- DFS Venture, afiliasi grup Louis Vuitton (LVMH), resmi melepas seluruh 45% sahamnya di SONA sehingga memicu volatilitas harga saham di pasar.
- Saham SONA sempat anjlok lebih dari 11% sebelum rebound, di tengah kekhawatiran investor soal arah bisnis duty free perseroan pasca pergantian pemegang saham.
- Pelaku pasar kini menanti strategi pemilik baru, potensi aksi korporasi, dan kinerja keuangan berikutnya sebagai katalis pergerakan saham SONA.
Pasar saham lagi-lagi diramaikan oleh pergerakan saham yang bikin investor melirik layar trading lebih sering dari biasanya. Kali ini datang dari saham PT Sona Topas Tourism Industry Tbk (SONA), emiten milik konglomerat Tahir yang dikenal lewat bisnis duty free shop di Indonesia. Dalam beberapa hari terakhir, saham SONA bergerak sangat volatil setelah DFS Venture Singapore Pte Ltd—unit bisnis duty free yang terafiliasi dengan grup mewah dunia Louis Vuitton Moët Hennessy (LVMH)—resmi melepas seluruh kepemilikannya di perusahaan tersebut.
Kabar ini langsung bikin pasar bereaksi. Maklum saja, nama LVMH bukan nama kecil. Grup ini adalah induk dari berbagai brand premium dunia seperti Louis Vuitton, Dior, Fendi, hingga Moët & Chandon. Selama bertahun-tahun, keberadaan DFS Venture di struktur pemegang saham SONA dianggap menjadi salah satu nilai tambah yang membuat bisnis duty free perseroan terlihat punya koneksi global yang kuat.
Berdasarkan keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia, DFS Venture menjual sekitar 298 juta saham atau setara 45% kepemilikannya di SONA kepada PT Pratama Citra Karunia lewat transaksi pasar negosiasi pada akhir April 2026. Harga transaksi dilakukan di Rp690 per saham dengan total nilai sekitar Rp205 miliar.
Yang menarik, meski transaksi dilakukan di harga jauh di bawah pasar, saham SONA justru bergerak liar setelah kabar tersebut muncul ke publik. Sahamnya sempat turun tajam lebih dari 11%, sebelum akhirnya rebound dan kembali menguat dalam perdagangan berikutnya. Pergerakan seperti ini biasanya menunjukkan pasar sedang mencari arah: antara panik karena keluarnya mitra strategis global, atau justru berspekulasi ada potensi cerita baru setelah pergantian pengendali.
Kalau melihat fundamental bisnisnya, SONA sebenarnya masih punya posisi yang cukup menarik. Perseroan dikenal sebagai salah satu operator duty free terbesar di Indonesia dengan jaringan bisnis di Bali, Jakarta, dan beberapa lokasi wisata utama lainnya. Momentum pemulihan pariwisata pasca pandemi juga masih menjadi penopang utama bisnis mereka.
Tapi memang, hengkangnya DFS menimbulkan tanda tanya besar. Investor mulai bertanya-tanya apakah hubungan bisnis dengan jaringan global luxury brand akan tetap berjalan seperti biasa atau justru berubah total ke depannya. Sebab selama ini, asosiasi dengan grup LVMH menjadi semacam “premium image” tersendiri bagi SONA.
Sejumlah analis pasar menilai gejolak harga saham SONA saat ini lebih dipengaruhi sentimen dibanding perubahan fundamental secara langsung. Selain itu, karakter saham dengan likuiditas yang tidak terlalu besar juga membuat pergerakan harga menjadi lebih sensitif terhadap transaksi jumbo.
Di tengah kondisi pasar yang masih cukup fluktuatif, investor juga sedang selektif memilih saham. IHSG sendiri bergerak mixed dalam beberapa hari terakhir karena kombinasi sentimen global, kekhawatiran perlambatan ekonomi, hingga arah suku bunga dunia. Saham-saham second liner seperti SONA akhirnya menjadi lebih mudah mengalami volatilitas tinggi ketika muncul sentimen besar.
Menariknya, ini bukan pertama kali saham SONA jadi perhatian pasar. Pada 2024 lalu, saham ini juga sempat melonjak sangat tinggi dalam waktu singkat hingga masuk radar unusual market activity (UMA) Bursa Efek Indonesia. Artinya, saham ini memang punya sejarah pergerakan yang cukup agresif ketika ada sentimen tertentu.
Sekarang pasar menunggu babak berikutnya. Investor ingin melihat apakah pemegang saham baru akan membawa strategi baru, melakukan ekspansi, atau mungkin menyiapkan aksi korporasi lain. Selain itu, laporan keuangan kuartalan berikutnya juga akan jadi sorotan penting untuk melihat apakah perubahan pemegang saham berdampak terhadap operasional bisnis perusahaan.
Untuk sementara, satu hal yang jelas: keluarnya lengan bisnis Louis Vuitton dari SONA sukses membuat saham ini kembali jadi pusat perhatian pasar.
Sumber:
Kontan, Bursa Efek Indonesia (BEI), keterbukaan informasi perseroan, IPOT News, laporan perusahaan PT Sona Topas Tourism Industry Tbk.