- Presiden Komisaris HEAL, Hasmoro, memborong lebih dari 1 juta saham HEAL dengan nilai hampir Rp1 miliar di tengah harga saham yang masih terkoreksi.
- Aksi beli saham orang dalam ini dianggap sebagai sinyal optimisme manajemen terhadap prospek jangka panjang bisnis rumah sakit Hermina.
- Investor kini menunggu kinerja semester I-2026, ekspansi rumah sakit baru, dan potensi lanjutan aksi akumulasi saham oleh manajemen sebagai katalis berikutnya.
Saham rumah sakit belakangan memang lagi nggak terlalu jadi primadona di Bursa Efek Indonesia. Setelah sempat bersinar saat era pandemi, banyak saham sektor kesehatan kini bergerak lebih kalem bahkan cenderung turun. Tapi justru di tengah kondisi seperti itu, ada aksi menarik dari salah satu petinggi emiten rumah sakit besar, yaitu HEAL atau PT Medikaloka Hermina Tbk.
Presiden Komisaris HEAL, Hasmoro, diketahui baru saja memborong lebih dari 1 juta saham HEAL dalam beberapa transaksi yang dilakukan pada pertengahan Mei 2026. Dari keterbukaan informasi BEI, total saham yang dibeli mencapai 1.000.900 lembar dengan harga rata-rata sekitar Rp985 per saham. Kalau dihitung-hitung, dana yang dikeluarkan hampir menyentuh Rp1 miliar.
Aksi seperti ini biasanya langsung jadi perhatian investor. Soalnya, ketika orang dalam perusahaan membeli saham perusahaannya sendiri, pasar sering menganggap itu sebagai sinyal bahwa manajemen masih percaya prospek bisnis ke depan bakal bagus. Apalagi pembelian ini dilakukan saat harga saham HEAL masih terkoreksi cukup dalam sepanjang tahun ini.
Secara year-to-date, saham HEAL memang masih berada di zona merah. Tekanan datang dari banyak faktor, mulai dari normalisasi bisnis rumah sakit pasca pandemi, isu tarif BPJS, sampai biaya operasional kesehatan yang ikut naik. Meski begitu, Hermina masih dianggap punya fundamental yang cukup solid dibanding beberapa emiten rumah sakit lainnya.
Hermina sendiri dikenal agresif melakukan ekspansi rumah sakit baru di berbagai daerah. Selain itu, perusahaan juga terus mendorong layanan spesialis dan pasien non-BPJS yang margin keuntungannya biasanya lebih tinggi. Faktor-faktor ini yang membuat sebagian analis masih cukup optimistis terhadap prospek jangka panjang HEAL.
Menariknya lagi, ini bukan pertama kali Hasmoro melakukan aksi borong saham. Dalam beberapa tahun terakhir, ia tercatat beberapa kali membeli saham HEAL ketika harga sedang turun. Banyak investor melihat langkah tersebut sebagai bentuk keyakinan bahwa valuasi saham HEAL saat ini sudah cukup menarik.
Di tengah kondisi IHSG yang masih naik turun karena sentimen global, sektor kesehatan memang mulai kembali dilirik sebagai sektor defensif. Saat pasar sedang penuh ketidakpastian, saham rumah sakit biasanya dianggap lebih stabil dibanding sektor yang sangat tergantung harga komoditas atau ekonomi global.
Sekarang perhatian investor akan tertuju pada laporan kinerja semester pertama 2026 dari Hermina. Pasar ingin melihat apakah pertumbuhan laba masih bisa terjaga dan apakah ekspansi rumah sakit baru mulai memberikan kontribusi lebih besar ke pendapatan perusahaan. Selain itu, aksi pembelian saham oleh Hasmoro juga bakal terus dipantau. Kalau aksi borong ini berlanjut, sentimen positif untuk saham HEAL bisa saja ikut menguat lagi.
Sumber:
Keterbukaan Informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), IDN Financials, Investortrust.id.