- Saham BIPI bergerak volatil di awal perdagangan setelah pasar merespons ekspansi energi hijau dan proyek strategis bersama Grup Humpuss.
- Investor masih mencermati aksi jual saham oleh Bakrie Capital yang sebelumnya sempat agresif mengoleksi saham BIPI.
- Pasar menunggu realisasi proyek energi bersih, perkembangan bisnis waste-to-energy, dan laporan keuangan berikutnya sebagai katalis utama saham BIPI.

Pergerakan saham PT Astrindo Nusantara Infrastruktur Tbk (BIPI) lagi jadi perhatian pelaku pasar pada perdagangan Selasa, 26 Mei 2026. Maklum saja, baru beberapa menit pasar dibuka, saham ini langsung bergerak cukup volatil. Sempat melemah di awal sesi, lalu perlahan mencoba bangkit lagi di tengah ramainya aksi trading jangka pendek. Situasi seperti ini sebenarnya sudah cukup sering terjadi di saham-saham sektor energi lapis kedua yang punya sentimen besar dan spekulasi tinggi.
Investor saat ini masih mencoba membaca arah baru bisnis BIPI. Perusahaan yang dulu lebih dikenal lewat bisnis batu bara dan infrastruktur ini sekarang mulai serius masuk ke sektor energi transisi dan energi hijau. Nah, perubahan arah bisnis inilah yang bikin banyak trader mulai melirik sahamnya sejak awal tahun.
Salah satu sentimen terbesar datang dari kabar kerja sama strategis dengan Grup Humpuss. Nilainya juga bukan kecil, bahkan disebut bisa mencapai sekitar US$1,5 miliar atau setara lebih dari Rp25 triliun. Proyek yang dibahas pun cukup luas, mulai dari geothermal, infrastruktur energi, sampai pengembangan industri berbasis energi bersih. Buat pasar, ini jelas jadi cerita menarik karena tema energi hijau masih jadi salah satu sektor favorit investor beberapa tahun terakhir.
Selain itu, nama BIPI juga mulai dikaitkan dengan proyek waste-to-energy atau pengolahan sampah menjadi energi. Kalau proyek-proyek seperti ini benar-benar berjalan, tentu bisa mengubah persepsi pasar terhadap perusahaan. Dari yang sebelumnya dianggap emiten lama sektor energi konvensional, menjadi pemain baru di bisnis energi masa depan.
Tapi tentu saja, tidak semua sentimen datang dengan nuansa positif. Pasar juga masih memperhatikan aksi jual besar yang dilakukan PT Bakrie Capital Indonesia beberapa waktu lalu. Sebelumnya Grup Bakrie sempat ramai diberitakan mengoleksi saham BIPI dalam jumlah jumbo. Namun belakangan justru muncul laporan bahwa sebagian besar saham itu sudah dilepas kembali ke pasar. Kondisi ini membuat investor bertanya-tanya soal strategi jangka panjang pemegang saham besar tersebut.
Meski begitu, trader tampaknya belum benar-benar meninggalkan saham ini. Volatilitas tinggi justru membuat BIPI jadi arena trading favorit untuk sebagian investor agresif. Secara teknikal, area Rp170 sampai Rp180 sekarang dianggap cukup penting sebagai level support jangka pendek. Kalau mampu bertahan di area itu, peluang technical rebound masih cukup terbuka.
Di tengah kondisi pasar yang masih naik turun akibat sentimen global dan arah suku bunga dunia, saham-saham energi memang tetap jadi pusat perhatian. Terlebih lagi kalau punya cerita transformasi bisnis seperti BIPI. Investor biasanya suka dengan emiten yang sedang mencoba “naik kelas” lewat proyek-proyek baru yang potensial.
Sekarang pasar tinggal menunggu pembuktian berikutnya. Apakah proyek energi hijau BIPI benar-benar bisa direalisasikan? Apakah kerja sama dengan Humpuss akan berjalan sesuai ekspektasi? Dan yang paling penting, apakah kinerja keuangan perusahaan nanti bisa ikut membaik sejalan dengan cerita besar yang sedang dibangun?
Jawabannya kemungkinan mulai terlihat dalam beberapa kuartal ke depan. Sampai saat itu tiba, saham BIPI tampaknya masih akan jadi salah satu saham yang ramai diperbincangkan trader di Bursa Efek Indonesia.
Sumber: Bloomberg Technoz, IDNFinancials, Katadata, Investing Indonesia, TradingView, Ajaib, data perdagangan Bursa Efek Indonesia.