Tapi memasuki 2026, ceritanya mulai berubah. Ada satu momentum klasik yang hampir selalu jadi penyelamat sektor ini: Ramadan dan Lebaran. Setiap tahun, permintaan daging ayam biasanya naik signifikan karena konsumsi rumah tangga meningkat. Dari yang awalnya biasa saja, tiba-tiba permintaan melonjak karena kebutuhan berbuka puasa, sahur, sampai persiapan hari raya.
Nah, kondisi ini yang sekarang mulai dilirik lagi oleh investor. Saham-saham poultry, termasuk AYAM, mulai punya potensi untuk rebound. Bukan karena tiba-tiba fundamental berubah drastis, tapi lebih karena ada dorongan musiman yang cukup kuat dan cukup konsisten terjadi tiap tahun.
Beberapa analis bahkan sudah mulai meng-highlight potensi ini. Mereka melihat bahwa kuartal pertama 2026 bisa jadi titik balik untuk sektor unggas, dengan pertumbuhan laba yang diperkirakan mulai pulih. Permintaan yang naik selama Ramadan biasanya membantu mendorong volume penjualan sekaligus menjaga harga ayam tetap stabil, bahkan cenderung naik.
Kalau harga ayam hidup bisa naik ke kisaran yang lebih sehat, otomatis margin emiten juga ikut terdorong. Ini penting, karena salah satu masalah besar di 2025 adalah harga jual yang tidak cukup kuat untuk menutup biaya produksi, terutama pakan yang harganya masih tinggi.
Menariknya lagi, sentimen positif ini tidak hanya terbatas di AYAM. Saham-saham besar seperti CPIN, JPFA, dan MAIN juga ikut dapat perhatian dari analis, dengan beberapa rekomendasi “buy” dan target harga yang cukup optimistis. Artinya, ada keyakinan bahwa sektor ini secara keseluruhan memang sedang menuju fase pemulihan, meskipun mungkin belum sepenuhnya stabil.
Di tengah kondisi pasar yang masih penuh ketidakpastian global, sektor poultry justru punya karakter defensif yang cukup menarik. Ketika banyak sektor lain tergantung pada ekspor atau kondisi makro global, konsumsi ayam di Indonesia lebih banyak ditopang oleh permintaan domestik. Selama masyarakat masih makan ayam—dan faktanya konsumsi protein hewani terus meningkat—sektor ini tetap punya pondasi yang kuat.
Walaupun begitu, bukan berarti semuanya tanpa risiko. Harga bahan baku pakan seperti soybean meal masih jadi faktor krusial. Kalau tiba-tiba naik lagi, margin bisa kembali tertekan. Belum lagi kalau ada perubahan kebijakan impor atau gangguan supply chain. Jadi, meskipun prospeknya terlihat cerah, tetap ada hal-hal yang perlu diwaspadai.
Selain itu, investor juga perlu memperhatikan bagaimana daya beli masyarakat selama Ramadan tahun ini. Kalau konsumsi benar-benar kuat, efeknya ke penjualan akan terasa langsung. Tapi kalau ternyata masih tertahan, potensi kenaikan mungkin tidak sebesar yang diharapkan.
Di tengah semua itu, pergerakan IHSG juga tetap jadi backdrop penting. Kalau pasar secara keseluruhan sedang volatile karena sentimen global, saham-saham poultry mungkin tetap naik, tapi pergerakannya bisa jadi tidak seagresif yang diharapkan.
Akhirnya, yang sekarang ditunggu pasar adalah realisasi kinerja kuartal I 2026. Di situlah akan kelihatan apakah momentum Ramadan benar-benar berhasil mengangkat penjualan dan laba. Selain itu, perkembangan harga pakan dan kebijakan pemerintah juga akan jadi faktor penentu berikutnya.
Jadi, buat kamu yang lagi mengamati saham AYAM atau sektor poultry secara umum, ini bisa jadi momen yang menarik. Bukan tanpa risiko, tapi jelas ada cerita pemulihan yang mulai terbentuk—dan Ramadan sering jadi titik awalnya.
Sumber: Kontan, Liputan6, TradingView, laporan riset analis sekuritas, serta publikasi industri unggas Indonesia.