- Laba bersih MYOR melonjak signifikan didorong turunnya harga bahan baku, meski penjualan sedikit melemah karena faktor musiman.
- Margin keuntungan membaik tajam, membuat kinerja profitabilitas lebih solid dibanding tahun sebelumnya.
- Analis masih bullish, namun pasar tetap mencermati risiko biaya energi dan daya beli serta menunggu katalis dari kinerja kuartal berikutnya.
Kalau kamu lagi mantau saham consumer di Bursa Efek Indonesia, nama Mayora (MYOR) belakangan ini cukup menarik buat diperhatikan. Gimana nggak, di saat banyak emiten masih struggling dengan tekanan biaya, MYOR justru berhasil mencatat lonjakan laba bersih yang cukup solid. Kuncinya? Satu hal yang klasik tapi powerful: harga bahan baku turun.
Di kuartal I-2026, Mayora berhasil membalikkan situasi yang tahun lalu sempat jadi beban. Kalau sebelumnya harga komoditas seperti kakao dan kopi sempat naik dan menekan margin, sekarang kondisinya lebih “bersahabat”. Dampaknya langsung terasa ke kinerja bottom line. Laba bersih MYOR dilaporkan naik sekitar 37% secara tahunan, meskipun dari sisi penjualan justru sedikit turun.
Nah ini yang menarik. Penjualan yang turun sekitar 4–5% YoY ternyata bukan masalah besar. Faktor musiman seperti pergeseran periode Lebaran jadi salah satu penyebabnya. Tapi yang bikin investor tetap happy adalah efisiensi biaya produksi yang jauh lebih baik. Margin laba kotor naik cukup signifikan, dari kisaran 21% ke atas menjadi sekitar 26%. Artinya, setiap rupiah penjualan sekarang menghasilkan profit yang lebih besar dibanding sebelumnya.
Kalau ditarik lebih dalam lagi, ini menunjukkan bahwa strategi Mayora dalam mengelola biaya dan rantai pasok mulai membuahkan hasil. Ditambah lagi dengan kondisi harga bahan baku global yang lebih stabil, kombinasi ini jadi booster yang cukup kuat buat profitabilitas.
Dari sisi analis, sentimen terhadap MYOR juga cenderung positif. Beberapa sekuritas seperti MNC Sekuritas masih mempertahankan rekomendasi “buy” dengan target harga di kisaran Rp2.400. Valuasinya dinilai masih menarik, apalagi kalau margin bisa tetap dijaga di level tinggi seperti sekarang.
Tapi tentu saja, bukan berarti tanpa risiko. Ada beberapa hal yang masih jadi perhatian pasar. Salah satunya adalah potensi kenaikan biaya energi yang bisa berdampak ke biaya distribusi dan kemasan. Selain itu, daya beli masyarakat juga belum sepenuhnya pulih, jadi pertumbuhan penjualan masih bisa tertahan di jangka pendek.
Kalau kita lihat dari sisi market secara keseluruhan, kondisi IHSG juga lagi nggak terlalu “ramah”. Pergerakannya cenderung sideways dengan tekanan dari investor asing dan faktor global seperti suku bunga dan nilai tukar rupiah. Jadi wajar kalau investor sekarang lebih selektif, termasuk dalam memilih saham consumer seperti MYOR.
Meski begitu, Mayora tetap punya positioning yang cukup defensif. Produk FMCG biasanya lebih tahan banting di tengah ketidakpastian ekonomi, apalagi brand Mayora sudah kuat baik di pasar domestik maupun ekspor.
Ke depan, ada beberapa hal yang bakal jadi perhatian trader dan investor. Yang pertama jelas keberlanjutan tren harga bahan baku—kalau tetap rendah, margin bisa terus terjaga. Kedua, perkembangan biaya energi global. Dan yang nggak kalah penting, kinerja penjualan setelah periode Lebaran serta laporan keuangan kuartal berikutnya.
Jadi, meskipun kondisi pasar lagi penuh tantangan, MYOR saat ini terlihat punya cerita yang cukup menarik: bukan dari pertumbuhan agresif, tapi dari efisiensi yang mulai matang.
Sumber: Laporan keuangan PT Mayora Indah Tbk, Kontan (insight & investasi), TradingView, riset analis MNC Sekuritas.