- Saham PT Industri Jamu dan Farmasi Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk (SIDO) melemah tipis pada sesi 2 Maret 2026, sejalan dengan koreksi IHSG di tengah tekanan sentimen global.
- Secara fundamental, kinerja 2025 tetap solid dengan laba bersih naik sekitar 5% dan penjualan tumbuh sekitar 4% menurut laporan keuangan perusahaan.
- Analis masih memasang target harga rata-rata di atas level pasar saat ini dan mempertahankan rekomendasi buy, dengan katalis berikutnya menunggu laporan kuartal I 2026 dan perkembangan ekspansi bisnis.

Pasar saham memang selalu penuh cerita, dan di awal pekan ini giliran saham PT Industri Jamu dan Farmasi Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk (SIDO) yang jadi sorotan. Pada sesi perdagangan reguler di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin 2 Maret 2026, SIDO ditutup melemah tipis di tengah tekanan yang juga melanda pasar secara keseluruhan.
Kalau melihat data perdagangan hari itu, saham SIDO bergerak di kisaran Rp525 sampai Rp540 dan akhirnya parkir di sekitar Rp535–Rp540 per saham. Jika dibandingkan dengan penutupan sebelumnya di Rp540, ini berarti ada koreksi harian sekitar minus 0,9% hingga hampir 2%, tergantung harga akhir yang dijadikan pembanding. Pergerakan ini sebenarnya tidak terlalu mengejutkan karena di hari yang sama Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) juga terkoreksi lebih dari 1% akibat sentimen global dan tekanan eksternal.
Menariknya, pelemahan ini terjadi bukan karena kinerja fundamental yang buruk. Justru sebaliknya. Berdasarkan laporan keuangan tahunan 2025 yang dipublikasikan perusahaan melalui keterbukaan informasi dan dirangkum oleh IDN Financials, laba bersih SIDO naik sekitar 4,97% menjadi kurang lebih Rp1,23 triliun, dari Rp1,17 triliun pada 2024. Penjualannya pun tumbuh sekitar 4% menjadi lebih dari Rp4 triliun. Artinya, secara bisnis inti, produsen Tolak Angin ini masih menunjukkan daya tahan yang cukup solid di tengah dinamika ekonomi.
Namun pasar saham sering kali bergerak bukan hanya karena angka laporan keuangan, melainkan juga karena sentimen. Pada hari itu, IHSG tertekan oleh kombinasi faktor global, termasuk ketidakpastian geopolitik dan pergerakan harga komoditas yang memicu aksi jual di berbagai sektor. Dalam situasi seperti ini, saham defensif seperti SIDO pun tetap bisa ikut terkoreksi, meski fundamentalnya relatif stabil.
Dari sisi analis, pandangan terhadap SIDO masih cukup konstruktif. Mengutip data konsensus analis yang dirangkum dari Investing.com, rata-rata target harga 12 bulan berada di kisaran Rp616 per saham, dengan estimasi tertinggi sekitar Rp735 dan terendah di sekitar Rp490. Mayoritas rekomendasi yang beredar masih berada di level buy, dengan alasan margin yang sehat dan posisi merek yang kuat di pasar herbal domestik serta ekspor yang mulai berkembang.
Lalu apa yang akan jadi penentu arah berikutnya? Investor kini menunggu laporan keuangan kuartal pertama 2026 sebagai katalis jangka pendek. Selain itu, setiap pembaruan dari manajemen terkait strategi ekspansi ekspor dan inovasi produk baru juga berpotensi menggerakkan harga. Di sisi lain, arah IHSG dan sentimen global tetap jadi faktor eksternal yang tak bisa diabaikan.
Untuk saat ini, cerita SIDO tampaknya lebih tentang kesabaran. Di tengah pasar yang fluktuatif, saham dengan fundamental stabil seperti ini sering kali butuh waktu sebelum kembali dilirik. Seperti biasa, pasar akan terus menimbang antara angka kinerja dan suasana global sebelum menentukan arah selanjutnya.
Sumber: Laporan keuangan dan keterbukaan informasi PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk; data harga saham Bursa Efek Indonesia; IDN Financials; Investing.com; serta pemberitaan pasar dari Warta Ekonomi dan Bloomberg Technoz.