- Saham GOTO bergerak fluktuatif di tengah investor yang masih menunggu konsistensi profitabilitas perusahaan teknologi tersebut.
- Bisnis fintech seperti GoPay mulai dianggap sebagai mesin pertumbuhan utama yang bisa mendorong kinerja GOTO ke depan.
- Pasar kini fokus pada laporan keuangan berikutnya, perkembangan margin EBITDA, dan strategi baru perusahaan sebagai katalis saham selanjutnya.

Saham teknologi memang selalu menarik perhatian pasar, termasuk saham PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) yang sampai sekarang masih jadi salah satu saham paling aktif diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia. Pada perdagangan Jumat, 29 Mei 2026, pergerakan saham GOTO terlihat cukup fluktuatif, tapi belum menunjukkan arah yang benar-benar kuat. Investor tampaknya masih berada dalam fase “wait and see” sambil melihat apakah perusahaan benar-benar bisa menjaga momentum profitabilitasnya dalam jangka panjang.
Sepanjang sesi perdagangan berjalan, saham GOTO bergerak di kisaran Rp50 per saham dengan aktivitas transaksi yang tetap ramai. Ini menunjukkan minat investor terhadap saham teknologi domestik masih cukup besar, walaupun sentimen global dan kondisi ekonomi saat ini belum sepenuhnya stabil. Banyak pelaku pasar melihat GOTO sebagai representasi besar ekonomi digital Indonesia, jadi setiap perkembangan perusahaan selalu cepat mendapat respons dari investor.
Yang membuat pasar masih tertarik dengan GOTO tentu saja soal perjalanan perusahaan menuju profitabilitas. Setelah sebelumnya berhasil mencatat laba kuartalan pertama, ekspektasi investor langsung meningkat. Banyak yang mulai percaya kalau strategi efisiensi yang dijalankan manajemen mulai menunjukkan hasil nyata. Dalam beberapa tahun terakhir, GOTO memang fokus menekan biaya operasional, memperbaiki margin, dan meningkatkan monetisasi layanan mereka.
Bisnis fintech milik GOTO juga mulai jadi sorotan utama. Banyak analis melihat layanan pembayaran digital dan pinjaman online sebagai mesin pertumbuhan baru yang punya potensi margin lebih besar dibanding bisnis ride-hailing atau e-commerce tradisional. GoPay dan layanan finansial digital lainnya sekarang dianggap punya peran penting dalam menentukan arah pertumbuhan perusahaan ke depan.
Meski begitu, pasar tetap belum sepenuhnya tenang. Beberapa analis masih mengingatkan bahwa jalan menuju profitabilitas penuh tidak akan mudah. Persaingan industri teknologi di Asia Tenggara masih ketat, sementara kondisi daya beli masyarakat juga belum sepenuhnya pulih. Belum lagi tekanan global seperti arah suku bunga Amerika Serikat dan perlambatan ekonomi China yang masih membayangi sentimen pasar regional.
Menariknya, walaupun ada berbagai tantangan tersebut, mayoritas analis masih mempertahankan pandangan positif terhadap saham GOTO. Sejumlah rumah riset bahkan masih memberikan rekomendasi “buy” dengan target harga yang jauh di atas posisi saat ini. Alasannya sederhana: potensi ekonomi digital Indonesia masih sangat besar, dan GOTO punya ekosistem yang sulit disaingi karena mencakup transportasi online, e-commerce, hingga layanan keuangan digital dalam satu platform.
Di tengah kondisi pasar yang masih penuh ketidakpastian, investor sekarang tampaknya lebih fokus melihat kualitas pertumbuhan dibanding sekadar ekspansi agresif seperti beberapa tahun lalu. Pasar ingin melihat apakah GOTO benar-benar bisa menghasilkan profit secara konsisten sambil tetap menjaga pertumbuhan pengguna dan transaksi.
Selain itu, investor juga menunggu berbagai katalis berikutnya, mulai dari laporan keuangan kuartal berikutnya, perkembangan margin EBITDA, pertumbuhan bisnis fintech, sampai kemungkinan kerja sama strategis baru. Semua faktor itu bisa jadi penentu arah saham GOTO dalam beberapa bulan ke depan.
Untuk sementara, GOTO masih tetap jadi salah satu saham teknologi yang paling sering diperhatikan investor domestik. Walaupun volatilitasnya tinggi, saham ini tetap dianggap punya cerita pertumbuhan jangka panjang yang menarik, terutama kalau ekonomi digital Indonesia terus berkembang secepat sekarang.
Sumber: Bursa Efek Indonesia (BEI), laporan dan keterbukaan informasi PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk, Investing.com, serta berbagai laporan riset analis pasar dan media finansial regional.