sementara itu, Maybank Sekuritas juga masih mempertahankan pandangan positif terhadap AVIA dengan target harga Rp500. Menurut mereka, AVIA punya peluang memperbesar pangsa pasar karena banyak pemain kecil di industri cat mulai kesulitan menghadapi kenaikan biaya bahan baku.
Di sisi lain, kondisi pasar saham Indonesia sendiri masih cukup fluktuatif. Investor masih dibayangi sentimen global, pergerakan rupiah, dan perlambatan konsumsi domestik. Karena itu, emiten yang mampu menjaga margin laba seperti AVIA cenderung lebih disukai pasar dibanding perusahaan yang profitnya mudah tertekan.
Yang menarik untuk diperhatikan ke depan adalah apakah kenaikan harga jual ini bisa terus diterima pasar tanpa mengganggu pertumbuhan volume penjualan. Selain itu, investor juga akan memantau perkembangan ekspansi distribusi, harga bahan baku, hingga kemungkinan perusahaan memperluas pasar ekspor.
Kalau AVIA berhasil menjaga keseimbangan antara kenaikan harga, pertumbuhan penjualan, dan efisiensi distribusi, bukan tidak mungkin perusahaan ini tetap menjadi salah satu emiten consumer building materials favorit investor di Bursa Efek Indonesia tahun ini.
Sumber:
Kontan Insight
NH Korindo Sekuritas
Maybank Sekuritas
TradingView Indonesia
Laporan dan paparan publik PT Avia Avian Tbk