- Saham DKFT naik sekitar +2,47% di awal sesi 23 April 2026, didorong sentimen kinerja solid dan minat beli yang kembali masuk.
- Prospek hilirisasi lewat proyek smelter RKEF jadi katalis utama, dengan target harga analis di kisaran Rp900 (rating mayoritas “buy”).
- Pergerakan juga didukung harga nikel global yang stabil, sementara pasar menunggu realisasi proyek dan kinerja berikutnya sebagai penentu arah lanjutan.

Kalau kamu ngikutin pergerakan saham-saham tambang, khususnya yang terkait nikel, hari ini ada satu nama yang cukup menarik buat diperhatikan: DKFT alias PT Central Omega Resources Tbk. Di awal sesi perdagangan Kamis, 23 April 2026, saham ini langsung “hijau” dan sempat naik sekitar 2,47% ke area Rp748 dari penutupan sebelumnya di Rp730. Walaupun pasar baru buka dan belum tutup, pergerakan awal ini sudah cukup kasih sinyal kalau ada minat beli yang mulai balik.
Yang bikin menarik, kenaikan ini bukan sekadar teknikal rebound biasa. Ada cerita fundamental di belakangnya. DKFT lagi dapat sentimen positif dari update kinerja mereka yang cukup solid sepanjang 2025. Produksi dan penjualan nikel masih tumbuh, yang artinya bisnis inti mereka masih jalan dengan cukup sehat. Di sektor komoditas seperti ini, konsistensi produksi itu penting banget, karena langsung berpengaruh ke pendapatan.
Selain itu, yang bikin investor mulai melirik lagi adalah rencana ekspansi mereka ke hilirisasi. DKFT lagi dorong pengembangan smelter berbasis teknologi RKEF (Rotary Kiln Electric Furnace). Kalau proyek ini berjalan sesuai rencana dan masuk tahap uji coba di 2026, dampaknya bisa signifikan. Kenapa? Karena hilirisasi biasanya bikin margin lebih tebal dibanding cuma jual bahan mentah. Ini juga inline sama arah kebijakan pemerintah Indonesia yang memang lagi agresif dorong value-added di sektor tambang.
Dari sisi analis, outlook untuk DKFT juga mulai kelihatan lebih optimistis. Konsensus target harga ada di sekitar Rp900 untuk 12 bulan ke depan. Artinya, dari level sekarang masih ada potensi upside yang lumayan. Mayoritas rekomendasi juga masih di area “buy”, dengan catatan bahwa eksekusi proyek smelter jadi faktor kunci apakah valuasi bisa naik lebih tinggi lagi atau tidak.
Faktor eksternal juga ikut bantu. Harga nikel global belakangan ini relatif stabil dengan kecenderungan menguat. Sebagai salah satu produsen besar dunia, Indonesia punya pengaruh besar terhadap supply global. Jadi ketika ada ekspektasi supply ketat atau kebijakan baru dari pemerintah, saham-saham seperti DKFT biasanya langsung ikut bergerak.
Kalau dilihat dari sisi market secara umum, IHSG hari ini cenderung bergerak stabil di awal sesi. Nggak terlalu agresif naik, tapi juga nggak tertekan. Kondisi seperti ini justru sering jadi “panggung” buat saham-saham mid-cap atau second liner seperti DKFT untuk bergerak lebih bebas, terutama kalau ada sentimen spesifik perusahaan.
Tapi tetap perlu diingat, karena ini masih awal sesi, volatilitas intraday masih mungkin terjadi. Apalagi kalau indikator teknikal sudah mulai mendekati area jenuh beli, biasanya ada potensi profit taking jangka pendek. Jadi buat trader, level psikologis di sekitar Rp750 bakal jadi area penting buat dipantau.
Ke depan, yang paling ditunggu pasar jelas realisasi proyek smelter tadi, plus update kinerja berikutnya di semester I-2026. Selain itu, arah harga nikel global juga bakal terus jadi driver utama. Kalau semua katalis ini jalan sesuai ekspektasi, bukan nggak mungkin DKFT bisa lanjut rally. Tapi kalau ada delay atau sentimen komoditas berubah, arah pergerakannya juga bisa cepat berbalik.
Sumber:
Keterbukaan informasi PT Central Omega Resources Tbk
Laporan dan publikasi perusahaan (centralomega.com)
Data pasar dan konsensus analis (Investing.com, TradingView)
Riset pasar komoditas dan nikel (Indo Premier Sekuritas)