- Saham VIVA dibuka naik 2,63% ke level Rp39 pada perdagangan Selasa (19/5/2026) di tengah pasar yang masih volatil.
- Kenaikan saham lebih dipengaruhi sentimen trading dan aktivitas spekulatif karena perseroan menegaskan tidak ada aksi korporasi material terbaru.
- Investor kini menunggu katalis berikutnya dari kinerja keuangan, perkembangan bisnis digital, dan potensi pemulihan belanja iklan sektor media.

Saham PT Visi Media Asia Tbk (VIVA) kembali jadi perhatian pelaku pasar di awal perdagangan Bursa Efek Indonesia hari ini, Selasa 19 Mei 2026. Baru sesi pembukaan saja, saham emiten media milik Grup Bakrie ini langsung bergerak naik dan cukup aktif diperdagangkan. VIVA dibuka di level Rp39 per saham atau naik sekitar 2,63% dibanding penutupan sebelumnya di Rp38. Walaupun kenaikannya belum terlalu besar, pergerakan ini cukup menarik karena terjadi di tengah kondisi IHSG yang masih bergerak hati-hati.
Pasar memang masih dibayangi berbagai sentimen global, mulai dari arah suku bunga Amerika Serikat sampai pergerakan dolar AS yang kembali menguat. Akibatnya, banyak investor masih memilih wait and see. Tapi di tengah kondisi itu, saham-saham second liner seperti VIVA justru kembali ramai diperhatikan trader harian karena volatilitasnya yang tinggi.
Kalau melihat beberapa bulan terakhir, pergerakan saham VIVA memang cukup ekstrem. Kadang bisa naik tajam dalam waktu singkat, lalu terkoreksi cukup dalam hanya dalam beberapa sesi perdagangan. Hal ini membuat saham VIVA sering jadi incaran trader jangka pendek yang mencari momentum cepat.
Menariknya, manajemen VIVA sebelumnya sudah memberikan klarifikasi ke Bursa Efek Indonesia bahwa tidak ada aksi korporasi material ataupun informasi khusus yang menjadi penyebab volatilitas saham mereka. Perseroan juga menyebut belum ada rencana perubahan pemegang saham pengendali maupun langkah strategis besar dalam waktu dekat. Artinya, kenaikan harga saham saat ini lebih banyak dipengaruhi sentimen pasar dan aktivitas perdagangan dibanding faktor fundamental baru.
Meski begitu, bukan berarti investor mengabaikan prospek bisnis VIVA. Beberapa pelaku pasar mulai melihat peluang dari sektor media yang berpotensi pulih seiring membaiknya belanja iklan nasional. Momentum event olahraga internasional dan agenda politik daerah pada semester kedua 2026 juga dianggap bisa menjadi katalis positif bagi industri televisi dan media digital.
VIVA sendiri punya aset media yang cukup dikenal di Indonesia seperti ANTV, tvOne, dan portal VIVA.co.id. Tantangan terbesar perusahaan saat ini adalah bagaimana mengembangkan monetisasi digital di tengah perubahan perilaku penonton yang semakin bergeser ke platform online dan streaming.
Di sisi lain, status VIVA yang masuk papan pemantauan khusus BEI juga membuat investor tetap harus berhati-hati. Saham dengan volatilitas tinggi memang bisa memberikan peluang cuan cepat, tapi risikonya juga tidak kecil. Pergerakan harga bisa berubah drastis hanya karena sentimen pasar atau aktivitas spekulatif.
Sampai saat ini juga belum ada update terbaru dari analis maupun sekuritas besar terkait target harga saham VIVA. Namun sebagian trader mulai melihat level harga saat ini cukup menarik untuk trading jangka pendek, terutama jika volume transaksi terus meningkat dalam beberapa sesi ke depan.
Untuk sementara, pelaku pasar masih akan memantau apakah VIVA mampu bertahan di zona hijau hingga penutupan perdagangan hari ini. Selain itu, investor juga menunggu laporan keuangan berikutnya dan perkembangan bisnis digital perusahaan yang bisa menjadi penentu arah saham ke depan.
Sumber: Bursa Efek Indonesia (BEI), Investing.com, keterbukaan informasi PT Visi Media Asia Tbk, Indo Premier, dan data pasar saham 19 Mei 2026.