- Saham BMRI naik sekitar 2,88% di perdagangan 11 Mei 2026 didorong optimisme kinerja dan minat beli investor pada sektor perbankan.
- Sentimen positif datang dari pembagian dividen jumbo Rp476,95 per saham serta proyeksi pertumbuhan kredit Bank Mandiri sebesar 7%-9% tahun ini.
- Mayoritas analis masih memberikan rating “Buy” untuk BMRI dengan target harga hingga Rp6.800 per saham dan menilai fundamental perseroan tetap solid.

Saham bank jumbo masih jadi pusat perhatian investor di Bursa Efek Indonesia, dan salah satu yang lagi ramai diperhatikan adalah saham PT Bank Mandiri (Persero) Tbk atau BMRI. Pada perdagangan Senin, 11 Mei 2026, saham BMRI bergerak cukup solid di tengah sentimen positif sektor perbankan nasional. Sampai sesi kedua berlangsung, saham BMRI tercatat menguat sekitar 2,88% ke level Rp4.640 per saham. Kenaikan ini membuat BMRI kembali jadi salah satu motor penggerak sektor finansial di tengah pergerakan IHSG yang cenderung mixed.
Penguatan saham BMRI sebenarnya bukan datang tanpa alasan. Pasar masih merespons positif laporan keuangan kuartal pertama 2026 serta guidance terbaru manajemen Bank Mandiri. Dalam paparan publik terbarunya, perseroan menegaskan bahwa fokus utama tahun ini tetap pada pertumbuhan kredit yang sehat, penguatan dana murah atau CASA, dan menjaga profitabilitas di tengah kompetisi likuiditas yang masih cukup ketat di industri perbankan.
Manajemen juga optimistis pertumbuhan kredit sepanjang 2026 masih bisa berada di kisaran 7%-9%. Sementara itu, net interest margin atau NIM diproyeksikan tetap stabil di level 4,5%-4,7%. Buat investor, angka ini cukup penting karena menunjukkan Bank Mandiri masih punya ruang menjaga margin keuntungan meskipun kondisi ekonomi global belum sepenuhnya stabil.
Selain faktor kinerja, sentimen dividen juga jadi daya tarik utama BMRI tahun ini. Bank Mandiri memutuskan membagikan dividen sebesar Rp476,95 per saham dari laba tahun buku 2025. Dividend payout ratio yang mendekati 80% ini dianggap sebagai sinyal bahwa kondisi permodalan dan cash flow perseroan masih sangat kuat. Tidak heran kalau saham bank besar seperti BMRI masih jadi incaran investor institusi maupun asing.
Dari sisi analis, mayoritas sekuritas juga masih cukup bullish terhadap BMRI. Maybank Sekuritas Indonesia mempertahankan rekomendasi “Buy” dengan target harga Rp5.700 per saham. Bahkan Yuanta Sekuritas Indonesia memasang target lebih tinggi di Rp6.800 karena melihat potensi pertumbuhan kredit korporasi dan kualitas aset yang tetap terjaga. Sementara itu, BRI Danareksa Sekuritas sebelumnya juga sempat menaikkan target harga BMRI menjadi Rp6.200 setelah laba perseroan dinilai melampaui ekspektasi pasar.
Kalau melihat kondisi pasar secara keseluruhan, saham-saham bank besar memang mulai kembali dilirik setelah sempat mengalami tekanan beberapa waktu lalu. Investor global masih memantau arah suku bunga Amerika Serikat, pergerakan rupiah, dan aliran dana asing ke emerging markets termasuk Indonesia. Namun di tengah ketidakpastian tersebut, sektor perbankan nasional masih dianggap sebagai salah satu sektor paling defensif dengan fundamental yang kuat.
Ke depan, pasar bakal terus memantau beberapa katalis penting untuk BMRI. Mulai dari realisasi pertumbuhan kredit semester pertama 2026, perkembangan margin bunga bersih, sampai laporan keuangan kuartal kedua nanti. Selain itu, arah kebijakan suku bunga Bank Indonesia dan potensi masuknya kembali dana asing ke saham blue chip perbankan juga bakal jadi faktor penting yang menentukan arah pergerakan BMRI berikutnya.
Sumber:
Bank Mandiri Analyst Meeting 1Q26
Bareksa
TradingView
Maybank Sekuritas Indonesia
Yuanta Sekuritas Indonesia
BRI Danareksa Sekuritas
Investortrust.id