- SGER menargetkan laba bersih Rp500 miliar dan pendapatan Rp10 triliun pada 2026, didukung ekspansi bisnis serta kontrak ekspor batu bara ke Vietnam dan Bangladesh.
- Diversifikasi menjadi fokus utama perseroan, termasuk pengembangan bisnis hidrogen peroksida, manganese ore, dan petroleum coke untuk mengurangi ketergantungan pada batu bara.
- Investor menantikan sejumlah katalis penting, seperti operasional pabrik hidrogen peroksida pada kuartal III-2026 dan realisasi pertumbuhan laba dari lini bisnis baru.
PT Sumber Global Energy Tbk (SGER) tampaknya tidak ingin hanya bergantung pada bisnis batu bara untuk menopang pertumbuhan di masa depan. Di tengah tantangan industri batu bara yang semakin dinamis, perusahaan ini justru memasang target yang cukup ambisius untuk tahun 2026, yakni membukukan pendapatan hingga Rp10 triliun dan laba bersih sebesar Rp500 miliar.
Target tersebut menunjukkan optimisme manajemen terhadap prospek bisnis perseroan, terutama setelah berbagai langkah diversifikasi mulai menunjukkan perkembangan yang menjanjikan. Selama ini SGER dikenal sebagai perusahaan yang bergerak di bidang perdagangan batu bara, namun kini perusahaan mulai memperluas portofolio bisnisnya ke sektor-sektor lain yang dinilai memiliki potensi pertumbuhan tinggi.
Salah satu langkah yang paling menarik perhatian adalah pengembangan bisnis hidrogen peroksida melalui proyek PT Hidrogen Peroxida Indonesia. Proyek ini disebut telah mencapai progres pembangunan sekitar 97% dan ditargetkan mulai beroperasi secara komersial pada kuartal ketiga 2026. Jika berjalan sesuai rencana, pabrik tersebut dapat menjadi sumber pendapatan baru yang tidak bergantung langsung pada naik turunnya harga batu bara global.
Selain itu, SGER juga mulai masuk ke perdagangan manganese ore dan petroleum coke atau petcoke. Kedua komoditas ini dinilai memiliki prospek pasar yang cukup menarik, terutama karena permintaan dari sektor industri masih relatif kuat. Dengan menambah lini usaha baru, perusahaan berharap dapat menciptakan sumber pendapatan yang lebih beragam sekaligus memperkuat ketahanan bisnis dalam jangka panjang.
Meski melakukan diversifikasi, batu bara tetap menjadi tulang punggung bisnis SGER. Perseroan telah mengamankan sejumlah kontrak ekspor ke Vietnam dan Bangladesh, dua negara yang masih memiliki kebutuhan energi berbasis batu bara cukup besar. Di saat yang sama, anak usaha yang berbasis di Singapura dan Uni Emirat Arab juga terus didorong untuk mengikuti berbagai tender internasional guna memperluas jangkauan pasar ekspor.
Langkah ekspansi tersebut dilakukan di tengah kondisi pasar batu bara yang masih penuh tantangan. Harga batu bara global sepanjang tahun ini bergerak cukup fluktuatif seiring perlambatan permintaan dari beberapa negara Asia serta ketidakpastian ekonomi global. Situasi ini membuat banyak perusahaan batu bara mulai mencari sumber pertumbuhan baru agar tidak terlalu bergantung pada satu komoditas saja.
Dari sisi kinerja, SGER memang masih menghadapi tekanan. Pada kuartal pertama 2026, perusahaan membukukan pendapatan sekitar Rp2,5 triliun dengan laba bersih Rp76,8 miliar. Angka tersebut sedikit lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Namun manajemen optimistis kinerja akan membaik pada paruh kedua tahun ini, terutama setelah kontribusi dari kontrak-kontrak baru dan bisnis non-batu bara mulai terlihat.
Bagi investor, transformasi yang sedang dilakukan SGER menjadi cerita menarik untuk diikuti. Jika strategi diversifikasi berjalan mulus dan proyek hidrogen peroksida berhasil beroperasi sesuai jadwal, perusahaan berpeluang memiliki fondasi bisnis yang lebih kuat dan tidak terlalu rentan terhadap siklus komoditas batu bara. Tentu saja, pasar masih akan menunggu bukti nyata dari realisasi target-target tersebut, tetapi arah yang ditempuh perusahaan menunjukkan upaya serius untuk menciptakan pertumbuhan yang lebih berkelanjutan.
Dalam beberapa bulan ke depan, perhatian investor kemungkinan akan tertuju pada perkembangan operasional pabrik hidrogen peroksida, realisasi kontrak ekspor batu bara, ekspansi bisnis manganese ore dan petcoke, serta kemampuan perusahaan menjaga profitabilitas di tengah kondisi pasar komoditas yang masih berfluktuasi. Jika semua berjalan sesuai rencana, target laba Rp500 miliar pada 2026 bukanlah sesuatu yang mustahil untuk dicapai.
Sumber:
Keterbukaan informasi dan paparan publik PT Sumber Global Energy Tbk (SGER).
Kontan Investasi, laporan mengenai strategi diversifikasi dan prospek bisnis SGER.
RCTI+ News, laporan perkembangan proyek hidrogen peroksida dan target kinerja 2026.
IPOT News, laporan keuangan kuartal I-2026 SGER.
BCA Sekuritas, ulasan pasar terkait target laba dan prospek perseroan.
Investor.id, perkembangan harga batu bara global dan sentimen industri energi.