Kalau kamu lagi ngikutin saham teknologi di Indonesia, khususnya GOTO, pergerakan di Jumat, 10 April 2026 ini cukup menarik buat dibahas santai tapi tetap insightful. Di sesi perdagangan hari itu, saham GOTO kelihatan agak “kehabisan napas” setelah sebelumnya sempat bikin investor cukup optimis. Penutupan hari menunjukkan GOTO turun sekitar 1,92% ke level Rp51. Nggak dalam banget sih, tapi cukup nunjukin kalau pasar lagi mikir ulang.
Padahal, kalau dilihat dari sisi fundamental, kabar yang keluar justru tergolong positif. Manajemen GOTO baru aja kasih panduan kinerja untuk 2026, dengan target adjusted EBITDA di kisaran Rp3,2 triliun sampai Rp3,4 triliun. Angka ini bukan main—kalau tercapai, artinya pertumbuhan bisa tembus hampir 60%-an dibanding tahun sebelumnya. Buat ukuran perusahaan teknologi yang sebelumnya masih fokus efisiensi, ini jelas sinyal bahwa mereka makin dekat ke profitabilitas yang lebih solid.
Nah, kenapa malah turun? Di pasar saham, ini hal yang cukup umum. Ketika ada kabar bagus, sering kali investor yang sudah pegang dari bawah justru ambil untung alias profit taking. Jadi bukan berarti outlook-nya jelek, tapi lebih ke timing aja. Ditambah lagi, secara teknikal memang GOTO masih belum benar-benar keluar dari tren sideways, jadi banyak trader yang masih wait and see.
Kalau lihat dari sisi analis, justru sentimennya masih cukup positif. Beberapa sekuritas besar masih kasih rating “buy”, bahkan ada yang pasang target harga sampai Rp110. Konsensus analis juga nggak jauh beda, rata-rata di kisaran Rp80–Rp100-an. Artinya, dari harga sekarang, masih ada potensi upside yang lumayan lebar kalau semua berjalan sesuai rencana.
Yang bikin analis tetap optimis adalah arah bisnis GOTO sendiri. Mereka sudah mulai menunjukkan hasil dari strategi efisiensi sejak 2025, dan sekarang fokusnya makin ke monetisasi ekosistem. Bisnis fintech dan layanan on-demand jadi tulang punggung yang diharapkan bisa dorong profit. Bahkan, ada ekspektasi kalau GOTO bisa mulai mencatat laba bersih pertama di 2026. Kalau itu kejadian, sentimennya bisa berubah drastis.
Di sisi lain, kondisi pasar juga lagi nggak terlalu kondusif buat saham teknologi. IHSG sendiri bergerak cenderung datar dengan sedikit tekanan, karena investor masih menunggu arah kebijakan global, terutama soal suku bunga. Saham teknologi biasanya lebih sensitif terhadap hal-hal kayak gini, jadi wajar kalau pergerakannya lebih fluktuatif.
Ke depan, ada beberapa hal yang bakal jadi perhatian pasar. Yang paling utama tentu laporan keuangan berikutnya—apakah GOTO benar-benar bisa ngejar target EBITDA mereka. Selain itu, perkembangan bisnis fintech, inovasi produk, sampai kemungkinan aksi korporasi juga bakal jadi katalis penting.
Jadi, meskipun hari ini terlihat agak melemah, cerita besar GOTO sebenarnya masih jauh dari selesai. Justru fase seperti ini sering jadi momen buat investor jangka panjang mulai melirik lagi, sambil nunggu konfirmasi arah berikutnya.
Sumber:
Indo Premier Sekuritas (riset & target harga), Investing.com (konsensus analis), TradingView (data pergerakan saham), laporan dan panduan kinerja perusahaan GOTO, serta publikasi pasar terkait IHSG.
