- Laba bersih HM Sampoerna pada 2025 turun tipis menjadi sekitar Rp6,61 triliun karena melemahnya daya beli masyarakat yang menekan penjualan rokok.
- Pendapatan perusahaan juga turun menjadi sekitar Rp112 triliun, dipicu penurunan volume penjualan dan fenomena konsumen beralih ke produk rokok yang lebih murah.
- Investor di Bursa Efek Indonesia kini menunggu katalis baru seperti pemulihan konsumsi domestik dan pertumbuhan produk bebas asap sebagai potensi pendorong kinerja HMSP ke depan.
Kinerja PT Hanjaya Mandala Sampoerna Tbk atau HMSP pada tahun 2025 menunjukkan bahwa industri rokok nasional masih menghadapi tekanan yang cukup besar. Emiten rokok yang merupakan bagian dari Philip Morris International ini melaporkan laba bersih sebesar sekitar Rp6,61 triliun sepanjang 2025. Angka tersebut memang masih tergolong besar, namun jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya, laba perusahaan tercatat sedikit terkoreksi.
Penurunan laba ini tidak lepas dari melemahnya daya beli masyarakat dalam beberapa waktu terakhir. Ketika kondisi ekonomi belum sepenuhnya pulih, banyak konsumen mulai menekan pengeluaran, termasuk dalam konsumsi rokok. Hal ini berdampak langsung pada volume penjualan produk Sampoerna yang mengalami penurunan di beberapa segmen utama seperti sigaret kretek mesin (SKM) maupun sigaret kretek tangan (SKT).
Dari laporan keuangan yang disampaikan ke Bursa Efek Indonesia, pendapatan bersih HMSP pada 2025 tercatat sekitar Rp112 triliun. Angka ini turun dibandingkan tahun sebelumnya yang berada di kisaran Rp117 triliun. Penurunan tersebut menunjukkan bahwa industri rokok juga tidak kebal terhadap perubahan perilaku konsumen dan tekanan ekonomi makro.
Meski penjualan melemah, Sampoerna sebenarnya masih mampu menjaga efisiensi operasional. Perusahaan berhasil menekan biaya produksi sehingga margin kotor justru mengalami perbaikan. Dengan kata lain, walaupun pendapatan menurun, perusahaan tetap berusaha menjaga profitabilitas melalui pengelolaan biaya yang lebih ketat.
Di sisi lain, industri tembakau di Indonesia juga menghadapi tantangan struktural yang tidak ringan. Salah satunya adalah fenomena “downtrading”, yaitu ketika konsumen beralih ke produk rokok yang lebih murah. Dalam kondisi ekonomi yang menantang, sebagian perokok memilih merek dengan harga lebih rendah atau bahkan produk ilegal yang tidak terkena beban cukai tinggi.
Selain itu, kebijakan kenaikan cukai tembakau dalam beberapa tahun terakhir juga turut memberikan tekanan pada produsen rokok besar seperti Sampoerna. Kenaikan harga jual sering kali menjadi pilihan untuk menyesuaikan biaya, tetapi langkah ini berisiko membuat konsumen semakin beralih ke produk yang lebih murah.
Meski begitu, perusahaan mulai melihat peluang dari produk alternatif yang lebih modern. Produk bebas asap seperti perangkat pemanas tembakau mulai mendapatkan perhatian dari konsumen tertentu. Walaupun kontribusinya terhadap total pendapatan masih kecil, segmen ini menunjukkan pertumbuhan yang cukup cepat dan berpotensi menjadi sumber pertumbuhan baru di masa depan.
Dari sisi pasar modal, saham HMSP sendiri masih bergerak fluktuatif di Bursa Efek Indonesia. Beberapa analis pasar menilai kinerja perusahaan masih berada dalam ekspektasi, meskipun pertumbuhan industri rokok domestik diperkirakan tetap terbatas dalam jangka pendek. Beberapa rumah riset bahkan masih memberikan rekomendasi “hold” terhadap saham ini sambil menunggu tanda-tanda pemulihan konsumsi.
Ke depan, investor kemungkinan akan terus memantau beberapa faktor penting yang bisa memengaruhi kinerja HMSP. Mulai dari kondisi daya beli masyarakat, kebijakan cukai rokok dari pemerintah, hingga perkembangan produk bebas asap yang bisa menjadi mesin pertumbuhan baru bagi perusahaan.
Jika konsumsi domestik mulai membaik dan perusahaan berhasil memperluas pasar produk alternatifnya, bukan tidak mungkin kinerja HMSP akan kembali menemukan momentum pertumbuhan dalam beberapa tahun ke depan.
Sumber:
Laporan keuangan PT HM Sampoerna Tbk 2025, keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia, Bloomberg Technoz, Kontan, dan laporan riset analis pasar.