- Saham CBDK melemah sekitar 0,99% pada perdagangan Kamis (21/5) meski perusahaan mulai menjalankan buyback saham Rp250 miliar.
- Investor masih mencermati tekanan sektor properti dan aksi divestasi saham oleh afiliasi pemegang saham pengendali dalam beberapa bulan terakhir.
- Meski harga saham terkoreksi dalam sepanjang 2026, sejumlah analis masih mempertahankan rekomendasi beli berkat prospek kawasan CBD PIK2 dan potensi recurring income ke depan.

Pasar lagi belum ramah buat saham properti, dan itu juga terasa di pergerakan saham PT Bangun Kosambi Sukses Tbk atau CBDK pada perdagangan Kamis, 21 Mei 2026. Sampai sesi siang, saham CBDK masih bergerak melemah ke area Rp4.010 per saham, turun sekitar 0,99% dibanding penutupan sebelumnya. Walau koreksinya tidak terlalu dalam dalam satu hari, tekanan yang dialami saham ini sebenarnya sudah berlangsung cukup panjang sejak awal tahun.
Yang menarik, pelemahan saham CBDK terjadi justru ketika perusahaan sedang menjalankan aksi buyback atau pembelian kembali saham senilai maksimal Rp250 miliar. Biasanya, buyback dipandang sebagai sinyal positif karena menunjukkan manajemen merasa harga sahamnya sudah terlalu murah. Dalam kasus CBDK, manajemen juga secara terbuka menyebut harga saham saat ini belum mencerminkan fundamental perusahaan.
CBDK sendiri bukan nama kecil di sektor properti. Emiten ini terafiliasi dengan pengembangan kawasan PIK2 yang beberapa tahun terakhir jadi salah satu proyek properti paling ambisius di Indonesia. Kawasan tersebut terus berkembang, mulai dari residensial, komersial, sampai proyek MICE dan hospitality yang sedang disiapkan untuk jadi sumber recurring income ke depan.
Sayangnya, sentimen pasar belum sepenuhnya mendukung. Sepanjang 2026, saham CBDK sudah turun cukup dalam. Investor terlihat masih berhati-hati terhadap saham properti premium, apalagi di tengah kondisi suku bunga yang masih relatif tinggi dan likuiditas pasar yang belum benar-benar pulih.
Tekanan juga datang dari aksi jual saham oleh beberapa pihak afiliasi pemegang saham pengendali dalam beberapa bulan terakhir. Pasar biasanya cukup sensitif terhadap aksi divestasi seperti ini karena dianggap bisa menambah tekanan suplai saham di pasar. Walaupun perusahaan tidak mengaitkan aksi tersebut dengan kondisi fundamental, sentimen psikologis investor tetap terpengaruh.
Di sisi lain, analis sebenarnya masih cukup optimistis terhadap prospek jangka panjang CBDK. Beberapa rumah riset masih mempertahankan rekomendasi beli dengan target harga yang jauh di atas posisi pasar saat ini. Optimisme itu datang dari potensi monetisasi kawasan CBD PIK2 yang masih besar, termasuk pengembangan area komersial dan kontribusi bisnis berulang dari fasilitas MICE dan hotel.
Kalau dilihat lebih luas, pergerakan CBDK juga tidak bisa dilepaskan dari kondisi IHSG yang belakangan masih cukup volatile. Saham-saham growth dan properti memang sedang berada dalam fase yang sulit. Investor asing pun masih aktif melakukan aksi jual di beberapa sektor berbasis ekspansi.
Buat trader jangka pendek, saham CBDK saat ini jelas masih masuk kategori high volatility. Tapi buat investor yang percaya pada story besar PIK2 dan pengembangan kawasan jangka panjang, koreksi harga sekarang justru dianggap sebagian pelaku pasar sebagai area akumulasi menarik. Tetap saja, semuanya kembali ke seberapa cepat perusahaan bisa membuktikan pertumbuhan marketing sales dan menjaga kepercayaan pasar di tengah tekanan sektor properti saat ini.
Sumber:
Kontan, Investing Indonesia, keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia, Babel Insight, dan laporan pasar harian BEI.