- Niramas Utama (JELI) resmi memasuki masa bookbuilding IPO dengan target menghimpun dana hingga Rp392 miliar melalui penawaran 350 juta saham baru.
- Produsen Inaco menawarkan saham di kisaran Rp900–Rp1.120 per saham, dengan fokus memperkuat ekspansi bisnis dan mendukung pertumbuhan jangka panjang.
- Kehadiran JELI menjadi salah satu IPO yang paling diperhatikan pada 2026, didukung kekuatan merek Inaco dan meningkatnya minat investor terhadap sektor konsumsi yang defensif.
Pasar modal Indonesia kembali kedatangan calon emiten baru yang cukup menarik perhatian investor. Kali ini giliran PT Niramas Utama Tbk, perusahaan di balik merek Inaco yang sudah lama dikenal masyarakat lewat produk nata de coco, jelly, pudding, dan berbagai makanan berbasis kelapa lainnya. Perusahaan resmi memasuki masa bookbuilding untuk penawaran umum perdana saham atau IPO dengan kode saham JELI.
Melalui aksi korporasi ini, Niramas Utama menargetkan perolehan dana segar hingga sekitar Rp392 miliar. Dalam prospektus awal yang telah dipublikasikan, perusahaan menawarkan sebanyak 350 juta saham baru kepada publik dengan kisaran harga Rp900 hingga Rp1.120 per saham. Masa bookbuilding berlangsung pada 15 hingga 22 Juni 2026 sebelum nantinya memasuki tahapan penawaran umum dan pencatatan saham di Bursa Efek Indonesia.
Kehadiran JELI menjadi angin segar bagi pasar IPO Indonesia yang sepanjang tahun ini belum terlalu ramai. Sejumlah perusahaan diketahui masih memilih menunggu momentum yang lebih ideal untuk melantai di bursa. Di tengah kondisi tersebut, langkah Niramas Utama menunjukkan bahwa masih ada perusahaan yang optimistis terhadap prospek pasar modal domestik.
Bagi investor ritel, nama Inaco tentu bukan nama asing. Produk-produknya sudah lama tersedia di supermarket, minimarket, hingga berbagai jaringan distribusi makanan di Indonesia. Kekuatan merek yang telah dikenal luas menjadi salah satu nilai tambah yang membuat IPO ini menarik untuk dicermati. Selain itu, sektor makanan dan minuman juga dikenal sebagai sektor yang relatif defensif karena produknya tetap dibutuhkan masyarakat dalam berbagai kondisi ekonomi.
Meski demikian, sebagai emiten yang baru akan melantai di bursa, saham JELI masih belum memiliki cakupan riset yang luas dari analis pasar modal. Belum ada target harga maupun rekomendasi resmi dari sekuritas besar yang dipublikasikan ke publik. Karena itu, perhatian investor saat ini lebih banyak tertuju pada valuasi yang ditawarkan perusahaan, prospek pertumbuhan bisnis ke depan, serta bagaimana manajemen akan menggunakan dana hasil IPO untuk memperkuat ekspansi usaha.
Momentum IPO JELI juga datang ketika kondisi pasar saham Indonesia mulai menunjukkan tanda-tanda stabilisasi. Setelah sempat dibayangi ketidakpastian global dan dinamika suku bunga internasional, minat investor terhadap saham-saham sektor konsumsi mulai kembali meningkat. Dalam situasi seperti ini, perusahaan dengan merek kuat dan bisnis yang sudah mapan sering kali mendapat perhatian lebih besar dari pelaku pasar.
Ke depan, beberapa faktor akan menjadi fokus utama investor. Pertama adalah hasil akhir bookbuilding yang akan menentukan harga final IPO. Kedua adalah tingkat permintaan investor selama masa penawaran umum, apakah mampu mencatatkan oversubscription atau tidak. Ketiga adalah performa saham JELI saat debut di Bursa Efek Indonesia yang akan menjadi indikator awal bagaimana pasar menilai prospek perusahaan.
Pada akhirnya, IPO Niramas Utama bukan hanya menjadi langkah penting bagi perusahaan untuk mendapatkan pendanaan baru, tetapi juga menjadi ujian apakah pasar masih memiliki selera yang kuat terhadap emiten sektor konsumsi di tengah berbagai tantangan ekonomi saat ini. Dengan nama besar Inaco yang sudah dikenal luas dan posisi bisnis yang cukup solid, saham JELI menjadi salah satu IPO yang layak masuk radar pengamatan investor pada pertengahan tahun 2026.
Sumber:
Prospektus Awal PT Niramas Utama Tbk (JELI) melalui e-IPO Indonesia
Bursa Efek Indonesia (BEI)
IDN Financials
detikFinance
Publikasi dan keterbukaan informasi PT Niramas Utama Tbk periode Juni 2026.