- Saham PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) naik sekitar +1,47% pada perdagangan Senin, 13 April 2026, didorong mulai masuknya minat beli setelah periode tekanan.
- Analis tetap optimis dengan rekomendasi buy dan target harga hingga Rp10.000–Rp11.000, seiring proyeksi lonjakan produksi dan potensi pemulihan kinerja di 2026.
- Investor masih mencermati katalis utama seperti peningkatan produksi Batu Hijau, perkembangan proyek Elang, serta pergerakan harga komoditas global (tembaga dan emas).

Kalau kamu lagi ngikutin saham tambang di Bursa Efek Indonesia, nama PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) belakangan ini memang lagi cukup menarik perhatian. Di sesi perdagangan Senin, 13 April 2026, saham ini sempat menunjukkan tanda-tanda “bangkit” setelah beberapa waktu sebelumnya cenderung tertekan.
Dalam satu hari perdagangan itu, AMMN tercatat naik sekitar +1,47% secara intraday. Kenaikan ini memang belum bisa dibilang rally besar, tapi cukup memberi sinyal bahwa minat beli mulai kembali masuk, terutama di harga-harga bawah. Buat investor yang sudah lama mantau, ini bisa jadi indikasi awal perubahan sentimen.
Yang bikin menarik, pergerakan ini nggak muncul begitu saja. Ada sentimen yang cukup kuat di belakangnya, yaitu soal prospek kinerja perusahaan ke depan. Beberapa analis mulai melihat bahwa AMMN punya peluang besar untuk “comeback” mulai tahun 2026, terutama karena peningkatan produksi dari tambang Batu Hijau.
Salah satu yang cukup vokal adalah Maybank Sekuritas yang langsung kasih rekomendasi “buy” dengan target harga di kisaran Rp11.000. Kalau dibandingkan harga sekarang, ini jelas upside-nya masih besar. Bahkan, konsensus analis juga masih optimis dengan target rata-rata di sekitar Rp10.000. Artinya, secara valuasi, banyak yang melihat saham ini masih undervalued—tentunya dengan catatan semua proyeksi berjalan sesuai rencana.
Kalau ditarik lebih dalam, optimisme ini datang dari ekspektasi lonjakan produksi tembaga dan emas. Beberapa riset bahkan memperkirakan laba bersih AMMN bisa tembus hingga US$1 miliar lebih di 2026. Buat perusahaan tambang, angka ini jelas signifikan dan bisa jadi game changer.
Tapi ya, tetap harus realistis juga. Pergerakan saham AMMN masih cukup volatile. Secara teknikal, tren jangka pendeknya belum sepenuhnya kuat. Ditambah lagi, sektor tambang memang sangat dipengaruhi faktor eksternal seperti harga komoditas global dan kondisi geopolitik. Jadi walaupun ada potensi naik, risikonya juga masih ada.
Di sisi lain, kondisi pasar secara keseluruhan juga ikut mempengaruhi. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) beberapa waktu terakhir cenderung naik-turun. Saham-saham berbasis komoditas seperti AMMN biasanya cukup sensitif terhadap pergerakan indeks ini. Jadi kalau IHSG lagi lemah, biasanya saham seperti ini juga ikut kena imbas.
Ke depan, ada beberapa hal yang wajib banget dipantau kalau kamu tertarik sama AMMN. Yang paling utama tentu realisasi peningkatan produksi dari tambang Batu Hijau. Selain itu, perkembangan proyek Elang juga bisa jadi katalis besar untuk jangka panjang. Jangan lupa juga laporan keuangan berikutnya—ini bakal jadi “bukti nyata” apakah proyeksi analis mulai terealisasi atau belum.
Dan tentu saja, faktor klasik: harga tembaga dan emas dunia. Karena ujung-ujungnya, kinerja perusahaan tambang sangat bergantung ke sana.
Sumber:
Data pergerakan saham dari TradingView, laporan keuangan dan data perusahaan dari IDN Financials, konsensus analis dari Investing.com, serta riset dan laporan analis dari Maybank Sekuritas dan Indo Premier Sekuritas.