- Saham GOTO kembali ke level gocap (Rp50) akibat tekanan sentimen regulasi dan kehati-hatian pasar terhadap prospek sektor teknologi.
- Investor asing mulai terlihat melakukan akumulasi, memunculkan spekulasi bahwa valuasi GOTO sudah mulai dianggap menarik setelah koreksi panjang.
- Pasar kini menunggu katalis berikutnya seperti kinerja kuartalan, dampak regulasi, keberlanjutan profitabilitas, dan arah arus dana asing.
Ada sesuatu yang menarik dari pergerakan saham GOTO belakangan ini. Di saat banyak investor ritel mulai kehilangan kesabaran karena harga saham kembali menyentuh level Rp50 alias “gocap”, justru muncul tanda-tanda bahwa investor asing mulai pelan-pelan menambah posisi.
Fenomena seperti ini sebenarnya cukup sering terjadi di pasar modal. Ketika sentimen sedang negatif dan harga turun cukup dalam, biasanya akan muncul dua kubu: mereka yang memilih keluar karena khawatir tekanan masih berlanjut, dan mereka yang mulai melihat peluang karena valuasi dianggap sudah murah.
Untuk GOTO, cerita yang sedang dimainkan pasar sekarang bukan lagi soal pertumbuhan pengguna seperti beberapa tahun lalu. Fokus investor sudah berubah. Pertanyaannya sekarang lebih sederhana: apakah perusahaan bisa menjaga profitabilitas, mempertahankan efisiensi, dan menghasilkan pertumbuhan yang sehat?
Koreksi harga saham GOTO sendiri datang di tengah beberapa sentimen yang cukup berat. Salah satu yang paling diperhatikan pasar adalah arah regulasi terkait industri transportasi online, terutama isu mengenai batas komisi yang berpotensi memengaruhi pendapatan platform digital. Buat perusahaan berbasis ekosistem seperti GOTO, perubahan kecil di struktur biaya bisa langsung memengaruhi proyeksi keuntungan.
Tidak heran kalau tekanan jual sempat membuat saham kembali turun ke area gocap.
Tapi menariknya, ketika sebagian investor memilih menunggu di pinggir lapangan, sejumlah investor institusi global justru mulai terlihat mengoleksi saham ini. Pasar membaca langkah tersebut sebagai sinyal bahwa ada pihak yang melihat harga sekarang sudah cukup menarik untuk mulai masuk secara bertahap.
Kalau dilihat lebih jauh, ini masuk akal juga. Setelah melewati fase bakar uang yang panjang dan mulai menunjukkan kemampuan menghasilkan laba operasional, narasi GOTO memang berubah. Investor besar biasanya lebih tertarik masuk saat ekspektasi pasar sedang rendah dibanding ketika euforia sedang tinggi.
Dari sisi analis, pandangan terhadap saham ini juga belum sepenuhnya negatif. Ada rumah riset yang masih mempertahankan rekomendasi positif dengan target harga di atas level pasar saat ini. Artinya, meski risikonya tetap ada, sebagian analis masih melihat ruang pemulihan jika eksekusi bisnis berjalan sesuai rencana.
Tentu saja perjalanan GOTO belum selesai. Saham teknologi tetap sensitif terhadap banyak hal: suku bunga global, kondisi ekonomi domestik, regulasi industri, sampai perubahan perilaku konsumen. Di pasar yang volatil seperti sekarang, investor biasanya mencari bukti nyata, bukan sekadar cerita pertumbuhan.
Karena itu, beberapa bulan ke depan bakal jadi periode penting. Pasar akan menunggu apakah kinerja kuartalan berikutnya bisa menjaga tren profitabilitas, bagaimana dampak regulasi terhadap bisnis inti, apakah program buyback memberi efek ke sentimen, dan yang tidak kalah penting: apakah investor asing terus menambah posisi atau justru berhenti di tengah jalan.
Untuk saat ini, harga gocap memang terlihat seperti simbol tekanan. Tapi buat sebagian pelaku pasar, justru di area seperti inilah cerita baru sering dimulai.
Sumber:
Laporan perdagangan dan data pasar dari Bursa Efek Indonesia (BEI)
Publikasi dan pemberitaan IDN Financials terkait pergerakan saham GOTO
Riset analis Macquarie Sekuritas Indonesia (target harga dan rating)
Publikasi pasar modal dari Investor.id
Laporan dan ulasan pasar dari Kontan Investasi dan data kepemilikan investor institusi global