- Saham MERK menguat sekitar 1% di perdagangan 26 Mei 2026 setelah pasar merespons positif pembagian dividen Rp275 per saham.
- Investor mulai melirik kembali sektor farmasi karena dinilai lebih defensif di tengah kondisi IHSG yang masih fluktuatif.
- Pelaku pasar kini menunggu katalis berikutnya seperti laporan keuangan semester I 2026 dan perkembangan ekspansi produk kesehatan baru MERK.

Saham PT Merck Tbk (MERK) lagi ikut jadi perhatian investor di perdagangan Bursa Efek Indonesia hari Selasa, 26 Mei 2026. Di tengah kondisi pasar yang masih naik turun dan IHSG bergerak mixed, saham emiten farmasi ini justru terlihat cukup solid. Sampai sesi perdagangan berlangsung, saham MERK sempat naik sekitar 1% ke area Rp4.050 dari penutupan sebelumnya di Rp4.010 per saham.
Kenaikan ini bukan tanpa alasan. Salah satu sentimen paling besar datang dari hasil Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) perusahaan yang baru saja menyetujui pembagian dividen sebesar Rp275 per saham. Buat investor yang suka saham dengan pembagian dividen rutin, kabar ini jelas menarik. Apalagi yield dividen MERK tergolong lumayan besar dibanding beberapa emiten defensif lain di sektor kesehatan.
Selain faktor dividen, investor juga mulai melihat fundamental perusahaan yang masih cukup stabil. Di tengah tekanan ekonomi global dan nilai tukar rupiah yang masih fluktuatif, MERK tetap mampu menjaga performa bisnisnya. Pendapatan dan laba perusahaan dalam laporan keuangan terakhir masih menunjukkan pertumbuhan, terutama dari bisnis healthcare dan consumer health yang permintaannya relatif stabil.
Sektor kesehatan sendiri memang mulai kembali dilirik pasar dalam beberapa waktu terakhir. Saat saham komoditas dan teknologi bergerak lebih volatil, investor biasanya mencari sektor defensif seperti farmasi. Karena itu, saham-saham healthcare termasuk MERK mulai mendapat aliran dana lagi, terutama dari investor yang mencari kestabilan jangka menengah.
Kalau dilihat dari valuasi, beberapa pelaku pasar juga menilai saham MERK masih cukup murah. Price to earnings ratio (PER) saham ini masih berada di kisaran single digit, yang artinya valuasinya belum terlalu mahal dibanding beberapa emiten regional lain. Ditambah lagi, indikator teknikal jangka pendek mulai menunjukkan sinyal akumulasi beli.
Meski begitu, pasar tetap akan mencermati beberapa tantangan ke depan. Salah satunya adalah risiko kenaikan biaya bahan baku impor jika rupiah melemah. Selain itu, investor juga menunggu apakah pertumbuhan laba perusahaan bisa terus berlanjut di semester pertama 2026 nanti.
Di sisi lain, kondisi pasar saham Indonesia secara umum masih cenderung hati-hati. Investor global masih menunggu arah suku bunga Amerika Serikat dan perkembangan arus dana asing di emerging market. Karena itu, saham defensif seperti MERK bisa saja tetap menarik kalau volatilitas pasar belum mereda.
Untuk saat ini, perhatian trader akan tertuju pada realisasi pembayaran dividen MERK, laporan keuangan semester pertama 2026, dan potensi ekspansi produk kesehatan baru yang bisa jadi katalis berikutnya bagi saham ini.
Sumber:
Investing Indonesia
IDN Financials
Stockbit
Bloomberg Technoz